Jumat, 06 Maret 2015

KEGIATAN KULIAH LAPANGAN EKOLOGI TUMBUHAN Aek Nauli, 04 s/d 05 Desember 2010 'Analisis Vegetasi Pada Hutan Aek Nauli

KEGIATAN KULIAH LAPANGAN EKOLOGI TUMBUHAN
Aek Nauli, 04 s/d 05 Desember 2010

O
L
E
H

KELOMPOK  X

Herna Febrianty S
Hotma Siahaan
Josri Sinaga
Sartika Sinulingga
Nurul Aini



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
2010


Judul   : Analisis Vegetasi Pada Hutan Aek Nauli

Tujuan : Untuk mengetahui spesies terbanyak dalam suatu hutan

Prosedur kerja :

1.      Langkah awal dari pengerjaan metode ini adalah dengan berpedoman pada peta vegetasi dan areal yang akan dianalisis dengan menentukan pengamatan di lapangan menggunakan transek yaitu garis lurus memotong areal yang akan diamati.

2.      Langkah selanjutnya tentukan satu titik (misalnya A) terletak pada transek tersebut. Pada titik A tersebut dibuat garis lurus yang tegak lurus terhadap transek.

3.      Selanjutnya untuk arah pergerakan (kompas) disesuaikan dengan arah transek. Hasil dari perpotongan garis dengan transek tersebut  didapat 4 kuadran.

4.      Pada tiap kuadran dilakukan pengukuran jarak diameter pohon dan tilang dengan titik pengamatan (titik A) dan diameter pohon setinggi dada atau 50 cm di atas akar. Apabila diameter tersebut lebih besar atau sama dengan 20cm di sebut pohon, jika diameter tersebut antara 10-20 cm disebut tihang dan jika tinggi pohon 2,5 m dan berdiameter 10cm disebut pancang dan anakan sampai pohon setinggi 2,5 m disebt seedling.

5.      walaupun dalam kuadran I terdapat dua jenis pohon, tetapi yang dilakukan pengukuran adalah jarak pohon terdekat dengan titik A.

6.      penentuan jarak antara titik-titik pengamatan selanjutnya, dinilai dari awal pengamatan (A) dengan mengukur jarak ke B, sejauh lebih dari 2 kali jarak rata-rata antar pohon yang ada di daerah vegetasi yang akan dianalisis. Begitu jga dengan titik pengamatan yang selanjutnya.

7.      selanjutnya pada setiap pengamatan dibuat 4 kuadran yang berpusat pada titik pengamatan tersebut. Pada setiap kuadran dilakukan pengukuran pada setiap pohon yang terdekat.

8.      hasil pengukuran lapangan masukkan pada tabel pengamatan. Dan hitunglah nilai kerapatan, frekuensi, dominansi dan indeks angka penting.

  


Tinjauan teoritis :

ANALISA VEGETASI

PENDAHULUAN

 Ekologi hutan merupakan salah satu cabang ekologi yang mempelajari ekosistim hutan,dimana dalam ekosistim tersebut terjadi hubungan timbal balik antara komponen-komponen penyusunannya.Suatu pengolahan ekosistim hutan yang bijaksana adalah bila berlandaskan pada suatu dinamika internal dari ekosistem yang ersangkutan disamping pertimbangan ekonominya.

Informasi-informasi penting dalam ekosistim hutan antara lain komposisi dan stuktur hutannya,yang mempunyai konsekwensi terhadap fungsinya.Oleh karena itu dalam pendidikan latihan dasar materi dan kegiatan- kegiatan dalam mempelajari ekosistem huan dari komposisi dari strutur hutannya harus diberikan.Adapun bagian dari usaha tersebut meliputi pengetahuan tentang klarifikasi hutan, analisa vegetasi dan lainnya.

Harapan yang ingin dicapai dalam kegiatan ini adalah untuk mengetahui dan memahami peranan analisa vegetasi dalam pengolahan suatu ekosistim hutan.

ANALISA VEGETASI






Analisa vegetasi merupakan suatu kumpulan tumbuh-tumbuhan yang terdiri dari beberapa jenis (biasanya)berinteraksi satu dengan yang liannya. Vegetasi hutan dibentuk oleh individu tumbuhan yang beraneka ragam dan memiliki variasi pada setiap kondisi tertentu.Setiap tipe vegetasi dicirikan oleh setiap penampangan luar tumbuhan dominanya.

Analisa vegetasi merupakan cara mempelajari susunan (komponen jenis) dan bentuk (struktur) vegetasi atau masyarakat tumbuh-tumbuhan.Dalam pengumpulan jenis data yang diperoleh dapat dibedakan dalam dua kelompokberdasarkan beberapa sifat yang ada pada individu tumbuhan.Dan dalam analisa vegetasi ini terdapat banyak ragammetode analisa diantaranya yaitu:

1. Dengan cara petak tunggal
2. Dengan cara petak berganda
3. Dengan cara jalur (Transek) dengan cara garis berpetak
4. Dengan cara-cara tanpa petak

a.Cara Bitterlich
b.Cara kuadran(point quarter method)
c.Cara berpasangan(Random air method)


Kesempatan ini terbatas membicarkan cara kuadran karena dipandang sederhana sehingga cocok dilakukan saat dalam perjalanan/trans dan car garis berpetak yang lebih informative.

Cara pengambilan data :

1. Cara kuadran point
• Buat garis kompas
• Tentukan titik pengamatan (plat)
• Buat garis silang yang tegak lurus sehingga terbagi empat kuadran (daerah)
• Pilih satu pohon yang terldekat dari titik pengamatan untuk masing-masing kuadran sesuai dengan criteria (pohon,poles/tiang,sapling)
• Ukur diameternya
• Ukur jaraknnya terhadap titik pengamatan

Cara garis berpetak

Cara ini merupakan modifikasi dari cara petak ganda atau cara jalur.Cara garis berpetak dapat digambarkan sebagai berikut,cara kerja:

• Buat garis kompas
• Buat petak ukuran sebagai berikut
• Untuk seeding 2x2 m
• Untuk sapling 5x5 m
• Untuk poles 10x10 m
• Untuk pohon 20x20 m
• Catat nama dan diameter semua tumbuhan sesuai criteria (diameter khusus untuk pohon dan poles/tiang)
• Catat tempat kedudukannya (ordinat)

Kriteria /tingkatan tumbuhan pembagiannya berbeda,criteria yang digunakan adalah :

a. Seeding (semal) tinggi <>15 cm
d. Pohon tinggi >2m dengan lingkaran > 15 cm

Parameter

1. kerapatan (Density)

Banyaknya (abudance) merupakan jumlah individu dari satu jenis pohon dan tumbuhanlain yang besarnya dapat ditaksir atau dihitung.Secara kualitatif kualitatif dibedakan menjadi jarang terdapat ,kadang-kadang terdapat,sering terdapat dan banyak sekali terdapat( Ishernat Soerianegara dan Andry indrawan,1982).

Jumlah individu yang dinyatakan dalam persatuan ruang disebut kerapatan (Odum 1975) yang umunya dinyatakan sebagai jumlah individu,atau biosmas populasi persatuan areal atau volume,missal 200 pohon per Ha

2.Dominasi

Dominasi dapat diartikan sebagai penguasaan dari satu jenis terhadap jenis lain (bisa dalam hal ruang ,cahaya danlainnya),sehingga dominasi dapat dinyatakan dalam besaran:

1. Banyaknya Individu (abudance)dan kerapatan (density)
2. persen penutupan (cover percentage) dan luas bidang dasar(LBD)/Basal area(BA)
3. Volume
4. biomas
5. Indek nilai penting(importance value-IV)

Kesempatan ini besaran dominan yang digunakan adalh LBH dengan pertimbangan lebih mudah dan cepat,yaitu dengan melakukan pengukuran diameter pohon pada ketinggian setinggi dada (diameter breas heigt-dbh)

3.Frekwensi

Frekwensi merupakan ukuran dari uniformitas atau regularitas terdapatnya suatu jenis frekwensi memberikan gambaran bagimana pola penyebaran suatu jenis,apakah menyebar keseluruh kawasan atau kelompok.Hal ini menunjukan daya penyebaran dan adaptasiny terhadap lingkungan.

Raunkiser dalam shukla dan Chandel (1977) membagi fekwensi dalm lima kelas berdasarkan besarnya persentase,yaitu:

• Kelas A dalam Frekwensi 01 –20 %
• Kelas B dalam frekwensi 21-40 %
• Kelas C dalm frekwensi 41-60%
• Kelas D dalam frekwensi 61-80 %
• Kelas E dalam frekwensi 81-100%


4. Indek Nilai Penting(importance value Indeks)

Merupakan gambaran lengkap mengenai karakter sosiologi suatu spesies dalam komunitas( Contis dan Mc Intosh1951) dalam Shukla dan chandel (1977).Nilainya diperoleh dari menjumlahkan nilai kerapatan relatif,dominasi relaif dan frekwensi relatif,sehingga jumlah maksimalnya 300%.

Praktek analisa vegetasi sangat ditunjang oleh kemampuan mengenai jenis tumbuhan (nama) Kelemahan ini dapat diperkecil dengan mengajak pengenal pohon atau dengan membuat herbarium maupun foto yang nantinya dapat diruntut dengan buku pedoman atau dinyatakan keahli?pengenal pohon setempat,ataupundapat langsung berhubungan dengan lembaga Biologi Nasional Bogor.

Analisa vegetasi dapat dilanjutkan untuk menentukan indeks keanekaragaman ,indeks kesamaan ,indeks asosiasi,kesalihan,dll,yang dapat banyak memberikan informasi dalam pengolahan suatu kawasan? Penilaian suatu kawasan.

Data penunjang seperti tinggi tempat ,Ph tanah warna tanah,tekstur tanah dll,diperlukan untuk membantu dalam menginterpretasikan hasil analisa.

Analisis vegetasi adalah cara mempelajari susunan (komposisi jenis) dan bentuk (struktur) vegetasi atau masyarakat tumbuh-tumbuhan. Dalam ekologi hutan satuan yang diselidiki adalah suatu tegakan, yang merupakan asosiasi konkrit.
Analisis vegetasi dapat digunakan untuk mempelajari susunan dan bentuk vegetasi atau masyarakat tumbuh-tumbuhan :
  1. Mempelajari tegakan hutan, yaitu tingkat pohon dan permudaannya.
Mempelajari tegakan tumbuh-tumbuhan bawah, yang dimaksud tumbuhan bawah adalah suatu jenis vegetasi dasar yang terdapat dibawah tegakan hutan kecuali permudaan pohon hutan, padang rumput/alang-alang dan vegetasi semak belukar
Sedikit berbeda dengan inventarisasi hutan yang titik beratnya terletak pada komposisi jenis pohon. Perbedaan ini akan mempengaruhi cara sampling. Dari segi floristis-ekologis “random-sampling” hanya mungkin digunakan apabila langan dan vegetasinya homogen, misalnya padang rumput dan hutan tanaman. Pada umumnya untuk keperluan penelitian ekologi hutan lebih tepat dipakai “systimatic sampling”, bahkan “purposive sampling” pun boleh digunakan pada keadaan tertentu.
Analisis Vegetasi

Data vegetasi yang dikumpulkan dianalisis untuk mendapatkan nilai
Kerapatan Relatif (KR), Frekuensi Relatif (FR), Dominansi Relatif (DR), Indeks
Nilai Penting (INP), Indeks Keanekaragaman, Indeks Keseragaman, dari masingmasing
lokasi penelitian. Untuk analisis vegetasi pohon, nilai INP terdiri dari KR,
FR, dan DR, dianalisis menurut buku acuan Ekologi Hutan (Indriyanto, 2006).



1. Jarak Rata-Rata Individu Pohon Ke Titik Pengukuran (d) =
            d =
2.Kerapatan Seluruh Spesies perhektar (K) =

3.Kerapatan  Absolut (KA) =

4.Kerapatan Relatif (KR) =
5.Dominansi Absolut (DA) = KA × RD
            RD =
            BA =
            n = Jumlah pohon
6.Dominansi Relatif (DR) =  

7.Frekwensi Absolut (FA) =
8.Frekwensi Relatif (FR) =

9. Indeks nilai penting (INP) = KR + FR + DR





TABEL HASIL PENGAMATAN
No Titik Pengamatan
No Kuadran
Spesies Pohon
Jarak Pohon (cm)
Keliling Batang(cm)
1
I
Pinus
200
120

II
Pinus
250
180

III
Pohon x
220
108

IV
Pohon y
340
98
2
I
Pinus
450
88

II
Pohon z
490
120

III
Pinus
400
150

IV
Pohon y
330
220
3
I
Pohon y
600
140

II
Pohon x
200
230

III
Pinus
500
113

IV
Pohon z
480
86
4
I
Pohon z
600
99

II
Pohon x
700
112

III
Pinus
650
121

IV
Pinus
500
181
5
I
Pinus
750
123

II
Pohon k
420
134

III
Pohon k
650
98

IV
Pinus
210
97

 


DAFTAR PUSTAKA
Jumin, Hasan Basri. 1992. Ekologi Tanaman. Rajawali Press: Jakarta
Michael, P. 1995.  Metode Ekologi untuk Penyelidikan Ladang dan Laboratorium. UI Press: Jakarta.
Rahardjanto, Abdulkadir.  2001.  Ekologi Umum. Umm Press: Malang.
Rohman, Fatchur dan I Wayan Sumberartha.  2001.  Petunjuk Praktikum Ekologi Tumbuhan. JICA: Malang.
Syafei, Eden Surasana. 1990.  Pengantar Ekologi Tumbuhan.  ITB: Bandung.
Wolf, Larry dan S.J McNaughton. 1990.  Ekologi Umum.  UGM Press: Jogjakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar