Jumat, 06 Maret 2015

Imunologi (kekebalan) new


BAB I
PENDAHULUAN
Imunologi (kekebalan) adalah suatu cabang ilmu yang mempelajari respon tubuh terhadap tantangan suatu antigen. Mekanisme imunologi berperan pada pertahanan tubuh terhadap suatu penyebab infeksi tetapi sekali-kali dapat juga menyebabkan kerusakan. Uji imunologik sekarang sudah dipakai secara rutin di laboratorium. Dalam beberapa hal cara-cara lain dalam menegakkan diagnosis penyakit dan untuk menentukan cara perawatan penderita selanjutnya. Dengan ditemukannya teknologi yang mutakhir, yang baru ditemukan beberapa tahun yang disebut teknologi hibridoma, maka terjadilah revolusi dalam bidang imunologi. Teknik ini memungkinkan produksi dalam bidang antibodi terhadap suatu determinasi antigen saja. Teknik ini sekarang dapat diperoleh  antibodi yang sangat homogen dan khas dalam jumlah yang tidak terbatas. Pada masa ini imunologi meliputi semua reaksi, proses yang menguntungkan maupun merugikan. Secara singkat imunologi memiliki peranan yang luas meliputi konsep pengenalan, kekhasan, dan memori.
Antibodi adalah protein yang dapat ditemukan pada darah atau kelenjar tubuh vertebrata lainnya, dan digunakan oleh sistem kekebalan tubuh untuk mengidentifikasikan dan menetralisasikan benda asing seperti bakteri dan virus. Produksi antibodi yang terjadi pada mencit putih berdasarkan immunoglobin (Ig) dibentuk oleh sel plasma, berasal dari poliferasi sel B akibat kontak dengan antigen. Antibodi terbentuk secara spesifik ini akan mengikat antigen baru lainnya yang sejenis. Fungsi antibodi berikatan dengan resptor permukaan dari virus dan mencegah masuk kedalam sel (inactivation), selain itu berikatan dengan toxin yang larut dan menyebabkan presipitasi (neutralization), merangsang induksi fagositosis dan aktivasi komplement sistem menyebabkan sel lisis setelah serangan mikroorganisme.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun Rumusan Masalah dari makalah ini adalah sebagai berikut :
  1. Bagaimana sistem Immun pada hewan mencit putih setelah di beri serum darah mencit ?
  2. Bagaimana proses pembentukan anti bodi yang terjadi pada mencit putih ?

1.3 Tujuan  
Adapun Tujuan dari makalah ini adalah sebagai berikut :
  1. Dapat mengetahui bagaimana sistem Immun pada hewan mencit putih setelah di beri serum darah mencit.
  2. Dapat mengetahui bagaimana proses pembentukan anti bodi yang terjadi pada mencit putih.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

1.1.      MENCIT

Mencit (Mus musculus) adalah anggota Muridae (tikus-tikusan) yang berukuran kecil. Mencit mudah dijumpai di rumah-rumah dan dikenal sebagai hewan pengganggu karena kebiasaannya menggigiti mebel dan barang-barang kecil lainnya, serta bersarang di sudut-sudut lemari. Hewan ini diduga sebagai mamalia terbanyak kedua di dunia, setelah manusia. Mencit sangat mudah menyesuaikan diri dengan perubahan yang dibuat manusia, bahkan jumlahnya yang hidup liar di hutan barangkali lebih sedikit daripada yang tinggal di perkotaan. Mencit percobaan (laboratorium) dikembangkan dari mencit, melalui proses seleksi. Sekarang mencit juga dikembangkan sebagai hewan peliharaan.

 

1.2.      PENGGUNAAN

Mencit kadang-kadang disimpan sebagai hewan peliharaan dan mewah. Namun, sebagian besar tikus diperoleh dari peternak hewan laboratorium untuk digunakan dalam penelitian biomedis, pengujian, dan pendidikan. Bahkan, tujuh puluh persen dari semua hewan yang digunakan dalam kegiatan biomedis tikus. Melebihi dari 1000 saham dan strain tikus telah dikembangkan, serta ratusan mutan saham yang digunakan sebagai model penyakit manusia. Dalam hal genetika, mouse adalah mamalia dicirikan paling lengkap.

1.3.      ANTIBODI
             Interaksi antigen dengan antibodi bersifat non-covalen dan pada umumnya sangat spesifik. Antibodi hanya diproduksi oleh limfosit B dan disebarkan keseluruh tubuh secara eksositosis dalam bentuk plasma dan cairan sekresi. Mereka membentuk sel B antigen reseptor yang spesifik. Antibodi ditemukan dalam plasma juga berikatan dengan reseptor spesifik untuk daerah konstan (Fc) dari imunoglobulin.           
Setiap rantai pendek (VL) berat molekulnya sekitar 25.000 dalton, dimana ada dua jenis rantai pendek yaitu lambda (λ) atau kappa (κ).  Pada manusia terdiri dari 60% adalah kappa dan 40% lambda, sedangkan pada mencit 95% kappa dan 5% lambda. Satu molekul antibodi hanya mengandung lambda saja atau kappa saja dan tidak pernah keduanya.
            Setiap rantai panjang (VH) mempunyai berat molekul sekitar 50.000 dalton, yang terdiri dari daerah variabel (V) dan konstan ©. Rantai panjang (VH) dan rantai pendek (VL) terdiri dari sejumlah homolog yang mengandung kelompok sequence asam amino yang mirip tetapi tidak identik. Unit-unit homolog tersebut terdiri dari 110 asam amino yang disebut domain imunoglobulin. Rantai panjang mengandung satu domain variabel (VH) dan tiga dari empat domain konstan lainnya (CH1, CH2, CH3, CH4, bergantung pada klas dan isotipe antibodi). Daerah antara CH1 dan CH2 disebut daerah hinge (engsel), yang memudahkan pergerakan / fleksibilitas dari lengan Fab dari bentuk Y molekul anti bodi tersebut. Hal itu menyebabkan lengan tersebut dapat membuka atau menutup untuk dapat mengikat dua antigen determinan yang terpisahkan oleh jarak diantar kedua lengan tersebut.
            Rantai panjang juga dapat meningkatkan fungsi aktifitas dari molekul antibodi. Ada 5 klas antibodi yaitu: IgG, IgA, IgM, IgE dan IgD, yang dibedakan menurut jenis rantai panjangnya masing-masing yaitu: γ, α, μ, ε dan δ. Klas antibodi IgD, IgE dan IgG terbentuk dari struktur tunggal, sedangkan IgA mengandung dua atau tiga unit dan IgM terdiri dari 5 yang dihubungkan dengan sambungan disulfida. Antibodi IgG dibagi menjadi 4 subklas (disebut juga isotipe) yaitu IgG1, IgG2, IgG3, dan IgG4.
            Struktur dan fungsi IgG dapat dipecah oleh enzim pepsin dan papain menjadi beberapa fragmen yang mempunyai sifat biologi yang khas. Perlakuan dengan pepsin dapat memisahkan Fab2 dari daerah persambungan hinge (engsel). Karena Fab2 adalah merupakan molekul bivalen sehingga ia dapat mempresipitasi antigen. Enzim papain dapat memutus daerah hinge diantara CH1 dan CH2 untuk membentuk dua fragmen yang identik dan dapat bertahan dengan reaksi antigen-antibodi dan juga satu non-antigen-antibodi fragmen yaitu daerah fragmen kristalisabel (Fc). Bagian Fc ini adalah glikosilat yang mempunyai banyak fungsi efektor (yaitu: binding komplemen, binding dengan sel reseptor pada makrofag dan monosit dan sebagainya) dan dapat digunakan untuk membedakan satu klas antibodi dengan lainnya.

Faktor yang Mempengaruhi Pembentukan Antibodi
Perbedaan dalam respon imun primer dan sekunder , kadar antibodi yang dibentuk, lamanya lag phase dan lain-lain sangat bergantung pada beberapa faktor, antara lain :
1)      Jenis antigen
2)      Dosis antigen yang diberikan ke darah
3)      Cara masuk antigen ke tubuh
4)      Sensitivitas teknik yang digunakan untuk mengukur antibodi
Pembentukan antibodi tidak berlangsung tanpa batas, ada mekanisme kontrol yang mengendalikan dan menghentikaan pembentukan antibodi berlebihan. Beberapa di antara mekanisme control itu adalah berkurangya kadar antigen, pengaturan oleh idiotip, dan penekanan oleh sel T penekan.
Cara melihat apakah antibody sudah terbentuk dengan cara meneteskan serum ayam pada darah segar mencit. Jumlah leukosit meningkat karena terjadi pembelahan sel limfosit T helper. Limfa ada yang meningkat beratnya.

1.4.      Imunoglobulin A (IgA).
Imunoglobulin A adalah antibodi sekretori, ditemukan dalam saliva, keringat, air mata, cairan mukosa, susu, cairan lambung dan sebgainya. Yang aktiv adalah bentuk dimer (yy), sedangkan yang monomer (y) tidak aktif. Jaringan yang mensekresi bentuk bentuk dimer ini ialah sel epithel yang bertindak sebagai reseptor IgA, yang kemudian sel tersebut bersama IgA masuk kedalam lumen.

1.5.      Imunoglobulin D (IgD)
            Imunoglobulin D ini berjumlah sedikit dalam serum. IgD adalah penenda permukaan pada sel B yang matang. IgD dibentuk bersama dengan IgM oleh sel B normal. Sel B membentuk IgD dan IgM karena untuk membedakan unit dari RNA.

1.6.      Imunoglobulin E (IgE)
            Imunoglobulin E ditemukan sedikit dalam serum, terutama kalau berikatan dengan mast sel dan basophil secara efektif, tetapi kurang efektif dengan eosinpphil. IgE berikatan pada reseptor Fc pada sel-sel tersebut. Dengan adanya antigen yang spesifik untuk IgE, imunoglobulin ini menjadi bereaksi silang untuk memacu degranulasi dan membebaskan histamin dan komponen lainnya sehingga
menyebabkan reaksi anaphylaksis. IgE sangat berguna untuk melawan parasit.

1.7.      Imunoglobulin M (IgM)
            Imunoglobulin M ditemukan pada permukaan sel B yang matang. IgM mempunyai waktu paroh biologi 5 hari, mempunyai bentuk pentamer dengan lima valensi. Imunoglobulin ini hanya dibentuk oleh faetus. Peningkatan jumlah IgM mencerminkan adanya infeksi baru atai adanya antigen (imunisasi/vaksinasi). IgM adalah merupakan aglutinin yang efisien dan merupakan isohem- aglutinin alamiah. IgM sngat efisien dalam mengaktifkan komplemen. IgM dibentuk setelah terbentuk T-independen antigen, dan setelah imunisasi dengan T-dependent antigen.

1.8.      Imunoglobulin G (IgG)
            Imunoglobulin G adalah divalen antigen. Antibodi ini adalah imunoglobulin yang paling sering/banyak ditemukan dalam sumsum tulang belakang, darah, lymfe dan cairan peritoneal. Ia mempunyai waktu paroh biologik selama 23 hari dan merupakan imunitas yang baik (sebagai serum transfer). Ia dapat mengaglutinasi antigen yang tidak larut. IgG adalah satu-satunya imunoglobulin yang dapat melewati plasenta.

1.9.      ANTIGEN
Antigen merupakan bahan asing yang dikenal dan merupakan target yang akan dihancurkan oleh sistem kekebalan tubuh. Antigen ditemukan di permukaan seluruh sel, tetapi dalam keadaan normal, sistem kekebalan seseorang tidak bereaksi terhadap selnya sendiri. Sehingga dapat dikatakan antigen merupakan sebuah zat yang menstimulasi tanggapan imun, terutama dalam produksi antibodi. Antigen biasanya protein atau polisakarida, tetapi dapat juga berupa molekul lainnya, termasuk molekul kecil (hapten) dipasangkan ke protein-pembawa.
Pada umumnya, antigen-antigen dapat di klasifikasikan menjadi dua jenis utama, yaitu antigen eksogen dan antigen endogen. Antigen eksogen adalah antigen-antigen yang disajikan dari luar kepada hospes dalam bentuk mikroorganisme,tepung sari,obat-obatan atau polutan. Antigen ini bertanggungjawab terhadap suatu spektrum penyakit manusia, mulai dari penyakit infeksi sampai ke penyakit-penyakit yang dibenahi secara immologi, seperti pada asma. Virus influenza misalnya yang merupakan penyebab utama epidemik penyakit saluran pernapasan pada manusia, terdapat di alam dalam berbagai jenis antigenic yang dikenal sebagai A, B, dan C.
Antigen endogen adalah antigen yang terdapat didalam tubuh dan meliputi antigen-antigen berikut:antigen senogeneik (heterolog), antigen autolog dan antigen idiotipik atau antigen alogenik (homolog). Antigen senogeneik adalah antigen yang terdapat dalam aneka macam spesies yang secara filogenetik tidak ada hubungannya, antigen-antigen ini penting untuk mendiagnosa penyakit.

1.10.  SERUM
Serum secara definisi adalah suatu cairan tubuh yang mengandung sistem kekebalan terhadap suatu kuman yang apabila dimasukkan ke dalam tubuh seseorang, maka orang tersebut akan mempunyai kekebalan terhadap kuman yang sama (imunitas pasif – red). Fungsi utama serum adalah mengobati suatu penyakit yang diakibatkan oleh kuman.
Mana yang dapat kita pilih untuk pembentukan kekebalan tubuh. Tergantung kondisi dan keadaan. Jika kita menginginkan pencegahan terhadap suatu penyakit, maka kita boleh memilih vaksin. Namun apabila kita telah terkena oleh suatu penyakit, maka kita pilih serum.
Akan tetapi apabila kita hanya menggunakan serum, maka sifatnya hanya mengobati dan tidak meninggalkan imunitas terhadap penyakit yang diobatinya. Jadi, kemungkinan besar kita akan bisa terkena penyakit yang sama berulang kali. Oleh karena itu, selain pemberian serum apabila tubuh kita sudah sembuh dari penyakit segeralah lakukan vaksinasi.
Serum dibuat dengan cara memasukkan vaksin ke dalam tubuh suatu hewan (sapi, kuda, kambing, dll) sehingga kekebalan tubuhnya memberikan respon terhadap vaksin tersebut. Setelah diuji dan hasilnya menunjukkan bahwa hewan tersebut telah kebal terhadap vaksin yang dimasukkan, maka dilakukan pengambilan darah melalui vena leher (vena jugularis). Setelah diambil, darah kemudian dipisahkan antara plasma dengan sel-sel dan protein darahnya. Plasma darah kemudian dimurnikan menjadi serum. Serum inilah yang akan memberikan kekebalan kepada seseorang yang melakukan imunisasi dengan serum.
Serum karena jumlahnya tidak terlalu banyak seperti vaksin, maka tidak perlu kita kelompokkan. Contoh serum yang sudah dapat dibuat di Indonesia adalah serum anti tetanus, serum anti difteri, serum anti bisa ular, dan serum anti rabies.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Lokasi Penelitian dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Kandang Jurusan Biologi  Fakultas FMIPA Universitas Negeri Medan  Jln.Willem Iskandar Psr. V Medan Estate, yang dimulai pada bulan Februari -  April  2011.

3.2 Alat dan Bahan

ALAT
No
Nama Alat
Jumlah
1
Kandang
1 buah
2
Kotak kecil sebagai tempat makan
1 buah
3
Botol tempat air minum
1 buah
4
Gunting
1 buah
5
Timbangan digital
1 buah
6
Jarum suntik 5 ml dan 1 ml
Masing- masing 1 buah
7
Pisau kecil
1 buah
8
Baki bedah
1 buah
9
Gunting bedah
1 buah
10
Kawat kasa
1 meter
11
Tabung reaksi
8 buah
12
Pipet volum
1 buah
13
Mikroskop
1 buah
14
Tusuk gigi untuk mengaduk darah
3 buah
15
Objek glass
3 buah
16
Pipet tetes
1 buah
17
Tissue dan kain serbet
Secukupnya
18
Pinset
1 buah


BAHAN
No
Nama Bahan
Jumlah
1
Mencit
10 ekor
2
Marmut (Cavia cobaya)
1 ekor
3
Pellet jenis 05
Secukupnya
4
Air
Secukupnya
5
Sekam
Secukupnya
6
Gymsa
secukupnya


3.3 Prosedur Kerja
1.      Penyediaan kandang mencit
Kandang terbuat dari sejenis kaca berukuran (50x25x15) cm. Kemudian melapisi kandang dengan sekam setinggi ¼ tinggi wadah, menyediakan tempat makan dan minum bagi mencit didalam kandang . 

2.      Aklimatisasi
Praktikan menyediakan 10 ekor mencit yang berumur 2 bulan kemudian mengkarantina pada kandang yang telah disediakan selama 2 minggu. Tujuan aklimatisasi ini adalah untuk menyesuaikan kondisi fisik dan fisiologi tubuh mencit, serta penyesuaian kondisi lingkungan seperti pada kandang awal di tempat peternakan.

3.      Pembuatan serum
Praktikan menyediakan serum dari darah marmut atau Cavia cobaya yang akan disuntikkan sebagai antibody pada mencit.
Cara membuat cavia serum :
Ø  Setiap kelompok harus memiliki minimal 10 ml serum darah Marmut (Cavia cobaya), sehinga harus  menyediakan 1 ekor Marmut (Cavia cobaya).
Ø  Marmut (Cavia cobaya) dibunuh dengan pisau pada bagian leher Marmut (Cavia cobaya) dan segera menampung darah segar tersebut pada beberapa tabung reaksi yang telah bersih.
Ø  Kemudian darah segar Marmut (Cavia cobaya) yang sudah ditempatkan pada beberapa tabung reaksi dimasukkan   ke mesin sentrifuge. Disentrifuge selama 5 menit dengan kecepatan 3600 rpm. Sehingga pada tabung reaksi akan terlihat bagian plasma darah yang akan mengendap pada bagian bawah dan serum akan memisah pada bagian atas.
Ø  Memisahkan serum dengan plasma darah dengan cara. Memipet serum dari tabung reaksi dan menampungnya pada jarum suntik yang besar, membungkusnya dengan kertas koran dan memberi kertas label dan menyimpannya di kulkas agar tetap steril dan segar sebelum digunakan.

1.      Pembuatan preparat apusan
Untuk mengetahui jumlah leukosit awal Mencit (Mus musculus) maka perlu dibuat preparat apusan dengan cara:
Ø  Mengambil darah Mencit (Mus musculus) dari pembuluh darah yang terdapat dibagian ekor,meneteskan setetes darah pada 1 objek gelas yang steril pada bagian ujungnya.
Ø  Meratakan tetesan darah dengan cara meletakkan objek gelas yang kedua dimana posisinya menyilang pada ujung yang ditetesi darah, mendorong objek gelas kedua sampai keujung sehingga darah akan merata pada objek gelas pertama objek gelas yang lain. Pada saat pembuatan preparat apusan, sebaiknya perataan darah pada objek gelas sebaiknya jangan berulang agar hasilnya dapat diamati dengan jelas.
Ø  Menambahkan setetes pewarna Gimsan, meratakan dengan cara menggoyang-goyang objek gelas kemudian mengerikannya selama 10 menit dan segera mencuci dengan air keran yang alirannya sangat kecil agar sel darah tidak ikut tercuci tetapi pada bagian bawah objek gelas.
Ø  Mengamati  bentuk leukositnya pada mikroskop dan menghitung jumlahnya.




2.      Perlakuan Percobaan
Ø  Praktikan  memulai perlakuan dengan cara : 1 ekor mencit ditimbang berat tubuhnya, kemudian praktikan membedahnya, megambil limfanya, dan menimbangnya.
Ø  Praktikan memberi serum darah ayam pada kelompok mencit tertentu melalui oral dengan dosis 0,8 ml. Yang dilakukan adalah dosis 0,8 sehingga serum yang terpakai adalah 4,0 ml dan sisanya sebanyak 0,9 akan digunakan untuk kegiatan tes aglutinasi.
Ø  Pada hari kedua setelah pemberian serum, praktikan membuat preparat apusan sel darah mencit yang telah diberi  serum ayam, dan menghitung jumlah leukositnya.
Ø  Pada hari ketiga praktikan menimbang 1 ekor mencit, menmbedahnya, menimbang limfanya, dan menghitung jumlah leukositnya.
Ø  Pada hari ke tujuh praktikan menimbang 1 ekor mencit, menmbedahnya, menimbang limfanya, dan menghitung jumlah leukositnya dan melakukan uji aglutinasi dengan cara:
-          Mengambil sampel darah mencit yang dibedah tersebut dan meneteskan 1 tetes pada objek glas.
-          Meneteskan 1-2 tetes serum darah ayam sisa penyuntikan tersebut.
-          Mengaduk campuran serum dan darah mencit itu dengan menggunakan tusuk gigi.
-          Mengamati perubahan yang terjadi , yaitu terjadi aglutinasi, berarti pada mencit telah terbentuk antibody.
Ø  Pada hari ke 14 praktikan menimbang 1 ekor mencit, menmbedahnya, menimbang limfanya, dan menghitung jumlah leukositnya dan melakukan uji aglutinasi dengan cara:
Ø  Mengambil sampel darah mencit yang dibedah tersebut dan meneteskan 1 tetes pada objek glas.
-          Meneteskan 1-2 tetes serum darah ayam sisa penyuntikan tersebut.
-          Mengaduk campuran serum dan darah mencit itu dengan menggunakan tusuk gigi
-          Mengamati perubahan yang terjadi , yaitu terjadi aglutinasi, berarti pada mencit telah terbentuk antibody.
Ø  Pada hari ke 21 praktikan menimbang 1 ekor mencit, menmbedahnya, menimbang limfanya, dan menghitung jumlah leukositnya dan melakukan uji aglutinasi dengan cara:
-          Mengambil sampel darah mencit yang dibedah tersebut dan meneteskan 1 tetes pada objek glas.
-          Meneteskan 1-2 tetes serum darah ayam sisa penyuntikan tersebut.
-          Mengaduk campuran serum dan darah mencit itu dengan menggunakan tusuk gigi.
-          Mengamati perubahan yang terjadi , yaitu terjadi aglutinasi, berarti pada mencit telah terbentuk antibodi.

3.      Pembuatan preparat apusan untuk mengetahui jumlah leukosit dari mencit :
Ø  Mengambil darah mencit dari pembuluh darah pada bagian ekor mencit, meneteskan setetes darah pada bagian ujung objek gelas yang steril, meratakan tetesan darah dengan cara meletakkan objek gelas yang kedua posisinya berada pada ujung yang ditetesi darah tadi, kemudian mendorong objek gelas kedua sampai keujung sehingga darah merata pada objek gelas pertama. Pada saat pembuatan preparat apusan, sebaiknya perataan darah pada objek gelas sebaiknya jangan berulang agar hasilnya dapat diamati dengan jelas.
Ø  Menambahkan setetes Gymsa kemudian meratakan dengan cara menggoyang-goyang objek glas dan segera mencuci bagian belakang dari objek glass dengan air keran yang alirannya sangat kecil agar sel darah tidak ikut tercuci.
Ø  Segera diamati leukositnya pada mikroskop dan menghitung jumlahnya.

7.        Pengamatan Parameter
Ø  Pembentukan Antibodi yang terjadi di tubuh Mnecit
Ø  Berat Limpa, Pengamatan berat limpa diukur dari mulai pembedahan mencit pertama sampai pembedahan mencit kelima.
Ø  Berat Badan, Pengamatan berat badan diukur setiap akan melakukan pembedahan mencit dari mencit pertama sampai mencit kelima.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

v  Data hasil percobaan kelompok 1 dengan serum 0,8 ml

Hari
Berat tubuh (gram)
Berat limfa (gram)
Jumlah leukosit
1
34,6
0.2
55
3
34,5
0,2
110
7
35
0.2
-
14
34
0,3
-
21
26,1
0,1
-
28
36,5
0.2
-

v  Data hasil percobaan kelompok 2 (Kontrol)

Hari
Berat tubuh (gram)
Berat limfa (gram)
Jumlah leukosit
1
34,3
0,1
55
3
37
0,3
121
7
27,9
0,1
-
14
30,3
0,3
-
21
36
0,3
-
28
35
0.3
-

v  Data hasil percobaan kelompok 3 dengan serum 0,2

Hari
Berat tubuh (gram)
Berat limfa (gram)
Jumlah leukosit
1
34,6
0,2
55
3
28,7
0,1
57
7
35
0,2
-
14
30
0,2
-
21
34,2
0,2
-
28
33
0,1
-

v  Data hasil percobaan kelompok 4 dengan serum 0,6

Hari
Berat tubuh (gram)
Berat limfa (gram)
Jumlah leukosit
1
30,4
0,1
55
3
34,4
0,2
44
7
24,4
0,1
-
14
37,1
0,3
-
21
34,7
0,1
-
28
35
0,2
-

v  Data hasil percobaan kelompok 5 dengan serum 0,4

Hari
Berat tubuh (gram)
Berat limfa (gram)
Jumlah leukosit
1
45,2
0,3
55
3
37
0,1
65
7
34,7
0,1
-
14
35,1
0,2
-
21
31,8
0,2
-
28
34
0,2
-



Berdasarkan grafik di atas maka dapat disimpulkan bahwa pada perlakuan kontrol  hari ke-1, dan hari ke-7 perbandingan berat tubuh dengan berat limpa sama yaitu 0,57 namun pada hari ke-3 perbandingan berat tubuh dengan berat limfa menurun yaitu 0,34 dari hari ke 1, kemudian kembali naik pada hari ke-7 yaitu 0,57 dan naik lagi pada hari ke-14 yaitu 0,66, sedangkan pada hari ke 21 kembali menurun yaitu 0,58 dan pada hari ke 28 perbandingan berat tubuh dengan berat limfa juga mengalami penurun yaitu 0,30. Berdasarkan grafik ini dapat dijelaskan bahwa adanya penurunan dan peningkatan dari perbandingan berat tubuh dengan berat limfa dikarenakan adanya virus atau sejenis antigen lain yang masuk ke dalam tubuh mencit tersebut pada saat pemberian pakan dan minuman mencit yang dapat mempengaruhi kondisi tubuhnya sehingga menyebabkan berat limfanya tidak stabil.
Berdasarkan teoritisnya bahwa berat limfa pada hari ke 7 sampai  ke 14 akan meningkat namun pada hari ke 21 sampai hari ke 28 berat limfa akan menurun dikarenakan hal ini sesuai dengan pembentukan antibodi (immunoglobulin G) yang meningkat (memuncak) setelah terjadinya pemaparan antigen. Selain itu berat limpa juga bertambah menandakan bahwa kerja limpa semakian berat untuk memproduksi sel limfosit terutama Limfosit B yang berfungsi menghasilkan antibodi sebagai pertahanan tubuh untuk melawan antigen yang masuk kedalam tubuh mencit tersebut. Sedangkan pada hari keempat belas, keduapuluh satu (21) hingga keduapuluh delapan (28) terjadi penurunan berat karena semua antigen yang masuk sudah berhasil difagositosis.
Pada perlakuan control, perbandingan berat tubuh limfa dengan berat limfa yaitu 0,29 sedangkan pada hari ke 3 terjadi peningkatan yang jauh yaitu 0,81 sedangkan pada hari ke 7 terjadi penurunan yaitu 0,35, pada hari ke 14 perbandingan tubuh mencit dengan berat limfa meningkat jauh dari hari ke 7 yaitu 0,99 dan pada hari ke 21 dan 28 terjadi penurunan sedikit dari hari ke 14 yaitu 0,83 dan 0,85. Hal yang menyebabkan penurunan dan peningkatan berat tubuh dengan berat limfa ini dikarenakan Pada perlakuan kontrol, berat limfanya meningkat mula-mula kemudian menurun dan naik lagi, hal ini disebabkan kemugkinan karena pada tahap awal aklimatisasi bobot tubuh tidak sama secara keseluruhan sebelum dan setelah diaklimatisasi, atau dapat pula disebabkan adanya virus atau sejenis antigen lain yang masuk ke dalam tubuh mencit tersebut pada saat pemberian pakan dan minuman mencit yang dapat mempengaruhi kondisi tubuhnya sehingga menyebabkan berat limfanya tidak stabil. Dan seharusnya berat limpa dari mencit kontrol ini harus stabil karena tidak diberi antigen sehingga dapat lebih jelas untuk membandingkannya dengan mencit yang diberikan perlakuan antigen.


Grafik Perbandingan Jumlah Leukosit
 

Berdasarkan Grafik di atas dapat disimpulkan bahwa hari 1 jumlah leukosit yang didapatkan sama yaitu 55. Berdasarkan hasil yang diperoleh dapat dinyatakan  serum yang digunakan pada mencit adalah serum yang tidak sesuai dengan serum yang sebenarnya karena serum yang didapatkan oleh setiap kelompok tidak berwarna kuning keputih-putihan namun berwarna merah pekat. Sehingga untuk melihat jumlah leukosit dari setiap kelompok tidak ada yang bebeda. Pada hari ke 3 terjadi perubahan jumlah leukosit terlihat pada kelompok 1 yang menggunakan serum 0,8 cc memiliki jumlah leukosi 110, sedangkan pada kelompok 4 yang menggunakan serum 0,6 cc terjadi penurunan jumlah leukosit. Hal ini disebabkan antigen yang telah masuk kedalam tubuh mencit telah di hancurkan jadi jumlah leukosit yang diperoleh sedikit. Namun pada kelompok 1 dimana terjadi peningkatan yaitu sebesar 110 hal ini disebabkan karena antigen yang masuk kedalam tubuh mencit belum di fagosit oleh sel-sel  fagositosis sehingga jumlah leukosit meningkat. Pada kelompok kontrol jumlah lekosit 121 dikarenakan pada kelompok ini tidak diberikan serum sehingga tidak ada fagositosis antigen di dalam tubuh mencit.



Grafik Perbandingan Berat Limfa Pada Mencit setiap kelompok
 


Berdasarkan grafik diatas dapat disimpulkan bahwa pada kelompok 1, 4 pada hari ke 14 meningkat sedangkan pada hari ke 21 berat limfa menurun, hal ini tidak sesuai dengan teoritisnya. Disebabkan karena adanya virus atau sejenis antigen lain yang masuk ke dalam tubuh mencit tersebut pada saat pemberian pakan dan minuman mencit yang dapat mempengaruhi kondisi tubuhnya sehingga menyebabkan berat limfanya tidak stabil. Pada kelompok kontrol berat limfanya sesuai berdasarkan teoritisnya hal ini disebabkan pembentukan antibodi (immunoglobulin G) yang meningkat (memuncak) setelah terjadinya pemaparan antigen. Selain itu berat limpa juga bertambah menandakan bahwa kerja limpa semakian berat untuk memproduksi sel limfosit terutama Limfosit B yang berfungsi menghasilkan antibodi sebagai pertahanan tubuh untuk melawan antigen yang masuk kedalam tubuh mencit tersebut. Sedangkan pada hari keempat belas, keduapuluh satu (21) hingga keduapuluh delapan (28) terjadi penurunan berat karena semua antigen yang masuk sudah berhasil difagositosis. Sedangkan pada kelompok 3 dan 5 pada hari ke 14 dan 21 berat limfa sama, mungkin hal ini disebabkan karena belum terbentuk antibodi sebagai pertahanan tubuh untuk melawan antigen yang masuk ke dalam tubuh mencittersebut sehingga berat limfa pun tidak berubah.



4.2. Mekanisme Pembentukan Antibodi
Limfosit tidak bereaksi dengan sebagian besar antigen, tetapi sel T mempunyai suatu interaksi yang sangat penting dengan salah satu kelompok penting molekul asli. Molekul tersebut merupakan kumpulan glikoprotein permukaan sel (rantai protein yang berikatan dengan rantai gula) yang dikode oleh sebuah kelompok gen yang disebut sebagai kompleks histokompatibilitas mayor (Major Histocompatibility Complex, MHC). Pada manusia glikoprotein MHC juga dikenal sebagai HLA (Human Leukocyte Antigen). Ada dua jenis molekul MHC yang menandai sel tubuh yaitu
1.      MHC kelas I ditemukan pada semua sel bernukleus pada hamper setiap sel tubuh.
2.      MHC kelas II terbatas haanya pada beberapa jenis sel khusus yang meliputi    makrofaga, sel B, sel T yang telah diaktifkan dan sel-sel yang menyusun bagian interior tymus. 

 

Gambar. Interaksi sel T dengan molekul MHC

Sel T pembunuh (sel T sitotoksik) secara langsung menyerang sel lainnya yang membawa antigen asing atau abnormal di permukaan mereka. Sel T pembunuh adalah sub-grup dari sel T yang membunuh sel yang terinfeksi antigen, atau merusak dan mematikan patogen. Seperti sel B, tiap tipe sel T mengenali antigen yang berbeda. Sel T pembunuh diaktivasi ketika reseptor sel T mereka melekat pada antigen spesifik pada kompleks dengan reseptor kelas I MHC dari sel lainnya. Pengenalan MHC ini:kompleks antigen dibantu oleh co-reseptor pada sel T yang disebut CD8.
Sel T pembantu (sel T helper) mengatur baik respon imun bawaan dan adaptif dan membantu menentukan tipe respon imun mana yang tubuh akan buat pada patogen khusus. Sel tersebut tidak memiliki aktivitas sitotoksik dan tidak membunuh sel yang terinfeksi atau membersihkan patogen secara langsung, namun mereka mengontrol respon imun dengan mengarahkan sel lain untuk melakukan tugas tersebut. Sel T pembantu mengekspresikan reseptor sel T yang mengenali antigen melilit pada molekul MHC kelas II. MHC:antigen kompleks juga dikenali oleh reseptor sel pembantu CD4 yang merekrut molekul didalam sel T yang bertanggung jawab untuk aktivasi sel T.
Sel-sel yang menghancurkan antigen adalah sel b dan makrofaga. Kelompok sel tersebut bertindak sebagai sel penyaji antigen (antigen presenting cell, APC) yang mensiagakan sistem kekebalan melalui sel T helper, bahwa ada anti gen asing dalam tubuh. Sementara molekul MHC kelas II yang baru disintesis bergerak menuju permukaan makrofaga, molekul itu menangkap salah satu diantara peptide bakteri itu dalam lekukan pengikat antigennya dan membawanya ke permukaan, sehingga memperlihatkan peptide asing itu ke sel T helper. Interaksi antara sel penyaji antigen dengan sel T helper semakin meningkat dengan kehadiran CD4. Interaksi antara CD4 dengan molekul MHC kelas II membantu mempertahankan sel T helper dan sel penyaji tetap menyatu, sementara aktivasi antigen yang berrsifat spesifik sedang berlangsung

Ketika sel T helper diseleksi melalui kontak spesifik dengan kompleks MHC kelas II dan antigen pada sebuah APC sel t helper akan memperbanyak diri dan berdiferensiasi menjadi klon sel T helper yang diaktifkan dan sel T helper memori. Sel T helper yang diaktifkan mensekresikan beberapa sitokin yang berbeda, yang merupakan protein yang berfungsi untuk merangsang limfosit lain. Sebagai contoh sitokin interleukin-2 (IL-2) membantu sel B yang telah mengadakan kontak dengan antigen untuk berdiferensiasi menjadi sel plasma yang mensekresi antibodi. IL-2 juga membantu sel T sitotoksik untuk menjadi pembunuh yang aktif. Sel T helper itu sendiri patuh pada pengaturan oleh sitokin.
Sementara makrofaga memfagositosis dan menyajikan antigen, makrofaga itu dirangsang untuk mensekresi suatu sitokin yang disebut interleukin-1 (IL-1). IL-1 dalam kombinsi dengan antigen yang disajikan, mengaktifkan sel T helper untuk menghasilkann IL-2dan sitokin lain. Merupakan satu contoh uumpan balik positif adalah peristiwa saat IL-2 yang disekresi oleh sel T helper juga akan merangsang sel tersebut untuk memperbanyak diri lebih cepat lagi dan untuk menjadi penghasil sitokin yang lebih aktif lagi. Dengan cara ini sel T helper memodulasi respon kekebalan humoral (sel B) maupun respon kekebalan yang diperantarai oleh sel (sel T sitotoksik).

Gambar. Sistem kekebalan
http://stat.kompasiana.com/files/2010/05/2010-04-29-06-24-42_01341-300x126.jpgSebuah sel T sitotoksik, yang diaktifkan oleh kontak spesifik dengan molekul MHC kelas I dan antigen pada sel yang terinfeksi atau sel tumor dan dirangsang lebih lanjut oleh IL-2 dari sel T helper, yang berdiferensiasi menjasi sel pembunuh yang aktif. Sel ini membunuh apa yang disebut sel target terutama dengan cara pembebasan perforin, yaitu protein yang membentuk pori atau lubang pada membrane sel target. Karena ion dan air mengalir ke dalam sel target, maka sel itu membengkak dan akhirnya lisis. Kematian sel-sel yang terinfeksi itu bukan saja menghilangkan tempat bagi pathogen untuk bereproduksi tetapi juga memaparkannya ke antibodi yang sedang beredar, sehingga menandainya untuk dibuang dan dihancurkan. Setelah merusak sel yang terinfeksi, sel T sitotoksik terus bergerak membunuh sel-sel lain yang terinfeksi dengan pathogen yang sama.

Banyak antigen dapat memicu respon kekebalan humoral oleh sel B hanya dengan partisipasi sel T helper. Antigen seperti ini disebut antigen yang bergantung pada sel T, dan sebagian besar antigen, protein termasuk dalam jenis ini. Adapun proses pengahasilan antibodi yang dilakukan oleh sel B yaitu:
v  Makrofag menelan pathogen yang masuk ke dalam tubuh
v  Fragmen antigen dari pathogen yang dicerna sebagian lalu membentuk kompleks dengan protein MHC kelas II. Kompleks ini kemudian diangkut ke permukaan sel, tempat kompleks tersebut disajikan ke sel-sel lain milik system kekebalan.
v  Sel T helper dengan reseptor yang spesifik untuk antigen yang disajikan itu berinteraksi dengan makrofaga dengan cara berikatan dengan kompleks MHC dan antigen.
v  Sel T helper yang diaktifkan kemudian berinteraksi dengan sel B yang telah menghancurkan antigen dengan cara endositosis dan memperlihatkan fragmen antigen bersama dengan protein MHC kelas II. Sel T helper mensekresikan IL-2 dan sitokin lain yang mengaktifkan sel B.
v  Sel B lalu membelah secara berulang-ulang dan berdiferensiasi menjadi sel B memori dan sel plasma, yang merupakan sel ecfektor yang mensekresi antibodi pada kekebalan humoral.
 

Gambar. Respon humoral terhadap antigen yang bergantung pada sel T
 
Banyak antigen dapat memicu respon kekebalan humoral oleh sel B hanya dengan partisipasi sel T helper. Antigen seperti ini disebut antigen yang bergantung pada sel T, dan sebagian besar antigen, protein termasuk dalam jenis ini. Adapun proses pengahasilan antibodi yang dilakukan oleh sel B yaitu:
v  Makrofag menelan pathogen yang masuk ke dalam tubuh
v  Fragmen antigen dari pathogen yang dicerna sebagian lalu membentuk kompleks dengan protein MHC kelas II. Kompleks ini kemudian diangkut ke permukaan sel, tempat kompleks tersebut disajikan ke sel-sel lain milik system kekebalan.
v  Sel T helper dengan reseptor yang spesifik untuk antigen yang disajikan itu berinteraksi dengan makrofaga dengan cara berikatan dengan kompleks MHC dan antigen.
v  Sel T helper yang diaktifkan kemudian berinteraksi dengan sel B yang telah menghancurkan antigen dengan cara endositosis dan memperlihatkan fragmen antigen bersama dengan protein MHC kelas II. Sel T helper mensekresikan IL-2 dan sitokin lain yang mengaktifkan sel B.
v  Sel B lalu membelah secara berulang-ulang dan berdiferensiasi menjadi sel B memori dan sel plasma, yang merupakan sel ecfektor yang mensekresi antibodi pada kekebalan humoral.

Meningkatnya kadar antibodi di dalam serum pada imumun sekunder terjadi karena kemapuan memori yang dimiliki oleh system pembentukan antibodi terhadap keterpaparan dengan suatu antigen sebelumnya. Setelah beberapa hari pemaparan pertama oleh antigen yang masuk ke dalam tubuh timbullah respon immune tanggap kebal primer yang di tandai dengan muncullanya IgM.
Saat antara pemaparan antigen dan munculnya IgM disebut lag phase. Kadar IgM mencapai puncaknya setelah kira-kira 7 hari. Enam sampai tujuh hari setelah pemaparan did lam serum mulai dapat di deteksi IgG, sedangkan IgM mulai berkurang sebelum IgG mencapai puncaknya. Igg mencapai puncaknya setelah 10-14 hari pemaparan antigen. Kemudian 4-5 minggu setelah pemaparan , kadar antibody berkuarang dan umumnya hanya sedikkt yang dapat dideteksi.
Bila pemaparan dengan antigen yang sama terjadi keduakalinya, terjadilah respon immune sekunder yang sering juga disrbut booster. Pada respon sekunder ini lag pahasenya pendek. Pada respon sekunder ini, baik IgM maupun IgG meningkat dengan cepat. Puncak IgM umumnya tidak melebihi puncaknya pada respon primer, sedangkan kadar IgG meningkat jauh lebih tinggi dan berlangsung jauh lebih lama. Hal ini terjadi karena telah adanya sel B dan Sel T memmory akibat pemaran pertama
Dari data diatas dalam perlakuan pemberian serum terhadap mencit terjadi kepekaan  yang merangsang respon immunologic yaitu pada hari kedua dengan jumlah leukosit yang meningkat drastic terhadap pengamatan hari III, hari VII, hari XIV dan hari XXI ini disebabkan karena status immunologic baik yang seluluer maupun humoral meningkat atau yang disebut reaksi Hipersensitivitas
Reaksi hipersentivitas terjadi jika pada yang tubuh  memiliki imunitas alamiah yang bersifat non-spesifik dan imunitas spesifik ialah sistem imunitas humoral yang secara aktif diperankan oleh sel limfosit B, yang memproduksi 5 macam imunoglobulin dan sistem imunitas seluler yang dihantarkan oleh sel limfosit T, yang bila mana ketemu dengan antigen lalu mengadakan diferensiasi dan menghasilkan zat limfokin, yang mengatur sel-sel lain untuk menghancurkan antigen tersebut. Bilamana suatu alergen masuk ke tubuh, maka tubuh akan mengadakan respon. Bilamana alergen tersebut hancur, maka ini merupakan hal yang menguntungkan, sehingga yang terjadi ialah keadaan imun. Tetapi, bilamana merugikan, jaringan tubuh menjadi rusak, maka terjadilah reaksi hipersensitivitas atau alergi. Reaksi hipersentsitivitas memiliki 4 tipe reaksi seperti berikut:
Tipe I : Reaksi Anafilaksi
Di sini antigen atau alergen bebas akan bereaksi dengan antibodi, dalam hal ini IgE yang terikat pada sel mast atau sel basofil dengan akibat terlepasnya histamin. Keadaan ini menimbulkan reaksi tipe cepat.
Tipe II : Reaksi sitotoksik
Di sini antigen terikat pada sel sasaran. Antibodi dalam hal ini IgE dan IgM dengan adanya komplemen akan diberikan dengan antigen, sehingga dapat mengakibatkan hancurnya sel tersebut. Reaksi ini merupakan reaksi yang cepat menurut Smolin (1986), reaksi allografi dan ulkus Mooren merupakan reaksi jenis ini.
Tipe III : reaksi imun kompleks
Di sini antibodi berikatan dengan antigen dan komplemen membentuk kompleks imun. Keadaan ini menimbulkan neurotrophichemotactic factor yang dapat menyebabkan terjadinya peradangan atau kerusakan lokal. Pada umumnya terjadi pada pembuluh darah kecil. Pengejawantahannya di kornea dapat berupa keratitis herpes simpleks, keratitis karena bakteri.(stafilokok, pseudomonas) dan jamur. Reaksi demikian juga terjadi pada keratitis Herpes simpleks.
Tipe IV : Reaksi tipe lambat
Pada reaksi hipersensitivitas tipe I, II dan III yang berperan adalah antibodi (imunitas humoral), sedangkan pada tipe IV yang berperan adalah limfosit T atau dikenal sebagai imunitas seluler. Limfosit T peka (sensitized T lymphocyte) bereaksi dengan antigen, dan menyebabkan terlepasnya mediator (limfokin) yang jumpai pada reaksi penolakan pasca keratoplasti, keraton- jungtivitis flikten, keratitis Herpes simpleks dan keratitis diskiformis.

Ø  Faktor yang Mempengaruhi Pembentukan Antibodi
Perbedaan dalam respon imun primer dan sekunder , kadar antibodi yang dibentuk, lamanya lag phase dan lain-lain sangat bergantung pada beberapa faktor, antara lain :
  1. Jenis antigen dan dosis antigen yang diberikan ke darah
Karena antigen dibutuhkan untuk memperlancar pembelahan dan differeansiasi limfosit, maka konsentrasi antigen haruslah merupakan factor pengatur utama. Konsentrasi antigen akan menurun dan kemampuan untuk merangsang respon immune akan makin berkuarng.
  1. mekanisme umpan balik
Ini bekerja untuk membatasi produk antibody.
  1. Cara masuk antigen ke tubuh
  2. Sensitivitas teknik yang digunakan untuk mengukur antibodi

4.3. Mekanisme Penyerapan Antigen di dalam Tubuh
Pemberian serum marmut dilakukan dengan memasukkan serum tersebut ke dalam oral, setelah sampai di mulut serum akan ditelan memasuki esofagus, ventrikulus, intestinum (duodenum, jejunum, ileum) dan diserap di usus halus. Setelah sampai di usus halus, antigen ini akan diserap oleh usus halus yang diabsorbsi oleh sel-sel epitel selapis (kolumner) yang dilapisi oleh epitel vili.
 Lapisan-lapisan penyusun dinding usus halus mulai dari dalam ke luar lumen usus terdiri atas tunika mukosa, tunika submukosa, tunika muskularis, dan tunika serosa. Tunika mukosa terdiri atas epitel, berbagai kelenjar dan jaringan penunjang. Epitel usus halus berbentuk epitel kolumnar selapis yang terdiri atas sel absortif, sel goblet, sel endokrin dan sel Paneth. Lamina propria terdiri atas jaringan ikat retikular dan fibroplastik yang longgar dan kaya pembuluh darah, buluh khil (lacteal), saraf, maupun otot licin. Pencernaan di usus halus ditunjang oleh bentuk khusus pada tunika mukosa, yakni vili. Vili merupakan penjuluran mukosa yang berbentuk jari dan merupakan ciri khas usus halus. Tinggi vili ini bervariasi tergantung pada daerah dan spesies. Pada karnivora, vili langsing dan panjang, sedangkan pada sapi vili pendek dan lebar. Akhirnya, permukaan penyebaran ditingkatkan oleh mikrovili. Mikrovili merupakan penjuluran sitoplasma pada permukaan bebas epitel vili.  Vili dan mikrovili berfungsi memperluas permukaan usus halus sehingga penyerapan lebih efisien. Di antara dasar-dasar vili terdapat kelenjar-kelenjar yang meluas ke dalam bagian bawah mukosa yang disebut kripta. Sel-sel kripta menyediakan sel-sel baru untuk menggantikan sel-sel permukaan vili yang terbuang ke dalam lumen usus.
       Pengikatan antibodi dengan antigen untuk membentuk kompleks antigen-antibodi merupakan dasar dari beberapa mekanisme pembuangan antigen. Yang paling sederhana adalah netralisasi dimana antibodi berikatan dengan menghambat aktifitas antigen tersebut. Sebagai contoh antibodi menetralkan suatu virus dengan melekat pada molekul yang harus digunakan oleh virus untuk menginfeksi sel inang. Dengan cara serupa antibodi bisa berikatan dengan permukaan bakteri patogenik. Mikroba ini, sekarang dilapisi dengan antibodi, dengan mudah dilenyapkan oleh fagositosis. Dalam suatu proses yang disebut opsonisasi, antibodi yang terikat itu meningkattkan pertautan makrofaa ke mikroba tersebut sehingga juga meningkatkan fagositosis.
Aglutinasi (penggumpalan) bakteri atau virus yang diperantarai oleh antibodi secara efektif menetralkan dan mengosonisasi mikroba tersebut. Aglutinasi mungkin terjadi karena masing-masing molekul antibodi mempunyai paling tidak 2 tempat pengikatan antigen. IgG, misalnya dapat berikatan dengan epitop identik pada dua sel bakteri atau partikel virus, yang mengikatkan mereka bersama-sama. IgM dapat mengikatkan bersama lima atau lebih virus atau bakteri. Kompleks besar ini dengan mudah difagositosis oleh makrofaga. Mekanisme serupa adalah presipitasi (pengendapan), yaitu pengikatan silang molekul-molekul antigen yang terlarut (yitu molekul terlarut dalam cairan tubuh) untuk membentuk endapan atau presiipitat yang lalu dikeluarkan dan di buang oleh fagositosis.
Mekanisme yang terakhir yaitu fiksasi komplemen merupakan aktivasi sistem komplemen oleh kompleks antigen antibodi. Komplemen ini terdiri dari sekitarr 20 protein serum yang berbeda, yang tanpa adanya infeksi berada dalam keadaan inaktif. Akan tetapi, saat terjadi infeksi protein yang pertama dalam rentetan protein komplemen itu diaktifkan, sehingga memicu rentetan langkah-langkah aktivasi dimana masing-masing komponen mengaktifkan langkah berikutnya dalam rentetan reaksi itu. Penyelesaian rentetan reaksi komplemen itu menyebabkan lisisnya banyak jenis virus dan sel-sel pathogen.
Di dalam sel epitel ini tersedia Ig A yang akan memberikan garis pertahanan terhadap lapisan mukosa, Ig A ini akan mengikat antigen yang terpapar di dalam sel epitel usus halus sehingga ukuran antigen tersebut membesar sehingga tidak bisa melewati lapisan epitel tersebut lalu diteruskan ke usus besar hingga disekresikan melalui anus. Tetapi ada sebagian antigen yang lolos karen antigen tidak mampu mengikat semua antigen, hal ini disebabkan karena antigen terlalu banyak masuk. Antigen ini masuk ke jaringan ikat longgar . Jaringan Ikat Longgar Jaringan ikat longgar memiliki ciri sebagian besar terdiri dari matriks yang mengandung serat-serat kolagen, retikuler, dan elastin.  Jaringan ini terdiri dari beberapa sel, seperti makrofag, sel plasma, sel tiang, dan sel lemak. Jaringan ikat longgar berfungsi membungkus (menyokong) organ-organ tubuh dan menghubungkan bagian-bagian jaringan lain. Jaringan ini terdapat dimesentrium (selaput perut tempat menautkan organ-organ dalam rongga perut), di bawah epitel mukosa saluran pencernaan, pembungkus pembuluh darah, akson saraf, dan lapisan subkutan kulit.  dimana di jaringan ikat longgar bertemu dengan makrofag, makrofag melakukan kemotaksis untuk mendekati antigen tersebut, pertama antigen tersebut dilapisi oleh Ig A untuk memudahkan fagositosis antigen tersebut.
Makrofag adalah sel besar dengan kemampuan fagositosis, yang berarti dimakan. Fagositosis yaitu kemampuan untuk mengabsorbsi dan menghancurkan mikroorganisme (bakteri atau benda asing). Cara makrofag untuk menghancurkan (memakan) antigen tersebut ialah dengan membentuk sitoplasma pada saat antigen melekat pada permukaan sel makrofag, lalu sitoplasma tersebut melekuk ke dalam membungkus antigen, tonjolan sitoplasma yang saling bertemu akan melebur menjadi satu sehingga antigen akan tertangkap di dalam vakuola.
 

Gambar. Makrofag dalam usus mencit.
 
Lisosom yang memiliki kemampuan untuk memecah materi yang berasal dari dalam maupun dari luar akan menyatu dengaan vakuola sehingga antigen tersebut akan musnah. Lalu antigen tersebut dihancurkan lalu dikeluarkan dari makrofag tesebut secara eksositosis yang berbentuk keping-keping antigen.  Keping- keping antigen ini bertemu dengan Sel T yang akan mengaktivasi sel B untuk berproliferasi sehingga membentuk sel B plasma dan sel B memori, sehingga jika ada antigen yang terpapar untuk kedua kalinya maka Sel B memori akan mengenali antigen tersebut, sehingga Berproliferasi untuk menghasilkan antibodi untuk menghancurkan antigen yang sama tersebut. 

 

Gambar. Proses makrofag saat memakan antigen

Sel plasma dapat ditemukan dalam jumlah melimpah dibawah membrane epitel yang basah, misalnya pada saluran pencernaan dan pernapasan. Sel-sel ini memproduksi antibody yang khas untuk antigen (protein asing).  Sel B plasma  berguna untuk menghasilkan antibodi untuk menghancurkan  antigen yang masuk ke dalam tubuh, antibodi dapat dihasilkan karena terjadi sintesis protein di dalam inti sel  dengan cara Trankripsi dan Translasi.
 


4.4. Limpa
Limpa adalah kelenjar tanpa saluran (ductless) yang berhubungan erat dengan sistem sirkulasi dan berfungsi menghancurkan sel darah merah tua. Limpa termasuk salah satu organ sistem limfoid, selain timus, tonsil, dan kelenjar limfe. Sistem limfoid berfungsi untuk melindungi tubuh dari kerusakan akibat zat asing. Sel-sel pada sistem ini dikenal dengan sel imunokompeten yaitu sel yang mampu membedakan sel tubuh dengan zat asing dan menyelenggarakan inaktivasi atau perusakan benda-benda asing.

4.4.1.      Perkembangan Limfoslt dalam Proses Immun
Limfosit yang bersikulasi terutama berasal dari timus dan organ limfoid perifer, limpa, limfonodus, tonsil dan sebagainya. Akan tetapi mungkin semua sel pregenitor limfosit berasal dari sum-sum tulang, beberapa diantara limfositnya yang secara relatif tidak mengalami diferensiasi ini bermigrasi ke timus, lalu memperbanyak diri, disini sel limfosit ini memperoleh sifat limfosit T, kemudian dapat masuk kembali kedalam aliran darah, kembali kedalam sum-sum tulang atau ke organ limfoid perifer dan dapat hidup beberapa bulan atau tahun.
Sel-sel T bertanggung jawab terhadap reaksi immune seluler dan mempunyai reseptor permukaan yang spesifik untuk mengenal antigen asing. Limfosit lain tetap diam disum-sum tulang berdiferensiasi menjadi limfosit B berdiam dan berkembang didalam kompertemenya sendiri.
Sel B bertugas untuk memproduksi antibody humoral antibody response yang beredar dalam peredaran darah dan mengikat secara khusus dengan antigen asing yang menyebabkan antigen asing tersalut antibody, kompleks ini mempertinggi fagositosis, lisis sel dan sel pembunuh (killer sel atau sel K) dari organisme yang menyerang.
Sel T dan sel B secara marfologis hanya dapat dibedakan ketika diaktifkan oleh antigen. Tahap akhir dari diferensiasi sel-sel B yang diaktifkan berwujud sebagai sel plasma. Sel plasma mempunyai retikulum endoplasma kasar yang luas yang penuh dengan molekul-molekul antibody, sel T yang diaktifkan mempunyai sedikit endoplasma yang kasar tapi penuh dengan ribosom bebas.

4.4.2.      Proses Limpa Mengenal Antigen
Unsur menakjubkan lain-nya dari sistem pertahanan kita adalah limpa. Limpa terdiri dari dua bagian: pulp merah dan pulp putih. Limfosit yang baru dibuat di pulp putih mula- Tugas limpa, seperti berkontribusi pada produksi sel, fagositosis, perlindungan sel darah merah, dan pembangunan kekebalan, sangat pen-ting sekaligus sulit.
Limpa dibungkus oleh kapsula, yang terdiri atas dua lapisan, yaitu satu lapisan jaringan penyokong yang tebal dan satu lapisan otot halus. Perpanjangan kapsula ke dalam parenkim limpa disebut trabekula. Trabekula mengandung arteri, vena, saraf, dan pembuluh limfe . Parenkim limpa disebut pulpa yang terdiri atas pulpa merah dan pulpa putih . Pulpa merah berwarna merah gelap pada potongan limpa segar. Pulpa merah terdiri atas sinusoid limpa . Pulpa putih tersebar dalam pulpa merah, berbentuk oval dan berwarna putih kelabu. Pulpa putih terdiri atas pariarteriolar limphoid sheats (PALS), folikel limfoid, dan zona marginal. Folikel limfoid umumnya tersusun atas sel limfosit B, makrofag, dan sel debri.

4.5. Proses Sintesis Protein
a.      Transkripsi : pembentukan kode genetik oleh DNA
Pilinan DNA membuka sebagian > salah satu rantainya (Rantai sense )akan membentuk rantai penggenap (ARN duta) yang berisi kode genetik (kodon) > setelah ARN duta terbentuk, kemudian melepaskan diri dari DNA dan berpiln kembali.

b.      Translasi : proses penterjemahan kode genetik oleh RNA transfer
1.       RNA duta masuk ke ribosom dari satu ujung ke ujung yang lain
2.       setiapkodon (3 basa N) masuk ribosom maka datanglah RNA transfer membawa asam aminosesuai kode genetiknya. Kemudian bergeser lagi ke kodon lain dan seterusnya sampai ke ujung yang lain.
3.       Asam amino akan membentuk rantai polipeptida (protein)
Sisa-sisa antigen yang tidak disaring akan masuk ke dalam pembuluh limfe, dan ke saluran Malt , Galt dan peyer patches kemudian jika masih ada akan dibawa ke nodus limfe hingga ke limpa. Saluran pencernaan sepanjang usus halus dan usus besar mengandung jaringan limfoid yang tersebar di dalam epitel, lamina propria, atau tersusun sebagai agregat seperti lempeng Peyer (Peyer's patch. PP). Jaringan limfoid ini dikenal sebagai gut-associated lymphoid tissue (GALT). GALT, khususnya PP berfungsi sebagai tempat induksi respon IgA, sedangkan lamina propria sebagai tempat efektor respon imun mukosal. Induksi antigen pada PP akan mengaktifkan sel B yang diprogram untuk menghasilkan IgA atas bantuan T helper (TH), interleukin (IL-4, IL-5 dan IL-6) dan follicular dendrilic cells (FDC). Selanjutnya sel B spesifik bersama TH akan berrnigrasi ke limfonodi mesenterial, ductus thoracicus, sirkulasi darah dan beredar ke selumh tubuh. Akhimya sel B mengalami pemasakan menjadi sel plasma IgA yang slap mensekresi IgA ke perrnukaan mukosa, seperti saluran pemafasan bagian atas, saluran genital, dan saluran pencemaan. IgA juga dicurahkan ke dalam kelenjar-kelenjar sekretorik, seperti lalcrimal, ludah dan kelenjar susu. Peristiwa migrasi sel B dan sel T dari GALT dan kembali (homing) ke jaringan mukosa, balk yang letaknya dekat maupun jauh dari tempat induksi, merupakan dasar dari imunitas mukosal. Konsep ini dikenal sebagai sistem imun mukosal umum.

4.6 Berat Limfa Meningkat dan Menurun
Terjadi peningkatan dari berat limfa disebabkan karena sesuai dengan pembentukan antibodi (immunoglobulin G) yang meningkat (memuncak) setelah terjadinya pemaparan antigen. Selain itu berat limpa juga bertambah menandakan bahwa kerja limpa semakian berat untuk memproduksi sel limfosit terutama Limfosit B yang berfungsi menghasilkan antibodi sebagai pertahanan tubuh untuk melawan antigen yang masuk kedalam tubuh mencit tersebut. Pada hari keempat belas, kedua puluh satu (21) hingga kedua puluh delapan (28) terjadi penurunan berat karena semua antigen yang masuk sudah berhasil difagositosis.



BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dari data yang telah didapatkan selama pengamatan hasilnya sesuai dengan teoritis bahwa berat limfa pada hari ke 7 sampai  ke 14 akan meningkat namun pada hari ke 21 sampai hari ke 28 berat limfa akan menurun dikarenakan hal ini sesuai dengan pembentukan antibodi (immunoglobulin G) yang meningkat (memuncak) setelah terjadinya pemaparan antigen. Selain itu berat limpa juga bertambah menandakan bahwa kerja limpa semakian berat untuk memproduksi sel limfosit terutama Limfosit B yang berfungsi menghasilkan antibodi sebagai pertahanan tubuh untuk melawan antigen yang masuk kedalam tubuh mencit tersebut. Sedangkan pada hari keempat belas, keduapuluh satu (21) hingga keduapuluh delapan (28) terjadi penurunan berat karena semua antigen yang masuk sudah berhasil difagositosis.
Dari hasil pengamatan yang dilakukan dapat disimpulakan bahwa mencit yang diberikan cavia serum dengan konsentrasi rendah yaitu 0,2 cc dimana ukuran limfanya pada hari 1  yaitu 0,2  sedangkan pada hari ke 7 dan hari ke 14  berat limfanya sama seharusnya secara teoritisnya berat llimfa pada hari tersebut akan meningkat, hal ini disebabkan karena kemugkinan pada tahap awal aklimatisasi bobot tubuh tidak sama secara keseluruhan sebelum dan setelah diaklimatisasi, atau dapat pula disebabkan adanya virus atau sejenis antigen lain yang masuk ke dalam tubuh mencit tersebut pada saat pemberian pakan dan minuman mencit yang dapat mempengaruhi kondisi tubuhnya sehingga menyebabkan berat limfanya tidak stabil.
Sedangkan mencit yang diberi serum cavia dengan konsentrasi tinggi yaitu 0,8 cc dimana ukuran limfanya pada hari 1 yaitu  0,2 sedangkan pada hari ke 7 sampai hari ke 1 4 berat limfanya 0,2 dan 0,3. Hal ini sesuai dengan teoritisnya, dikarenakan  pembentukan antibodi (immunoglobulin G) yang meningkat (memuncak) setelah terjadinya pemaparan antigen. Selain itu berat limpa juga bertambah menandakan bahwa kerja limpa semakian berat untuk memproduksi sel limfosit terutama Limfosit B yang berfungsi menghasilkan antibodi sebagai pertahanan tubuh untuk melawan antigen yang masuk kedalam tubuh mencit tersebut. Sedangkan pada hari keempat belas, keduapuluh satu (21) hingga keduapuluh delapan (28) terjadi penurunan berat karena semua antigen yang masuk sudah berhasil difagositosis.\

DAFTAR PUSTAKA
Anonim.2011.Mencit ( Mus musculus). Http://Id.wikipedia.org/wiki/mencit­_(Mus musculus).Diakses 26 Mei 2011.
Anonim.2011.Pacth Peyer. Http://Id.wikipedia.org/wiki.terjemahan / pacth­­_peyer.Diakses 27 Mei 2011.
Bevelander G, dan Ramaley J A.1988. Dasar-Dasar Histologi. Jakarta: Erlangga.
Nugrahalia, Meida. 2008. Penuntun Praktikum Struktur Perkembangan Hewan. Medan :    FMIPA Universitas Negeri Medan
Siahaan, Panal.2011.Pengantar Imunologi.Medan:FMIPA Universitas Negeri Medan
Tim Dosen.2009.Pengantar Anatomi Fisiologi Hewan. Medan: FMIPA Universitas Negeri Medan.




1 komentar: