Tersedianya banyak tenaga kerja diperkotaan membuat
munculnya pusat-pusat industri di berbagai tempat yang menimbulkan pencemaran
udara. Medan adalah salah satu kota yang memiliki pusat industri dengan
persentasi pencemaran udara yang tinggi. Pencemaran udara berasal dari
polutan-polutan yang bebas diudara yang dikeluarkan dari pabrik pusat-pusat industri serta kendaraan bermotor,
polutan yang bebas di udara seperti SO2,
NO, HF, Cl, O3.
Karena banyak polutan bebas yang ada diudara,
sehingga dibutuhkan bioindikator untuk menguji kualitas udara yang ada di
lingkungan. Bioindikator yang digunakan untuk menguji kualitas udara adalah Helianthus annuus, Acacia sp, namun yang digunakan dalam penelitian ini untuk menguji
kualitas udara adalah lumut kerak. Lumut kerak dapat menunjukkan respon
terhadap perubahan kondisi udara dengan jumlah dari lumut kerak semakin berkurang
jika terdapat pencemaran udara dengan tingkatan yang tinggi.
Lumut kerak
merupakan salah satu tumbuhan tingkat rendah yang penggabungan dari fungi dan
alga yang saling bersimbiosis mutualisme, karena simbiosis ini yang menyebabkan
keadaan morfologi dan fisiologi yang berbeda. Lumut kerak hidup secara epifit
dan memiliki habitat pada pohon-pohon, di atas batu cadas, tepi pantai, atau
gunung-gunung tinggi. Lumut kerak memiliki ciri khas yang tidak semua tumbuhan
memilikinya yaitu kemampuan dalam menyerap polutan-polutan yang beracun dan
berbahaya di udara, sehingga jika polutan-polutan yang beracun dan berbahaya
dalam jumlah yang banyak diudara maka jumah dari lumut kerak semakin berkurang.
Hasil penelitian, ada 40.000 spesies lumut kerak yang dapat dijadikan bioindikator
kualitas udara yang sudah di herbarium basah dan kering di Herbarium
Bogoriensis Bogor.
Berdasarkan hal diatas maka penulis tertarik untuk
melakukan penelitian tentang “ Kajian Lumut Kerak Sebagai Bioindikator Kualitas
Udara”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar