BAB I
PENDAHULUAN
Imunologi (kekebalan)
adalah suatu cabang ilmu yang mempelajari respon tubuh terhadap tantangan suatu
antigen. Mekanisme imunologi berperan pada pertahanan tubuh terhadap suatu
penyebab infeksi tetapi sekali-kali dapat juga menyebabkan kerusakan. Uji
imunologik sekarang sudah dipakai secara rutin di laboratorium. Dalam beberapa
hal cara-cara lain dalam menegakkan diagnosis penyakit dan untuk menentukan
cara perawatan penderita selanjutnya. Dengan ditemukannya teknologi yang
mutakhir, yang baru ditemukan beberapa tahun yang disebut teknologi hibridoma,
maka terjadilah revolusi dalam bidang imunologi. Teknik ini memungkinkan
produksi dalam bidang antibodi terhadap suatu determinasi antigen saja. Teknik
ini sekarang dapat diperoleh antibodi yang sangat homogen dan khas dalam
jumlah yang tidak terbatas. Pada masa ini imunologi meliputi semua reaksi,
proses yang menguntungkan maupun merugikan. Secara singkat imunologi memiliki
peranan yang luas meliputi konsep pengenalan, kekhasan, dan memori.
Antibodi adalah protein yang dapat ditemukan pada darah atau kelenjar tubuh vertebrata lainnya, dan digunakan oleh sistem
kekebalan tubuh untuk mengidentifikasikan dan menetralisasikan benda asing seperti bakteri dan virus. Produksi antibodi yang terjadi pada
mencit putih berdasarkan immunoglobin (Ig) dibentuk oleh sel plasma, berasal
dari poliferasi sel B akibat kontak dengan antigen. Antibodi terbentuk secara
spesifik ini akan mengikat antigen baru lainnya yang sejenis. Fungsi antibodi
berikatan dengan resptor permukaan dari virus dan mencegah masuk kedalam sel
(inactivation), selain itu berikatan dengan toxin yang larut dan menyebabkan
presipitasi (neutralization), merangsang induksi fagositosis dan aktivasi
komplement sistem menyebabkan sel lisis setelah serangan mikroorganisme.
1.2
Rumusan Masalah
Adapun
Rumusan Masalah dari makalah ini adalah sebagai berikut :
- Bagaimana sistem Immun pada hewan mencit putih setelah di beri serum darah mencit ?
- Bagaimana proses pembentukan anti bodi yang terjadi pada mencit putih ?
1.3
Tujuan
Adapun
Tujuan dari makalah ini adalah sebagai berikut :
- Dapat mengetahui bagaimana sistem Immun pada hewan mencit putih setelah di beri serum darah mencit.
- Dapat mengetahui bagaimana proses pembentukan anti bodi yang terjadi pada mencit putih.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1.1. MENCIT
Mencit (Mus musculus) adalah anggota Muridae (tikus-tikusan) yang
berukuran kecil. Mencit mudah dijumpai di rumah-rumah dan dikenal sebagai hewan
pengganggu karena kebiasaannya menggigiti mebel dan barang-barang kecil lainnya, serta bersarang di
sudut-sudut lemari. Hewan ini diduga sebagai mamalia terbanyak kedua di
dunia, setelah manusia. Mencit sangat mudah
menyesuaikan diri dengan perubahan yang dibuat manusia, bahkan jumlahnya yang
hidup liar di hutan barangkali lebih sedikit daripada yang tinggal di
perkotaan. Mencit percobaan (laboratorium) dikembangkan dari mencit, melalui
proses seleksi. Sekarang mencit
juga dikembangkan sebagai hewan peliharaan.
1.2. PENGGUNAAN
Mencit kadang-kadang disimpan sebagai hewan
peliharaan dan mewah. Namun, sebagian besar tikus diperoleh dari peternak hewan
laboratorium untuk digunakan dalam penelitian biomedis, pengujian, dan
pendidikan. Bahkan, tujuh puluh persen dari semua hewan yang digunakan dalam
kegiatan biomedis tikus. Melebihi dari 1000 saham dan strain tikus telah
dikembangkan, serta ratusan mutan saham yang digunakan sebagai model penyakit
manusia. Dalam hal genetika, mouse adalah mamalia dicirikan paling lengkap.
1.3.
ANTIBODI
Interaksi antigen dengan antibodi bersifat non-covalen dan pada umumnya
sangat spesifik. Antibodi hanya diproduksi oleh limfosit B dan disebarkan
keseluruh tubuh secara eksositosis dalam bentuk plasma dan cairan sekresi.
Mereka membentuk sel B antigen reseptor yang spesifik. Antibodi ditemukan dalam
plasma juga berikatan dengan reseptor spesifik untuk daerah konstan (Fc) dari
imunoglobulin.
Setiap rantai pendek (VL) berat molekulnya
sekitar 25.000 dalton, dimana ada dua jenis rantai pendek yaitu lambda (λ) atau
kappa (κ). Pada manusia terdiri dari 60% adalah kappa dan 40% lambda,
sedangkan pada mencit 95% kappa dan 5% lambda. Satu molekul antibodi hanya
mengandung lambda saja atau kappa saja dan tidak pernah keduanya.
Setiap rantai panjang (VH) mempunyai berat molekul sekitar 50.000 dalton, yang
terdiri dari daerah variabel (V) dan konstan ©. Rantai panjang (VH) dan rantai
pendek (VL) terdiri dari sejumlah homolog yang mengandung kelompok sequence
asam amino yang mirip tetapi tidak identik. Unit-unit homolog tersebut terdiri
dari 110 asam amino yang disebut domain imunoglobulin. Rantai panjang
mengandung satu domain variabel (VH) dan tiga dari empat domain konstan lainnya
(CH1, CH2, CH3, CH4, bergantung pada klas dan isotipe antibodi). Daerah antara
CH1 dan CH2 disebut daerah hinge (engsel), yang memudahkan pergerakan /
fleksibilitas dari lengan Fab dari bentuk Y molekul anti bodi tersebut. Hal itu
menyebabkan lengan tersebut dapat membuka atau menutup untuk dapat mengikat dua
antigen determinan yang terpisahkan oleh jarak diantar kedua lengan tersebut.
Rantai panjang juga dapat meningkatkan fungsi aktifitas dari molekul antibodi.
Ada 5 klas antibodi yaitu: IgG, IgA, IgM, IgE dan IgD, yang dibedakan menurut
jenis rantai panjangnya masing-masing yaitu: γ, α, μ, ε dan δ. Klas antibodi
IgD, IgE dan IgG terbentuk dari struktur tunggal, sedangkan IgA mengandung dua
atau tiga unit dan IgM terdiri dari 5 yang dihubungkan dengan sambungan
disulfida. Antibodi IgG dibagi menjadi 4 subklas (disebut juga isotipe) yaitu
IgG1, IgG2, IgG3, dan IgG4.
Struktur dan fungsi IgG dapat dipecah oleh enzim pepsin dan papain menjadi
beberapa fragmen yang mempunyai sifat biologi yang khas. Perlakuan dengan
pepsin dapat memisahkan Fab2 dari daerah persambungan hinge (engsel). Karena
Fab2 adalah merupakan molekul bivalen sehingga ia dapat mempresipitasi antigen.
Enzim papain dapat memutus daerah hinge diantara CH1 dan CH2 untuk membentuk
dua fragmen yang identik dan dapat bertahan dengan reaksi antigen-antibodi dan
juga satu non-antigen-antibodi fragmen yaitu daerah fragmen kristalisabel (Fc).
Bagian Fc ini adalah glikosilat yang mempunyai banyak fungsi efektor (yaitu:
binding komplemen, binding dengan sel reseptor pada makrofag dan monosit dan
sebagainya) dan dapat digunakan untuk membedakan satu klas antibodi dengan
lainnya.
Faktor yang Mempengaruhi Pembentukan Antibodi
Perbedaan dalam respon imun primer dan sekunder , kadar antibodi
yang dibentuk, lamanya lag phase dan lain-lain sangat bergantung pada beberapa
faktor, antara lain :
1) Jenis antigen
2) Dosis antigen yang diberikan ke darah
3) Cara masuk antigen ke tubuh
4) Sensitivitas teknik yang digunakan untuk mengukur antibodi
Pembentukan antibodi tidak berlangsung tanpa batas, ada mekanisme
kontrol yang mengendalikan dan menghentikaan pembentukan antibodi berlebihan. Beberapa di antara mekanisme control itu
adalah berkurangya kadar antigen, pengaturan oleh idiotip, dan penekanan oleh
sel T penekan.
Cara melihat apakah antibody sudah terbentuk
dengan cara meneteskan serum ayam pada darah segar mencit. Jumlah leukosit
meningkat karena terjadi pembelahan sel limfosit T helper. Limfa ada yang
meningkat beratnya.
1.4.
Imunoglobulin A (IgA).
Imunoglobulin A adalah
antibodi sekretori, ditemukan dalam saliva, keringat, air mata, cairan mukosa,
susu, cairan lambung dan sebgainya. Yang aktiv adalah bentuk dimer (yy),
sedangkan yang monomer (y) tidak aktif. Jaringan yang mensekresi bentuk bentuk
dimer ini ialah sel epithel yang bertindak sebagai reseptor IgA, yang kemudian
sel tersebut bersama IgA masuk kedalam lumen.
1.5.
Imunoglobulin D (IgD)
Imunoglobulin D ini berjumlah sedikit dalam serum. IgD adalah penenda permukaan
pada sel B yang matang. IgD dibentuk bersama dengan IgM oleh sel B normal. Sel
B membentuk IgD dan IgM karena untuk membedakan unit dari RNA.
1.6.
Imunoglobulin E (IgE)
Imunoglobulin E ditemukan sedikit dalam serum, terutama kalau berikatan dengan
mast sel dan basophil secara efektif, tetapi kurang efektif dengan eosinpphil.
IgE berikatan pada reseptor Fc pada sel-sel tersebut. Dengan adanya antigen
yang spesifik untuk IgE, imunoglobulin ini menjadi bereaksi silang untuk memacu
degranulasi dan membebaskan histamin dan komponen lainnya sehingga
menyebabkan reaksi anaphylaksis. IgE sangat
berguna untuk melawan parasit.
1.7.
Imunoglobulin M (IgM)
Imunoglobulin M ditemukan pada permukaan sel B yang matang. IgM mempunyai waktu
paroh biologi 5 hari, mempunyai bentuk pentamer dengan lima valensi.
Imunoglobulin ini hanya dibentuk oleh faetus. Peningkatan jumlah IgM
mencerminkan adanya infeksi baru atai adanya antigen (imunisasi/vaksinasi). IgM
adalah merupakan aglutinin yang efisien dan merupakan isohem- aglutinin
alamiah. IgM sngat efisien dalam mengaktifkan komplemen. IgM dibentuk setelah
terbentuk T-independen antigen, dan setelah imunisasi dengan T-dependent
antigen.
1.8.
Imunoglobulin G (IgG)
Imunoglobulin G adalah divalen antigen. Antibodi
ini adalah imunoglobulin yang paling sering/banyak ditemukan dalam sumsum
tulang belakang, darah, lymfe dan cairan peritoneal. Ia mempunyai waktu paroh
biologik selama 23 hari dan merupakan imunitas yang baik (sebagai serum
transfer). Ia dapat mengaglutinasi antigen yang tidak larut. IgG adalah
satu-satunya imunoglobulin yang dapat melewati plasenta.
1.9.
ANTIGEN
Antigen
merupakan bahan asing yang dikenal dan merupakan target yang akan dihancurkan
oleh sistem kekebalan tubuh. Antigen ditemukan di permukaan seluruh sel, tetapi
dalam keadaan normal, sistem kekebalan seseorang tidak bereaksi terhadap selnya
sendiri. Sehingga dapat dikatakan antigen merupakan sebuah zat yang
menstimulasi tanggapan imun,
terutama dalam produksi antibodi.
Antigen biasanya protein
atau polisakarida, tetapi dapat juga
berupa molekul lainnya, termasuk molekul kecil (hapten)
dipasangkan ke protein-pembawa.
Pada umumnya,
antigen-antigen dapat di klasifikasikan menjadi dua jenis utama, yaitu antigen
eksogen dan antigen endogen. Antigen eksogen adalah antigen-antigen yang
disajikan dari luar kepada hospes dalam bentuk mikroorganisme,tepung
sari,obat-obatan atau polutan. Antigen ini
bertanggungjawab terhadap suatu spektrum penyakit manusia, mulai dari penyakit infeksi sampai ke
penyakit-penyakit yang dibenahi secara immologi, seperti pada asma. Virus
influenza misalnya yang merupakan penyebab utama epidemik penyakit saluran
pernapasan pada manusia, terdapat di alam dalam berbagai jenis antigenic yang
dikenal sebagai A, B, dan C.
Antigen endogen
adalah antigen yang terdapat didalam tubuh dan meliputi antigen-antigen
berikut:antigen senogeneik (heterolog), antigen autolog dan antigen idiotipik
atau antigen alogenik (homolog). Antigen senogeneik adalah antigen yang
terdapat dalam aneka macam spesies yang secara filogenetik tidak ada
hubungannya, antigen-antigen ini penting untuk mendiagnosa penyakit.
1.10. SERUM
Serum secara
definisi adalah suatu cairan tubuh yang mengandung sistem kekebalan terhadap
suatu kuman yang apabila dimasukkan ke dalam tubuh seseorang, maka orang
tersebut akan mempunyai kekebalan terhadap kuman yang sama (imunitas pasif –
red). Fungsi utama serum adalah mengobati suatu penyakit yang diakibatkan oleh
kuman.
Mana yang dapat
kita pilih untuk pembentukan kekebalan tubuh. Tergantung kondisi dan keadaan.
Jika kita menginginkan pencegahan terhadap suatu penyakit, maka kita boleh
memilih vaksin. Namun apabila kita telah terkena oleh suatu penyakit, maka kita
pilih serum.
Akan tetapi
apabila kita hanya menggunakan serum, maka sifatnya hanya mengobati dan tidak
meninggalkan imunitas terhadap penyakit yang diobatinya. Jadi, kemungkinan
besar kita akan bisa terkena penyakit yang sama berulang kali. Oleh karena itu,
selain pemberian serum apabila tubuh kita sudah sembuh dari penyakit segeralah
lakukan vaksinasi.
Serum dibuat
dengan cara memasukkan vaksin ke dalam tubuh suatu hewan (sapi, kuda, kambing,
dll) sehingga kekebalan tubuhnya memberikan respon terhadap vaksin tersebut.
Setelah diuji dan hasilnya menunjukkan bahwa hewan tersebut telah kebal
terhadap vaksin yang dimasukkan, maka dilakukan pengambilan darah melalui vena
leher (vena jugularis). Setelah diambil, darah kemudian dipisahkan antara
plasma dengan sel-sel dan protein darahnya. Plasma darah kemudian dimurnikan
menjadi serum. Serum inilah yang akan memberikan kekebalan kepada seseorang
yang melakukan imunisasi dengan serum.
Serum karena
jumlahnya tidak terlalu banyak seperti vaksin, maka tidak perlu kita
kelompokkan. Contoh serum yang sudah dapat dibuat di Indonesia adalah serum
anti tetanus, serum anti difteri, serum anti bisa ular, dan serum anti rabies.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Lokasi Penelitian dan Waktu Penelitian
Penelitian ini
dilaksanakan di Laboratorium Kandang Jurusan Biologi Fakultas FMIPA Universitas Negeri Medan Jln.Willem Iskandar Psr. V Medan Estate, yang
dimulai pada bulan Februari - April 2011.
3.2 Alat dan Bahan
ALAT
No
|
Nama
Alat
|
Jumlah
|
1
|
Kandang
|
1 buah
|
2
|
Kotak kecil sebagai tempat makan
|
1 buah
|
3
|
Botol tempat air minum
|
1 buah
|
4
|
Gunting
|
1 buah
|
5
|
Timbangan digital
|
1 buah
|
6
|
Jarum suntik 5 ml dan 1 ml
|
Masing- masing 1 buah
|
7
|
Pisau kecil
|
1 buah
|
8
|
Baki bedah
|
1 buah
|
9
|
Gunting bedah
|
1 buah
|
10
|
Kawat kasa
|
1 meter
|
11
|
Tabung reaksi
|
8 buah
|
12
|
Pipet volum
|
1 buah
|
13
|
Mikroskop
|
1 buah
|
14
|
Tusuk gigi untuk mengaduk darah
|
3 buah
|
15
|
Objek glass
|
3 buah
|
16
|
Pipet tetes
|
1 buah
|
17
|
Tissue dan kain serbet
|
Secukupnya
|
18
|
Pinset
|
1 buah
|
BAHAN
No
|
Nama
Bahan
|
Jumlah
|
1
|
Mencit
|
10 ekor
|
2
|
Marmut (Cavia
cobaya)
|
1 ekor
|
3
|
Pellet jenis 05
|
Secukupnya
|
4
|
Air
|
Secukupnya
|
5
|
Sekam
|
Secukupnya
|
6
|
Gymsa
|
secukupnya
|
3.3
Prosedur Kerja
1.
Penyediaan
kandang mencit
Kandang
terbuat dari sejenis kaca berukuran (50x25x15) cm. Kemudian melapisi kandang
dengan sekam setinggi ¼ tinggi wadah, menyediakan tempat makan dan minum bagi
mencit didalam kandang .
2.
Aklimatisasi
Praktikan
menyediakan 10 ekor mencit yang berumur 2 bulan kemudian mengkarantina pada
kandang yang telah disediakan selama 2 minggu. Tujuan aklimatisasi ini adalah
untuk menyesuaikan kondisi fisik dan fisiologi tubuh mencit, serta penyesuaian
kondisi lingkungan seperti pada kandang awal di tempat peternakan.
3.
Pembuatan
serum
Praktikan
menyediakan serum dari darah marmut atau Cavia
cobaya yang akan disuntikkan sebagai antibody pada mencit.
Cara
membuat cavia serum :
Ø Setiap
kelompok harus memiliki minimal 10 ml serum darah Marmut (Cavia cobaya), sehinga harus menyediakan 1 ekor Marmut (Cavia cobaya).
Ø Marmut
(Cavia cobaya) dibunuh dengan pisau
pada bagian leher Marmut (Cavia cobaya)
dan segera menampung darah segar tersebut pada beberapa tabung reaksi yang
telah bersih.
Ø Kemudian
darah segar Marmut (Cavia cobaya)
yang sudah ditempatkan pada beberapa tabung reaksi dimasukkan ke mesin sentrifuge. Disentrifuge selama 5
menit dengan kecepatan 3600 rpm. Sehingga pada tabung reaksi akan terlihat
bagian plasma darah yang akan mengendap pada bagian bawah dan serum akan
memisah pada bagian atas.
Ø Memisahkan
serum dengan plasma darah dengan cara. Memipet serum dari tabung reaksi dan
menampungnya pada jarum suntik yang besar, membungkusnya dengan kertas koran
dan memberi kertas label dan menyimpannya di kulkas agar tetap steril dan segar
sebelum digunakan.
1.
Pembuatan
preparat apusan
Untuk
mengetahui jumlah leukosit awal Mencit (Mus musculus) maka perlu dibuat
preparat apusan dengan cara:
Ø Mengambil
darah Mencit (Mus musculus) dari pembuluh darah yang terdapat dibagian ekor,meneteskan
setetes darah pada 1 objek gelas yang steril pada bagian ujungnya.
Ø Meratakan
tetesan darah dengan cara meletakkan objek gelas yang kedua dimana posisinya
menyilang pada ujung yang ditetesi darah, mendorong objek gelas kedua sampai
keujung sehingga darah akan merata pada objek gelas pertama objek gelas yang
lain. Pada saat pembuatan preparat apusan, sebaiknya perataan darah pada objek
gelas sebaiknya jangan berulang agar hasilnya dapat diamati dengan jelas.
Ø Menambahkan
setetes pewarna Gimsan, meratakan dengan cara menggoyang-goyang objek gelas
kemudian mengerikannya selama 10 menit dan segera mencuci dengan air keran yang
alirannya sangat kecil agar sel darah tidak ikut tercuci tetapi pada bagian
bawah objek gelas.
Ø Mengamati bentuk leukositnya pada mikroskop dan
menghitung jumlahnya.
2. Perlakuan Percobaan
Ø Praktikan memulai perlakuan dengan cara : 1 ekor mencit
ditimbang berat tubuhnya, kemudian praktikan membedahnya, megambil limfanya,
dan menimbangnya.
Ø Praktikan
memberi serum darah ayam pada kelompok mencit tertentu melalui oral dengan
dosis 0,8 ml. Yang dilakukan adalah dosis 0,8 sehingga serum yang terpakai
adalah 4,0 ml dan sisanya sebanyak 0,9 akan digunakan untuk kegiatan tes
aglutinasi.
Ø Pada
hari kedua setelah pemberian serum, praktikan membuat preparat apusan sel darah
mencit yang telah diberi serum ayam, dan
menghitung jumlah leukositnya.
Ø Pada
hari ketiga praktikan menimbang 1 ekor mencit, menmbedahnya, menimbang
limfanya, dan menghitung jumlah leukositnya.
Ø Pada
hari ke tujuh praktikan menimbang 1 ekor mencit, menmbedahnya, menimbang
limfanya, dan menghitung jumlah leukositnya dan melakukan uji aglutinasi dengan
cara:
-
Mengambil sampel darah
mencit yang dibedah tersebut dan meneteskan 1 tetes pada objek glas.
-
Meneteskan 1-2 tetes serum
darah ayam sisa penyuntikan tersebut.
-
Mengaduk campuran serum
dan darah mencit itu dengan menggunakan tusuk gigi.
-
Mengamati perubahan
yang terjadi , yaitu terjadi aglutinasi, berarti pada mencit telah terbentuk
antibody.
Ø Pada
hari ke 14 praktikan menimbang 1 ekor mencit, menmbedahnya, menimbang limfanya,
dan menghitung jumlah leukositnya dan melakukan uji aglutinasi dengan cara:
Ø Mengambil
sampel darah mencit yang dibedah tersebut dan meneteskan 1 tetes pada objek
glas.
-
Meneteskan 1-2 tetes
serum darah ayam sisa penyuntikan tersebut.
-
Mengaduk campuran serum
dan darah mencit itu dengan menggunakan tusuk gigi
-
Mengamati perubahan
yang terjadi , yaitu terjadi aglutinasi, berarti pada mencit telah terbentuk
antibody.
Ø Pada
hari ke 21 praktikan menimbang 1 ekor mencit, menmbedahnya, menimbang limfanya,
dan menghitung jumlah leukositnya dan melakukan uji aglutinasi dengan cara:
-
Mengambil sampel darah
mencit yang dibedah tersebut dan meneteskan 1 tetes pada objek glas.
-
Meneteskan 1-2 tetes
serum darah ayam sisa penyuntikan tersebut.
-
Mengaduk campuran serum
dan darah mencit itu dengan menggunakan tusuk gigi.
-
Mengamati perubahan
yang terjadi , yaitu terjadi aglutinasi, berarti pada mencit telah terbentuk
antibodi.
3.
Pembuatan
preparat apusan untuk mengetahui jumlah leukosit dari mencit :
Ø Mengambil
darah mencit dari pembuluh darah pada bagian ekor mencit, meneteskan setetes
darah pada bagian ujung objek gelas yang steril, meratakan tetesan darah dengan
cara meletakkan objek gelas yang kedua posisinya berada pada ujung yang
ditetesi darah tadi, kemudian mendorong objek gelas kedua sampai keujung
sehingga darah merata pada objek gelas pertama. Pada saat pembuatan preparat
apusan, sebaiknya perataan darah pada objek gelas sebaiknya jangan berulang
agar hasilnya dapat diamati dengan jelas.
Ø Menambahkan
setetes Gymsa kemudian meratakan dengan cara menggoyang-goyang objek glas dan
segera mencuci bagian belakang dari objek glass dengan air keran yang alirannya
sangat kecil agar sel darah tidak ikut tercuci.
Ø Segera
diamati leukositnya pada mikroskop dan menghitung jumlahnya.
7.
Pengamatan
Parameter
Ø Pembentukan
Antibodi yang terjadi di tubuh Mnecit
Ø Berat
Limpa, Pengamatan berat limpa diukur dari mulai pembedahan mencit pertama
sampai pembedahan mencit kelima.
Ø Berat
Badan, Pengamatan berat badan diukur setiap akan melakukan pembedahan mencit
dari mencit pertama sampai mencit kelima.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
v Data hasil percobaan kelompok 1 dengan serum 0,8 ml
Hari
|
Berat
tubuh (gram)
|
Berat
limfa (gram)
|
Jumlah
leukosit
|
1
|
34,6
|
0.2
|
55
|
3
|
34,5
|
0,2
|
110
|
7
|
35
|
0.2
|
-
|
14
|
34
|
0,3
|
-
|
21
|
26,1
|
0,1
|
-
|
28
|
36,5
|
0.2
|
-
|
v Data hasil percobaan kelompok 2 (Kontrol)
Hari
|
Berat
tubuh (gram)
|
Berat
limfa (gram)
|
Jumlah
leukosit
|
1
|
34,3
|
0,1
|
55
|
3
|
37
|
0,3
|
121
|
7
|
27,9
|
0,1
|
-
|
14
|
30,3
|
0,3
|
-
|
21
|
36
|
0,3
|
-
|
28
|
35
|
0.3
|
-
|
v Data hasil percobaan kelompok 3 dengan serum 0,2
Hari
|
Berat
tubuh (gram)
|
Berat
limfa (gram)
|
Jumlah
leukosit
|
1
|
34,6
|
0,2
|
55
|
3
|
28,7
|
0,1
|
57
|
7
|
35
|
0,2
|
-
|
14
|
30
|
0,2
|
-
|
21
|
34,2
|
0,2
|
-
|
28
|
33
|
0,1
|
-
|
v Data hasil percobaan kelompok 4 dengan serum 0,6
Hari
|
Berat
tubuh (gram)
|
Berat
limfa (gram)
|
Jumlah
leukosit
|
1
|
30,4
|
0,1
|
55
|
3
|
34,4
|
0,2
|
44
|
7
|
24,4
|
0,1
|
-
|
14
|
37,1
|
0,3
|
-
|
21
|
34,7
|
0,1
|
-
|
28
|
35
|
0,2
|
-
|
v Data hasil percobaan kelompok 5 dengan serum 0,4
Hari
|
Berat
tubuh (gram)
|
Berat
limfa (gram)
|
Jumlah
leukosit
|
1
|
45,2
|
0,3
|
55
|
3
|
37
|
0,1
|
65
|
7
|
34,7
|
0,1
|
-
|
14
|
35,1
|
0,2
|
-
|
21
|
31,8
|
0,2
|
-
|
28
|
34
|
0,2
|
-
|
Berdasarkan
grafik di atas maka dapat disimpulkan bahwa pada perlakuan kontrol hari ke-1, dan hari ke-7 perbandingan berat
tubuh dengan berat limpa sama yaitu 0,57 namun pada hari ke-3 perbandingan
berat tubuh dengan berat limfa menurun yaitu 0,34 dari hari ke 1, kemudian
kembali naik pada hari ke-7 yaitu 0,57 dan naik lagi pada hari ke-14 yaitu 0,66,
sedangkan pada hari ke 21 kembali menurun yaitu 0,58 dan pada hari ke 28
perbandingan berat tubuh dengan berat limfa juga mengalami penurun yaitu 0,30.
Berdasarkan grafik ini dapat dijelaskan bahwa adanya penurunan dan peningkatan
dari perbandingan berat tubuh dengan berat limfa dikarenakan adanya virus atau
sejenis antigen lain yang masuk ke dalam tubuh mencit tersebut pada saat
pemberian pakan dan minuman mencit yang dapat mempengaruhi kondisi tubuhnya
sehingga menyebabkan berat limfanya tidak stabil.
Berdasarkan
teoritisnya bahwa berat limfa pada hari ke 7 sampai ke 14 akan meningkat namun pada hari ke 21
sampai hari ke 28 berat limfa akan menurun dikarenakan hal ini sesuai dengan
pembentukan antibodi (immunoglobulin G) yang meningkat (memuncak) setelah
terjadinya pemaparan antigen. Selain itu berat limpa juga bertambah menandakan
bahwa kerja limpa semakian berat untuk memproduksi sel limfosit terutama Limfosit
B yang berfungsi menghasilkan antibodi sebagai pertahanan tubuh untuk melawan
antigen yang masuk kedalam tubuh mencit tersebut. Sedangkan pada hari keempat
belas, keduapuluh satu (21) hingga keduapuluh delapan (28) terjadi penurunan
berat karena semua antigen yang masuk sudah berhasil difagositosis.
Pada perlakuan
control, perbandingan berat tubuh limfa dengan berat limfa yaitu 0,29 sedangkan
pada hari ke 3 terjadi peningkatan yang jauh yaitu 0,81 sedangkan pada hari ke
7 terjadi penurunan yaitu 0,35, pada hari ke 14 perbandingan tubuh mencit
dengan berat limfa meningkat jauh dari hari ke 7 yaitu 0,99 dan pada hari ke 21
dan 28 terjadi penurunan sedikit dari hari ke 14 yaitu 0,83 dan 0,85. Hal yang
menyebabkan penurunan dan peningkatan berat tubuh dengan berat limfa ini
dikarenakan Pada perlakuan kontrol, berat limfanya meningkat mula-mula kemudian
menurun dan naik lagi, hal ini disebabkan kemugkinan karena pada tahap awal
aklimatisasi bobot tubuh tidak sama secara keseluruhan sebelum dan setelah
diaklimatisasi, atau dapat pula disebabkan adanya virus atau sejenis antigen
lain yang masuk ke dalam tubuh mencit tersebut pada saat pemberian pakan dan
minuman mencit yang dapat mempengaruhi kondisi tubuhnya sehingga menyebabkan
berat limfanya tidak stabil. Dan seharusnya berat limpa dari mencit kontrol ini
harus stabil karena tidak diberi antigen sehingga dapat lebih jelas untuk
membandingkannya dengan mencit yang diberikan perlakuan antigen.
Grafik Perbandingan Jumlah Leukosit
Berdasarkan
Grafik di atas dapat disimpulkan bahwa hari 1 jumlah leukosit yang didapatkan
sama yaitu 55. Berdasarkan hasil yang diperoleh dapat dinyatakan serum yang digunakan pada mencit adalah serum
yang tidak sesuai dengan serum yang sebenarnya karena serum yang didapatkan
oleh setiap kelompok tidak berwarna kuning keputih-putihan namun berwarna merah
pekat. Sehingga untuk melihat jumlah leukosit dari setiap kelompok tidak ada
yang bebeda. Pada hari ke 3 terjadi perubahan jumlah leukosit terlihat pada
kelompok 1 yang menggunakan serum 0,8 cc memiliki jumlah leukosi 110, sedangkan
pada kelompok 4 yang menggunakan serum 0,6 cc terjadi penurunan jumlah
leukosit. Hal ini disebabkan antigen yang telah masuk kedalam tubuh mencit
telah di hancurkan jadi jumlah leukosit yang diperoleh sedikit. Namun pada
kelompok 1 dimana terjadi peningkatan yaitu sebesar 110 hal ini disebabkan
karena antigen yang masuk kedalam tubuh mencit belum di fagosit oleh
sel-sel fagositosis sehingga jumlah
leukosit meningkat. Pada kelompok kontrol jumlah lekosit 121 dikarenakan pada
kelompok ini tidak diberikan serum sehingga tidak ada fagositosis antigen di
dalam tubuh mencit.
Grafik Perbandingan Berat Limfa Pada
Mencit setiap kelompok
Berdasarkan grafik diatas dapat
disimpulkan bahwa pada kelompok 1, 4 pada hari ke 14 meningkat sedangkan pada
hari ke 21 berat limfa menurun, hal ini tidak sesuai dengan teoritisnya.
Disebabkan karena adanya virus atau sejenis antigen
lain yang masuk ke dalam tubuh mencit tersebut pada saat pemberian pakan dan
minuman mencit yang dapat mempengaruhi kondisi tubuhnya sehingga menyebabkan
berat limfanya tidak stabil. Pada kelompok kontrol berat limfanya sesuai
berdasarkan teoritisnya hal ini disebabkan pembentukan antibodi (immunoglobulin
G) yang meningkat (memuncak) setelah terjadinya pemaparan antigen. Selain itu
berat limpa juga bertambah menandakan bahwa kerja limpa semakian berat untuk
memproduksi sel limfosit terutama Limfosit B yang berfungsi menghasilkan
antibodi sebagai pertahanan tubuh untuk melawan antigen yang masuk kedalam
tubuh mencit tersebut. Sedangkan pada hari keempat belas, keduapuluh satu (21)
hingga keduapuluh delapan (28) terjadi penurunan berat karena semua antigen
yang masuk sudah berhasil difagositosis. Sedangkan pada kelompok 3 dan 5 pada
hari ke 14 dan 21 berat limfa sama, mungkin hal ini disebabkan karena belum
terbentuk antibodi sebagai pertahanan tubuh untuk melawan antigen yang masuk ke
dalam tubuh mencittersebut sehingga berat limfa pun tidak berubah.
4.2.
Mekanisme Pembentukan Antibodi
Limfosit tidak
bereaksi dengan sebagian besar antigen, tetapi sel T mempunyai suatu interaksi
yang sangat penting dengan salah satu kelompok penting molekul asli. Molekul
tersebut merupakan kumpulan glikoprotein permukaan sel (rantai protein yang
berikatan dengan rantai gula) yang dikode oleh sebuah kelompok gen yang disebut
sebagai kompleks histokompatibilitas mayor (Major Histocompatibility
Complex, MHC). Pada manusia glikoprotein MHC juga dikenal sebagai HLA (Human
Leukocyte Antigen). Ada dua jenis molekul MHC yang menandai
sel tubuh yaitu
1. MHC kelas I ditemukan pada semua sel bernukleus
pada hamper setiap sel tubuh.
2. MHC kelas II terbatas haanya pada beberapa jenis
sel khusus yang meliputi makrofaga,
sel B, sel T yang telah diaktifkan dan sel-sel yang menyusun bagian interior
tymus.
Gambar. Interaksi sel T
dengan molekul MHC
Sel
T pembunuh (sel T sitotoksik) secara langsung menyerang sel lainnya yang
membawa antigen asing atau abnormal di permukaan mereka. Sel T pembunuh
adalah sub-grup dari sel T yang membunuh sel yang terinfeksi antigen, atau
merusak dan mematikan patogen. Seperti sel B, tiap tipe sel T mengenali antigen
yang berbeda. Sel T pembunuh diaktivasi ketika reseptor
sel T mereka melekat pada
antigen spesifik pada kompleks dengan reseptor kelas I MHC dari sel lainnya.
Pengenalan MHC ini:kompleks antigen dibantu oleh co-reseptor pada sel T yang disebut CD8.
Sel T pembantu (sel T
helper) mengatur baik respon imun bawaan dan adaptif dan membantu menentukan
tipe respon imun mana yang tubuh akan buat pada patogen khusus. Sel tersebut
tidak memiliki aktivitas sitotoksik dan tidak membunuh sel yang terinfeksi atau
membersihkan patogen secara langsung, namun mereka mengontrol respon imun
dengan mengarahkan sel lain untuk melakukan tugas tersebut. Sel T pembantu
mengekspresikan reseptor sel T yang mengenali antigen melilit pada molekul MHC
kelas II. MHC:antigen kompleks juga dikenali oleh reseptor sel pembantu CD4
yang merekrut molekul didalam sel T yang bertanggung jawab untuk aktivasi sel
T.
Sel-sel yang menghancurkan antigen adalah sel b
dan makrofaga. Kelompok sel tersebut bertindak sebagai sel penyaji antigen
(antigen presenting cell, APC) yang mensiagakan sistem kekebalan melalui sel T
helper, bahwa ada anti gen asing dalam tubuh. Sementara molekul MHC kelas II
yang baru disintesis bergerak menuju permukaan makrofaga, molekul itu menangkap
salah satu diantara peptide bakteri itu dalam lekukan pengikat antigennya dan
membawanya ke permukaan, sehingga memperlihatkan peptide asing itu ke sel T
helper. Interaksi antara sel penyaji antigen dengan sel T helper semakin
meningkat dengan kehadiran CD4. Interaksi antara CD4 dengan molekul MHC kelas
II membantu mempertahankan sel T helper dan sel penyaji tetap menyatu,
sementara aktivasi antigen yang berrsifat spesifik sedang berlangsung
Ketika
sel T helper diseleksi melalui kontak spesifik dengan kompleks MHC kelas II dan
antigen pada sebuah APC sel t helper akan memperbanyak diri dan berdiferensiasi
menjadi klon sel T helper yang diaktifkan dan sel T helper memori. Sel T helper
yang diaktifkan mensekresikan beberapa sitokin yang berbeda, yang merupakan
protein yang berfungsi untuk merangsang limfosit lain. Sebagai contoh sitokin
interleukin-2 (IL-2) membantu sel B yang telah mengadakan kontak dengan antigen
untuk berdiferensiasi menjadi sel plasma yang mensekresi antibodi. IL-2 juga
membantu sel T sitotoksik untuk menjadi pembunuh yang aktif. Sel T helper itu
sendiri patuh pada pengaturan oleh sitokin.
Sementara
makrofaga memfagositosis dan menyajikan antigen, makrofaga itu dirangsang untuk
mensekresi suatu sitokin yang disebut interleukin-1 (IL-1). IL-1 dalam kombinsi
dengan antigen yang disajikan, mengaktifkan sel T helper untuk menghasilkann
IL-2dan sitokin lain. Merupakan satu contoh uumpan balik positif adalah
peristiwa saat IL-2 yang disekresi oleh sel T helper juga akan merangsang sel
tersebut untuk memperbanyak diri lebih cepat lagi dan untuk menjadi penghasil
sitokin yang lebih aktif lagi. Dengan cara ini sel T helper memodulasi respon
kekebalan humoral (sel B) maupun respon kekebalan yang diperantarai oleh sel
(sel T sitotoksik).
Gambar. Sistem kekebalan
Sebuah sel T
sitotoksik, yang diaktifkan oleh kontak spesifik dengan molekul MHC kelas I dan
antigen pada sel yang terinfeksi atau sel tumor dan dirangsang lebih lanjut
oleh IL-2 dari sel T helper, yang berdiferensiasi menjasi sel pembunuh yang
aktif. Sel ini membunuh apa yang disebut sel target terutama dengan cara
pembebasan perforin, yaitu protein yang membentuk pori atau lubang pada
membrane sel target. Karena ion dan air mengalir ke dalam sel target, maka sel
itu membengkak dan akhirnya lisis. Kematian sel-sel yang terinfeksi itu bukan
saja menghilangkan tempat bagi pathogen untuk bereproduksi tetapi juga
memaparkannya ke antibodi yang sedang beredar, sehingga menandainya untuk
dibuang dan dihancurkan. Setelah merusak sel yang terinfeksi, sel T sitotoksik
terus bergerak membunuh sel-sel lain yang terinfeksi dengan pathogen yang sama.
Banyak antigen dapat memicu respon
kekebalan humoral oleh sel B hanya dengan partisipasi sel T helper. Antigen seperti
ini disebut antigen yang bergantung pada sel T, dan sebagian besar antigen,
protein termasuk dalam jenis ini. Adapun proses pengahasilan antibodi yang
dilakukan oleh sel B yaitu:
v Makrofag menelan pathogen yang masuk ke dalam tubuh
v Fragmen antigen dari pathogen yang dicerna sebagian lalu membentuk
kompleks dengan protein MHC kelas II. Kompleks ini kemudian diangkut ke
permukaan sel, tempat kompleks tersebut disajikan ke sel-sel lain milik system
kekebalan.
v Sel T helper dengan reseptor yang spesifik untuk antigen yang
disajikan itu berinteraksi dengan makrofaga dengan cara berikatan dengan
kompleks MHC dan antigen.
v Sel T helper yang diaktifkan kemudian berinteraksi dengan sel B
yang telah menghancurkan antigen dengan cara endositosis dan memperlihatkan
fragmen antigen bersama dengan protein MHC kelas II. Sel T helper mensekresikan
IL-2 dan sitokin lain yang mengaktifkan sel B.
v Sel B lalu membelah secara berulang-ulang dan berdiferensiasi
menjadi sel B memori dan sel plasma, yang merupakan sel ecfektor yang
mensekresi antibodi pada kekebalan humoral.
Gambar. Respon humoral terhadap antigen yang bergantung pada sel T
Banyak antigen dapat memicu respon
kekebalan humoral oleh sel B hanya dengan partisipasi sel T helper. Antigen seperti
ini disebut antigen yang bergantung pada sel T, dan sebagian besar antigen,
protein termasuk dalam jenis ini. Adapun proses pengahasilan antibodi yang
dilakukan oleh sel B yaitu:
v Makrofag menelan pathogen yang masuk ke dalam tubuh
v Fragmen antigen dari pathogen yang dicerna sebagian lalu membentuk
kompleks dengan protein MHC kelas II. Kompleks ini kemudian diangkut ke
permukaan sel, tempat kompleks tersebut disajikan ke sel-sel lain milik system
kekebalan.
v Sel T helper dengan reseptor yang spesifik untuk antigen yang
disajikan itu berinteraksi dengan makrofaga dengan cara berikatan dengan
kompleks MHC dan antigen.
v Sel T helper yang diaktifkan kemudian berinteraksi dengan sel B
yang telah menghancurkan antigen dengan cara endositosis dan memperlihatkan
fragmen antigen bersama dengan protein MHC kelas II. Sel T helper mensekresikan
IL-2 dan sitokin lain yang mengaktifkan sel B.
v Sel B lalu membelah secara berulang-ulang dan berdiferensiasi
menjadi sel B memori dan sel plasma, yang merupakan sel ecfektor yang
mensekresi antibodi pada kekebalan humoral.
Meningkatnya kadar antibodi di dalam
serum pada imumun sekunder terjadi karena kemapuan memori yang dimiliki oleh
system pembentukan antibodi terhadap keterpaparan dengan suatu antigen
sebelumnya. Setelah beberapa hari pemaparan pertama oleh antigen yang masuk ke
dalam tubuh timbullah respon immune tanggap kebal primer yang di tandai dengan
muncullanya IgM.
Saat antara pemaparan antigen dan
munculnya IgM disebut lag phase. Kadar IgM mencapai puncaknya setelah kira-kira
7 hari. Enam sampai tujuh hari setelah pemaparan did lam serum mulai dapat di
deteksi IgG, sedangkan IgM mulai berkurang sebelum IgG mencapai puncaknya. Igg
mencapai puncaknya setelah 10-14 hari pemaparan antigen. Kemudian 4-5 minggu
setelah pemaparan , kadar antibody berkuarang dan umumnya hanya sedikkt yang
dapat dideteksi.
Bila pemaparan dengan antigen yang sama
terjadi keduakalinya, terjadilah respon immune sekunder yang sering juga
disrbut booster. Pada respon sekunder ini lag pahasenya pendek. Pada respon
sekunder ini, baik IgM maupun IgG meningkat dengan cepat. Puncak IgM umumnya
tidak melebihi puncaknya pada respon primer, sedangkan kadar IgG meningkat jauh
lebih tinggi dan berlangsung jauh lebih lama. Hal ini terjadi karena telah
adanya sel B dan Sel T memmory akibat pemaran pertama
Dari data
diatas dalam perlakuan pemberian serum terhadap mencit terjadi kepekaan yang merangsang respon immunologic yaitu pada
hari kedua dengan jumlah leukosit yang meningkat drastic terhadap pengamatan
hari III, hari VII, hari XIV dan hari XXI ini disebabkan karena status
immunologic baik yang seluluer maupun humoral meningkat atau yang disebut
reaksi Hipersensitivitas
Reaksi hipersentivitas terjadi jika pada
yang tubuh memiliki imunitas alamiah
yang bersifat non-spesifik dan imunitas spesifik ialah sistem imunitas humoral
yang secara aktif diperankan oleh sel limfosit B, yang memproduksi 5 macam
imunoglobulin dan sistem imunitas seluler yang dihantarkan oleh sel limfosit T,
yang bila mana ketemu dengan antigen lalu mengadakan diferensiasi dan menghasilkan
zat limfokin, yang mengatur sel-sel lain untuk menghancurkan antigen tersebut.
Bilamana suatu alergen masuk ke tubuh, maka tubuh akan mengadakan respon.
Bilamana alergen tersebut hancur, maka ini merupakan hal yang menguntungkan,
sehingga yang terjadi ialah keadaan imun. Tetapi, bilamana merugikan, jaringan
tubuh menjadi rusak, maka terjadilah reaksi hipersensitivitas atau alergi.
Reaksi hipersentsitivitas memiliki 4 tipe reaksi seperti berikut:
Tipe I : Reaksi Anafilaksi
Di sini antigen atau alergen bebas akan
bereaksi dengan antibodi, dalam hal ini IgE yang terikat pada sel mast atau
sel basofil dengan akibat terlepasnya histamin. Keadaan ini menimbulkan reaksi
tipe cepat.
Tipe II : Reaksi sitotoksik
Di sini antigen terikat pada sel
sasaran. Antibodi dalam hal ini IgE dan IgM dengan adanya komplemen akan
diberikan dengan antigen, sehingga dapat mengakibatkan hancurnya sel tersebut.
Reaksi ini merupakan reaksi yang cepat menurut Smolin (1986), reaksi allografi
dan ulkus Mooren merupakan reaksi jenis ini.
Tipe III : reaksi imun kompleks
Di sini antibodi berikatan dengan
antigen dan komplemen membentuk kompleks imun. Keadaan ini menimbulkan neurotrophichemotactic
factor yang dapat menyebabkan terjadinya peradangan atau kerusakan lokal.
Pada umumnya terjadi pada pembuluh darah kecil. Pengejawantahannya di kornea
dapat berupa keratitis herpes simpleks, keratitis karena bakteri.(stafilokok,
pseudomonas) dan jamur. Reaksi demikian juga terjadi pada keratitis Herpes
simpleks.
Tipe IV : Reaksi tipe lambat
Pada reaksi hipersensitivitas tipe I, II
dan III yang berperan adalah antibodi (imunitas humoral), sedangkan pada tipe
IV yang berperan adalah limfosit T atau dikenal sebagai imunitas seluler.
Limfosit T peka (sensitized T lymphocyte) bereaksi dengan antigen, dan
menyebabkan terlepasnya mediator (limfokin) yang jumpai pada reaksi penolakan
pasca keratoplasti, keraton- jungtivitis flikten, keratitis Herpes simpleks dan
keratitis diskiformis.
Ø Faktor yang Mempengaruhi Pembentukan Antibodi
Perbedaan dalam respon imun primer dan
sekunder , kadar antibodi yang dibentuk, lamanya lag phase dan lain-lain sangat
bergantung pada beberapa faktor, antara lain :
- Jenis antigen dan dosis antigen yang diberikan ke darah
Karena antigen dibutuhkan untuk
memperlancar pembelahan dan differeansiasi limfosit, maka konsentrasi antigen
haruslah merupakan factor pengatur utama. Konsentrasi antigen akan menurun dan
kemampuan untuk merangsang respon immune akan makin berkuarng.
- mekanisme umpan balik
Ini bekerja untuk membatasi produk
antibody.
- Cara masuk antigen ke tubuh
- Sensitivitas teknik yang digunakan untuk mengukur antibodi
4.3.
Mekanisme
Penyerapan Antigen di dalam Tubuh
Pemberian serum marmut
dilakukan dengan memasukkan serum tersebut ke dalam oral, setelah sampai di mulut serum akan
ditelan memasuki esofagus, ventrikulus, intestinum (duodenum, jejunum, ileum) dan diserap di usus
halus. Setelah sampai di usus halus, antigen ini akan diserap oleh usus halus
yang diabsorbsi oleh sel-sel epitel selapis (kolumner) yang dilapisi oleh
epitel vili.
Lapisan-lapisan
penyusun dinding usus halus mulai dari
dalam ke luar lumen usus terdiri atas tunika
mukosa, tunika
submukosa, tunika
muskularis, dan tunika
serosa. Tunika mukosa terdiri atas epitel, berbagai kelenjar dan jaringan
penunjang. Epitel usus halus berbentuk
epitel kolumnar selapis yang terdiri atas sel absortif, sel
goblet, sel endokrin dan sel
Paneth. Lamina propria terdiri atas jaringan ikat retikular dan fibroplastik
yang longgar dan kaya pembuluh darah, buluh khil (lacteal), saraf, maupun otot
licin. Pencernaan di usus
halus ditunjang oleh bentuk khusus pada tunika mukosa, yakni vili. Vili merupakan penjuluran mukosa yang berbentuk jari dan merupakan ciri khas usus halus. Tinggi
vili ini bervariasi tergantung pada daerah dan spesies. Pada karnivora, vili
langsing dan panjang, sedangkan pada sapi vili pendek dan lebar. Akhirnya,
permukaan penyebaran ditingkatkan oleh mikrovili. Mikrovili merupakan penjuluran sitoplasma pada permukaan bebas
epitel vili. Vili dan mikrovili
berfungsi memperluas permukaan usus halus sehingga penyerapan lebih efisien. Di antara dasar-dasar vili terdapat kelenjar-kelenjar yang
meluas ke dalam bagian bawah mukosa yang disebut kripta. Sel-sel kripta menyediakan sel-sel baru untuk
menggantikan sel-sel permukaan vili yang terbuang ke dalam lumen usus.
Pengikatan antibodi dengan antigen untuk membentuk kompleks
antigen-antibodi merupakan dasar dari beberapa mekanisme pembuangan antigen.
Yang paling sederhana adalah netralisasi dimana antibodi
berikatan dengan menghambat aktifitas antigen tersebut. Sebagai contoh antibodi
menetralkan suatu virus dengan melekat pada molekul yang harus digunakan oleh
virus untuk menginfeksi sel inang. Dengan cara serupa antibodi bisa berikatan
dengan permukaan bakteri patogenik. Mikroba ini, sekarang dilapisi dengan
antibodi, dengan mudah dilenyapkan oleh fagositosis. Dalam suatu proses yang disebut
opsonisasi, antibodi yang terikat itu meningkattkan pertautan makrofaa ke
mikroba tersebut sehingga juga meningkatkan fagositosis.
Aglutinasi (penggumpalan) bakteri atau virus yang diperantarai oleh antibodi
secara efektif menetralkan dan mengosonisasi mikroba tersebut. Aglutinasi
mungkin terjadi karena masing-masing molekul antibodi mempunyai paling tidak 2
tempat pengikatan antigen. IgG, misalnya dapat berikatan dengan epitop identik
pada dua sel bakteri atau partikel virus, yang mengikatkan mereka bersama-sama.
IgM dapat mengikatkan bersama lima atau lebih virus atau bakteri. Kompleks
besar ini dengan mudah difagositosis oleh makrofaga. Mekanisme serupa adalah presipitasi
(pengendapan), yaitu pengikatan silang molekul-molekul antigen yang terlarut (yitu
molekul terlarut dalam cairan tubuh) untuk membentuk endapan atau presiipitat
yang lalu dikeluarkan dan di buang oleh fagositosis.
Mekanisme yang terakhir yaitu fiksasi
komplemen merupakan aktivasi sistem komplemen oleh kompleks antigen
antibodi. Komplemen ini terdiri dari sekitarr 20 protein serum yang berbeda,
yang tanpa adanya infeksi berada dalam keadaan inaktif. Akan tetapi, saat
terjadi infeksi protein yang pertama dalam rentetan protein komplemen itu
diaktifkan, sehingga memicu rentetan langkah-langkah aktivasi dimana
masing-masing komponen mengaktifkan langkah berikutnya dalam rentetan reaksi
itu. Penyelesaian rentetan reaksi komplemen itu menyebabkan lisisnya banyak
jenis virus dan sel-sel pathogen.
Di
dalam sel epitel ini tersedia Ig A yang akan memberikan garis pertahanan
terhadap lapisan mukosa, Ig A ini akan mengikat antigen yang terpapar di dalam
sel epitel usus halus sehingga ukuran antigen tersebut membesar sehingga tidak
bisa melewati lapisan epitel tersebut lalu diteruskan ke usus besar hingga
disekresikan melalui anus. Tetapi ada sebagian antigen yang lolos karen antigen
tidak mampu mengikat semua antigen, hal ini disebabkan karena antigen terlalu
banyak masuk. Antigen ini masuk ke jaringan ikat longgar . Jaringan
Ikat Longgar Jaringan ikat longgar memiliki ciri sebagian besar terdiri dari
matriks yang mengandung serat-serat kolagen, retikuler, dan elastin. Jaringan ini
terdiri dari beberapa sel, seperti makrofag, sel plasma, sel tiang, dan sel
lemak. Jaringan ikat longgar berfungsi membungkus (menyokong) organ-organ tubuh
dan menghubungkan bagian-bagian jaringan lain. Jaringan ini terdapat
dimesentrium (selaput perut tempat menautkan organ-organ dalam rongga perut),
di bawah epitel mukosa saluran pencernaan, pembungkus pembuluh darah, akson
saraf, dan lapisan subkutan kulit. dimana di jaringan ikat longgar bertemu dengan
makrofag, makrofag melakukan kemotaksis untuk mendekati antigen tersebut,
pertama antigen tersebut dilapisi oleh Ig A untuk memudahkan fagositosis
antigen tersebut.
Makrofag
adalah sel besar dengan kemampuan fagositosis, yang berarti dimakan. Fagositosis yaitu
kemampuan untuk mengabsorbsi dan menghancurkan mikroorganisme (bakteri atau
benda asing). Cara makrofag untuk menghancurkan (memakan) antigen tersebut
ialah dengan membentuk sitoplasma pada saat antigen melekat pada permukaan sel
makrofag, lalu sitoplasma tersebut melekuk ke dalam membungkus antigen,
tonjolan sitoplasma yang saling bertemu akan melebur menjadi satu sehingga
antigen akan tertangkap di dalam vakuola.
Gambar. Makrofag dalam usus mencit.
Lisosom yang
memiliki kemampuan untuk memecah materi yang berasal dari dalam maupun dari
luar akan menyatu dengaan vakuola sehingga antigen tersebut akan musnah. Lalu antigen tersebut dihancurkan lalu dikeluarkan dari
makrofag tesebut secara eksositosis yang berbentuk keping-keping antigen. Keping- keping antigen ini bertemu dengan Sel
T yang akan mengaktivasi sel B untuk berproliferasi sehingga membentuk sel B
plasma dan sel B memori, sehingga jika ada antigen yang terpapar untuk kedua
kalinya maka Sel B memori
akan mengenali antigen tersebut, sehingga Berproliferasi untuk menghasilkan
antibodi untuk menghancurkan antigen yang sama tersebut.
Gambar. Proses makrofag
saat memakan antigen
Sel plasma dapat ditemukan dalam
jumlah melimpah dibawah membrane epitel yang basah, misalnya pada saluran
pencernaan dan pernapasan. Sel-sel ini memproduksi antibody yang khas untuk
antigen (protein asing). Sel
B plasma berguna untuk menghasilkan
antibodi untuk menghancurkan antigen
yang masuk ke dalam tubuh, antibodi dapat dihasilkan karena terjadi sintesis
protein di dalam inti sel dengan cara Trankripsi
dan Translasi.
4.4. Limpa
Limpa adalah kelenjar tanpa saluran (ductless) yang berhubungan erat dengan sistem sirkulasi dan berfungsi menghancurkan sel darah merah tua. Limpa termasuk salah satu organ sistem limfoid, selain timus, tonsil, dan kelenjar limfe. Sistem limfoid berfungsi untuk melindungi tubuh dari kerusakan akibat zat asing. Sel-sel pada sistem ini dikenal
dengan sel imunokompeten yaitu sel yang mampu membedakan sel tubuh dengan zat asing dan menyelenggarakan inaktivasi atau perusakan
benda-benda asing.
4.4.1. Perkembangan
Limfoslt dalam Proses Immun
Limfosit yang
bersikulasi terutama berasal dari timus dan organ limfoid perifer, limpa,
limfonodus, tonsil dan sebagainya. Akan tetapi mungkin semua sel pregenitor
limfosit berasal dari sum-sum tulang, beberapa diantara limfositnya yang secara
relatif tidak mengalami diferensiasi ini bermigrasi ke timus, lalu memperbanyak
diri, disini sel limfosit ini memperoleh sifat limfosit T, kemudian dapat masuk
kembali kedalam aliran darah, kembali kedalam sum-sum tulang atau ke organ
limfoid perifer dan dapat hidup beberapa bulan atau tahun.
Sel-sel T bertanggung
jawab terhadap reaksi immune seluler dan mempunyai reseptor permukaan yang
spesifik untuk mengenal antigen asing. Limfosit lain tetap diam disum-sum
tulang berdiferensiasi menjadi limfosit B berdiam dan berkembang didalam
kompertemenya sendiri.
Sel B bertugas untuk
memproduksi antibody humoral antibody response yang beredar dalam peredaran
darah dan mengikat secara khusus dengan antigen asing yang menyebabkan antigen
asing tersalut antibody, kompleks ini mempertinggi fagositosis, lisis sel dan
sel pembunuh (killer sel atau sel K) dari organisme yang menyerang.
Sel T dan sel B secara
marfologis hanya dapat dibedakan ketika diaktifkan oleh antigen. Tahap akhir
dari diferensiasi sel-sel B yang diaktifkan berwujud sebagai sel plasma. Sel
plasma mempunyai retikulum endoplasma kasar yang luas yang penuh dengan
molekul-molekul antibody, sel T yang diaktifkan mempunyai sedikit endoplasma
yang kasar tapi penuh dengan ribosom bebas.
4.4.2.
Proses Limpa Mengenal Antigen
Unsur
menakjubkan lain-nya dari sistem pertahanan kita adalah limpa. Limpa terdiri
dari dua bagian: pulp merah dan pulp putih. Limfosit yang baru dibuat di pulp
putih mula- Tugas limpa, seperti berkontribusi pada produksi sel, fagositosis,
perlindungan sel darah merah, dan pembangunan kekebalan, sangat pen-ting
sekaligus sulit.
Limpa dibungkus oleh
kapsula, yang terdiri atas dua lapisan, yaitu satu lapisan jaringan penyokong
yang tebal dan satu lapisan otot halus. Perpanjangan kapsula ke dalam parenkim
limpa disebut trabekula. Trabekula mengandung arteri, vena, saraf, dan pembuluh
limfe . Parenkim limpa disebut pulpa yang terdiri atas pulpa merah dan pulpa
putih . Pulpa merah berwarna merah gelap pada potongan limpa segar. Pulpa merah
terdiri atas sinusoid limpa . Pulpa putih tersebar dalam pulpa merah, berbentuk
oval dan berwarna putih kelabu. Pulpa putih terdiri atas pariarteriolar
limphoid sheats (PALS), folikel limfoid, dan zona marginal. Folikel limfoid
umumnya tersusun atas sel limfosit B, makrofag, dan sel debri.
4.5. Proses
Sintesis Protein
a.
Transkripsi : pembentukan kode genetik oleh DNA
Pilinan DNA membuka sebagian > salah satu rantainya (Rantai sense )akan
membentuk rantai penggenap (ARN duta) yang berisi kode genetik (kodon) >
setelah ARN duta terbentuk, kemudian melepaskan diri dari DNA dan berpiln
kembali.
b. Translasi : proses penterjemahan kode genetik oleh RNA transfer
1. RNA duta masuk ke ribosom dari satu ujung ke ujung
yang lain
2.
setiapkodon (3 basa N) masuk ribosom maka datanglah RNA transfer membawa
asam aminosesuai kode genetiknya. Kemudian bergeser lagi ke kodon lain dan
seterusnya sampai ke ujung yang lain.
3.
Asam amino akan membentuk rantai polipeptida (protein)
Sisa-sisa antigen yang tidak disaring akan masuk ke
dalam pembuluh limfe, dan ke saluran Malt , Galt dan peyer patches kemudian
jika masih ada akan dibawa ke nodus limfe hingga ke limpa. Saluran
pencernaan sepanjang usus halus dan usus besar mengandung jaringan limfoid yang
tersebar di dalam epitel, lamina propria, atau tersusun sebagai agregat seperti
lempeng Peyer (Peyer's patch. PP). Jaringan limfoid ini dikenal sebagai
gut-associated lymphoid tissue (GALT). GALT, khususnya PP berfungsi sebagai
tempat induksi respon IgA, sedangkan lamina propria sebagai tempat efektor
respon imun mukosal. Induksi antigen pada PP akan mengaktifkan sel B yang
diprogram untuk menghasilkan IgA atas bantuan T helper (TH), interleukin (IL-4,
IL-5 dan IL-6) dan follicular dendrilic cells (FDC). Selanjutnya sel B spesifik
bersama TH akan berrnigrasi ke limfonodi mesenterial, ductus thoracicus,
sirkulasi darah dan beredar ke selumh tubuh. Akhimya sel B mengalami pemasakan
menjadi sel plasma IgA yang slap mensekresi IgA ke perrnukaan mukosa, seperti
saluran pemafasan bagian atas, saluran genital, dan saluran pencemaan. IgA juga
dicurahkan ke dalam kelenjar-kelenjar sekretorik, seperti lalcrimal, ludah dan
kelenjar susu. Peristiwa migrasi sel B dan sel T dari GALT dan kembali (homing)
ke jaringan mukosa, balk yang letaknya dekat maupun jauh dari tempat induksi,
merupakan dasar dari imunitas mukosal. Konsep ini dikenal sebagai sistem imun
mukosal umum.
4.6 Berat Limfa
Meningkat dan Menurun
Terjadi
peningkatan dari berat limfa disebabkan karena sesuai dengan pembentukan
antibodi (immunoglobulin G) yang meningkat (memuncak) setelah terjadinya
pemaparan antigen. Selain itu berat limpa juga bertambah menandakan bahwa kerja
limpa semakian berat untuk memproduksi sel limfosit terutama Limfosit B yang
berfungsi menghasilkan antibodi sebagai pertahanan tubuh untuk melawan antigen
yang masuk kedalam tubuh mencit tersebut. Pada hari keempat belas, kedua puluh
satu (21) hingga kedua puluh delapan (28) terjadi penurunan berat karena semua
antigen yang masuk sudah berhasil difagositosis.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dari data yang
telah didapatkan selama pengamatan hasilnya sesuai dengan teoritis bahwa berat
limfa pada hari ke 7 sampai ke 14 akan
meningkat namun pada hari ke 21 sampai hari ke 28 berat limfa akan menurun
dikarenakan hal ini sesuai dengan pembentukan antibodi (immunoglobulin G) yang
meningkat (memuncak) setelah terjadinya pemaparan antigen. Selain itu berat
limpa juga bertambah menandakan bahwa kerja limpa semakian berat untuk
memproduksi sel limfosit terutama Limfosit B yang berfungsi menghasilkan
antibodi sebagai pertahanan tubuh untuk melawan antigen yang masuk kedalam
tubuh mencit tersebut. Sedangkan pada hari keempat belas, keduapuluh satu (21)
hingga keduapuluh delapan (28) terjadi penurunan berat karena semua antigen
yang masuk sudah berhasil difagositosis.
Dari hasil pengamatan yang dilakukan dapat disimpulakan
bahwa mencit yang diberikan cavia serum dengan konsentrasi rendah yaitu 0,2 cc
dimana ukuran limfanya pada hari 1 yaitu
0,2 sedangkan pada hari ke 7 dan hari ke
14 berat limfanya sama seharusnya secara
teoritisnya berat llimfa pada hari tersebut akan meningkat, hal ini disebabkan
karena kemugkinan pada tahap awal aklimatisasi
bobot tubuh tidak sama secara keseluruhan sebelum dan setelah diaklimatisasi,
atau dapat pula disebabkan adanya virus atau sejenis antigen lain yang masuk ke
dalam tubuh mencit tersebut pada saat pemberian pakan dan minuman mencit yang
dapat mempengaruhi kondisi tubuhnya sehingga menyebabkan berat limfanya tidak
stabil.
Sedangkan mencit
yang diberi serum cavia dengan konsentrasi tinggi yaitu 0,8 cc dimana ukuran
limfanya pada hari 1 yaitu 0,2 sedangkan
pada hari ke 7 sampai hari ke 1 4 berat limfanya 0,2 dan 0,3. Hal ini sesuai
dengan teoritisnya, dikarenakan
pembentukan antibodi (immunoglobulin G) yang meningkat (memuncak)
setelah terjadinya pemaparan antigen. Selain itu berat limpa juga bertambah
menandakan bahwa kerja limpa semakian berat untuk memproduksi sel limfosit
terutama Limfosit B yang berfungsi menghasilkan antibodi sebagai pertahanan
tubuh untuk melawan antigen yang masuk kedalam tubuh mencit tersebut. Sedangkan
pada hari keempat belas, keduapuluh satu (21) hingga keduapuluh delapan (28)
terjadi penurunan berat karena semua antigen yang masuk sudah berhasil
difagositosis.\
DAFTAR
PUSTAKA
Anonim.2011.Mencit ( Mus musculus). Http://Id.wikipedia.org/wiki/mencit_(Mus
musculus).Diakses 26 Mei 2011.
Anonim.2011.Pacth
Peyer. Http://Id.wikipedia.org/wiki.terjemahan
/ pacth_peyer.Diakses 27 Mei 2011.
Anonim.2011.Serum
Darah . http://id.wikipedia.org/wiki/Serum_darah.Diakses
27 Mei 2011
Bevelander G, dan Ramaley J
A.1988. Dasar-Dasar Histologi. Jakarta: Erlangga.
Nugrahalia, Meida. 2008. Penuntun
Praktikum Struktur Perkembangan Hewan. Medan : FMIPA Universitas Negeri Medan
Siahaan, Panal.2011.Pengantar
Imunologi.Medan:FMIPA Universitas Negeri Medan
Tim
Dosen.2009.Pengantar Anatomi Fisiologi Hewan. Medan: FMIPA Universitas
Negeri Medan.
trimakasih gan buat infonya sangat membantu sekali,,
BalasHapus