Rabu, 18 Maret 2015

KAJIAN LUMUT KERAK SEBAGAI BIOINDIKATOR KUALITAS UDARA



Tersedianya banyak tenaga kerja diperkotaan membuat munculnya pusat-pusat industri di berbagai tempat yang menimbulkan pencemaran udara. Medan adalah salah satu kota yang memiliki pusat industri dengan persentasi pencemaran udara yang tinggi. Pencemaran udara berasal dari polutan-polutan yang bebas diudara yang dikeluarkan dari pabrik  pusat-pusat industri serta kendaraan bermotor, polutan yang bebas di udara seperti SO2, NO, HF, Cl, O3.
Karena banyak polutan bebas yang ada diudara, sehingga dibutuhkan bioindikator untuk menguji kualitas udara yang ada di lingkungan. Bioindikator yang digunakan untuk menguji kualitas udara adalah Helianthus annuus, Acacia sp, namun yang digunakan dalam penelitian ini untuk menguji kualitas udara adalah lumut kerak. Lumut kerak dapat menunjukkan respon terhadap perubahan kondisi udara dengan jumlah dari lumut kerak semakin berkurang jika terdapat pencemaran udara dengan tingkatan yang tinggi.
 Lumut kerak merupakan salah satu tumbuhan tingkat rendah yang penggabungan dari fungi dan alga yang saling bersimbiosis mutualisme, karena simbiosis ini yang menyebabkan keadaan morfologi dan fisiologi yang berbeda. Lumut kerak hidup secara epifit dan memiliki habitat pada pohon-pohon, di atas batu cadas, tepi pantai, atau gunung-gunung tinggi. Lumut kerak memiliki ciri khas yang tidak semua tumbuhan memilikinya yaitu kemampuan dalam menyerap polutan-polutan yang beracun dan berbahaya di udara, sehingga jika polutan-polutan yang beracun dan berbahaya dalam jumlah yang banyak diudara maka jumah dari lumut kerak semakin berkurang. Hasil penelitian, ada 40.000 spesies lumut kerak yang dapat dijadikan bioindikator kualitas udara yang sudah di herbarium basah dan kering di Herbarium Bogoriensis Bogor.
Berdasarkan hal diatas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang “ Kajian Lumut Kerak Sebagai Bioindikator Kualitas Udara”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar