BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar belakang
Indonesia sebagai negara kepulauan
merupakan wilayah dengan berbagai “bioekologi spesifik”, yang masing-masing
sangat kondusif bagi timbulnya keragaman genetik tanaman, hewan dan mikroba.
Keberadaan penduduk di wilayah Indonesia juga sudah sangat lama sehingga
memperkaya keragaman genetik spesies yang mereka usahakan.
Kekayaan keragaman genetik spesies yang merupakan kekayaan sumberdaya hayati Nasional perlu dikelola sebaik-baiknya, guna memberikan dukungan keberlanjutan kehidupan bangsa Indonesia. Dengan telah diratifikasinya Convention on Biological Diversity (CBD) dimana diakui hak National Sovereignity Right of Plant Genetic Resources, maka Indonesia wajib melindungi, melestarikan, mengatur, dan mendukung pemanfaatan plasma nutfah secara optimal. Dengan semakin intensifnya usaha pertanian, varietas-varietas lokal digantikan oleh varietas unggul yang seragam, sehingga mengancam kepunahan ketersediaan plasma nutfah. Upaya pengumpulan varietas lokal tanaman sudah sejak lama dilakukan, namun belum dikelola secara optimal, karena minimnya prasarana pendukung seperti alat pengering, kemasan, cold storage dan lain-lain. Alih fungsi lahan pertanian, ladang, kebun dan pekarangan menjadi fasilitas pemukiman dan industri, juga mengakibatkan kehilangan plasma nutfah berbagai tanaman, hewan dan mikroba pertanian.
Indonesia merupakan satu-satunya negara di dunia yang belum mempunyai Sistem Pengelolaan Plasma Nutfah Nasional (FAO-UN, 1998). Penanganan plasma nutfah di Indonesia masih tersebar di berbagai unit kerja penelitian (Departemen Pertanian, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, dan Perguruan Tinggi) dan belum ada koordinasi. Perundangan dan Peraturan Pemerintah yang dapat dijadikan dasar untuk pengelolaan plasma nutfah secara terkoordinasi sebenarnya telah tersedia.
Tindakan pengumpulan, penyelamatan, pelestarian, dan pemanfaatan plasma nutfah merupakan kebutuhan yang sangat mendesak, apabila Indonesia ingin menyelamatkan kekayaan sumberdaya genetik untuk kemajuan pertanian bagi generasi yang akan datang. Oleh karena itu mengingat bahwa Indonesia belum memiliki kelembagaan Sistem Pengelolaan Plasma Nutfah Nasional, maka pembangunan Unit Bank Gen Pertanian (UBGP) sebagai wahana koordinasi dan model pengelolaan plasma nutfah nasional di Badan Litbang Pertanian merupakan kebutuhan yang sudah sangat mendesak.
Kekayaan keragaman genetik spesies yang merupakan kekayaan sumberdaya hayati Nasional perlu dikelola sebaik-baiknya, guna memberikan dukungan keberlanjutan kehidupan bangsa Indonesia. Dengan telah diratifikasinya Convention on Biological Diversity (CBD) dimana diakui hak National Sovereignity Right of Plant Genetic Resources, maka Indonesia wajib melindungi, melestarikan, mengatur, dan mendukung pemanfaatan plasma nutfah secara optimal. Dengan semakin intensifnya usaha pertanian, varietas-varietas lokal digantikan oleh varietas unggul yang seragam, sehingga mengancam kepunahan ketersediaan plasma nutfah. Upaya pengumpulan varietas lokal tanaman sudah sejak lama dilakukan, namun belum dikelola secara optimal, karena minimnya prasarana pendukung seperti alat pengering, kemasan, cold storage dan lain-lain. Alih fungsi lahan pertanian, ladang, kebun dan pekarangan menjadi fasilitas pemukiman dan industri, juga mengakibatkan kehilangan plasma nutfah berbagai tanaman, hewan dan mikroba pertanian.
Indonesia merupakan satu-satunya negara di dunia yang belum mempunyai Sistem Pengelolaan Plasma Nutfah Nasional (FAO-UN, 1998). Penanganan plasma nutfah di Indonesia masih tersebar di berbagai unit kerja penelitian (Departemen Pertanian, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, dan Perguruan Tinggi) dan belum ada koordinasi. Perundangan dan Peraturan Pemerintah yang dapat dijadikan dasar untuk pengelolaan plasma nutfah secara terkoordinasi sebenarnya telah tersedia.
Tindakan pengumpulan, penyelamatan, pelestarian, dan pemanfaatan plasma nutfah merupakan kebutuhan yang sangat mendesak, apabila Indonesia ingin menyelamatkan kekayaan sumberdaya genetik untuk kemajuan pertanian bagi generasi yang akan datang. Oleh karena itu mengingat bahwa Indonesia belum memiliki kelembagaan Sistem Pengelolaan Plasma Nutfah Nasional, maka pembangunan Unit Bank Gen Pertanian (UBGP) sebagai wahana koordinasi dan model pengelolaan plasma nutfah nasional di Badan Litbang Pertanian merupakan kebutuhan yang sudah sangat mendesak.
1.2 Tujuan makalah
Adapun
tujuan dari makalah ini adalah:
1.
Mahasiswa
dapat mengetahui plasma nutfah yang ada diindonesia
2.
Mahasiswa dapat mengetahui manfaat tumbuhan plasma
nutfah
3.
Mahasiswa dapat mengetahui plasma nutfah khas suatu
daerah
1.3 Manfaat makalah
Adapun manfaat dari penulisan makalah ini adalah:
1.
Sebagai bahan pelengap materi
ajar plasma nutfah
2.
Sebagai bahan informasi
3.
Sebagai contoh penulisan
makalah
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian plasma nutfah
Masa organisme (flora dan fauna) yang masih membawa sifat sifat
genetik asli. Plasma Nutfah merupakan substansi yang mengatur perilaku
kehidupan secara turun termurun, sehingga populasinya mempunyai sifat yang
membedakan dari populasi yang lainnya. Perbedaan yang terjadi itu dapat
dinyatakan, misalnya dalam ketahanan terhadap penyakit, bentuk fisik, daya
adaptasi terhadap lingkungannya dan sebagainya. Sedangkan menurut Pengertian
atau Definsi yang terdapat pada Kamus Pertanian adalah substansi sebagai sumber
sifat keturunan yang terdapat di dalam setiap kelompok organisme yang dapat
dimanfaatkan dan dikembangkan atau dirakit agar tercipta suatu jenis unggul
atau kultivar baru.
Dari Pengertian dan Definisi tersebut dapat dilihat bahwa negara
Indonesia memiliki plasma nutfah yang sangat besar, keanekaragaman jenis yang
besar. Luasnya daerah wilayah penyebaran spesies, menyebabkan spesies-spesies
tersebut menjadikan keanekaragaman plasma nutfah cukup tinggi. Masing-masing
lokasi dengan spesies-spesies yang khas karena terbentuk dari lingkungan yang
spesifik. Eksistensi beberapa plasma nutfah menjadi rawan dan langka, bahkan
ada yang telah punah akibat pemanfaatan sumber daya hayati dan penggunaan lahan
sebagai habitatnya. Semua ini disebabkan oleh perbuatan manusia. Kebijakan
pembangunan yang kurang memperhatikan kelestarian lingkungan pun turut berperan
dalam proses kepunahan plasma nutfah tersebut. Dengan semakin banyaknya
permasalahan konservasi plasma nutfah terutama di daerah-daerah rawan erosi
plasma nutfah perlu penanganan permasalahan tersebut tidak mungkin hanya
ditangani Komisi Nasional Plasma Nutfah. Masalah lain yang tidak kalah penting
adalah perangkat hukum tentang pengamanan hayati. Para pakar sangat mendukung
upaya penyusunan peraturan hukum tentang pengamanan hayati, sesuai komitmen
Protokol Cartagena 2000. Namun rancangan undang-undang (RUU) tersebut hendaknya
diintegrasikan dan selaras dengan UU tentang pelestarian plasma nutfah.
Plasma
nutfah adalah sumber daya alam keempat di samping sumber daya air, tanah, dan
udara yang sangat penting untuk dilestarikan. Pelestarian plasma nutfah sebagai
sumber genetik akan menentukan keberhasilan program pembangunan pangan.
Kecukupan pangan yang diidamkan akan tergantung kepada keragaman plasma nutfah
yang dimiliki karena pada kenyataannya varietas unggul, yang sudah, sedang, dan
akan dirakit merupakan kumpulan dari keragaman genetik spesifik yang
terekspresikan pada sifat-sifat unggul yang diinginkan.
Koleksi plasma nutfah kacang tanah di Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian (BB-Biogen) sampai tahun 2002 berjumlah 1146 aksesi terdiri dari 176 aksesi varietas introduksi, 374 aksesi varietas lokal, 29 aksesi varietas unggul nasional, 565 aksesi populasi galur persilangan asal Bogor dan Sukamandi, serta 2 aksesi varietas liar.
Pemberdayaan plasma nutfah baru bisa dilakukan apabila tersedia informasi yang cukup untuk sifat-sifat yang diperlukan, dengan melakukan karakterisasi sifat morfologi dan agronomi dapat dibentuk suatu figur tanaman ideal dan dengan melakukan evaluasi sifat ketahanan/toleransi dapat diperoleh tanggap tanaman terhadap pengaruh biotik atau abiotik. Genotipe terpilih yang memiliki sifat-sifat yang sesuai untuk perbaikan kacang tanah dapat digunakan lebih lanjut dalam program pemuliaan tanaman. Secara umum tujuan pemuliaan adalah menghasilkan varietas baru untuk memperbaiki stabilitas produksi, memenuhi standar mutu, sesuai dengan pola tanam setempat dan sesuai dengan keinginan pengguna.
Tujuan pemuliaan kacang tanah di Indonesia adalah meningkatkan potensi hasil secara genetik, memperpendek umur tanam, memperbaiki ketahanan terhadap penyakit penting (bercak daun, karat daun, layu bakteri, virus PSTV, dan jamur penghasil aflatoksin), memperbaiki toleransi tanaman terhadap cekaman lingkungan fisik (pH rendah, kekeringan, dan naungan; serta memperbaiki mutu biji terutama warna dan ukuran (Rais 1997).
Cara untuk mencapai tujuan program pemuliaan diperlukan sumber-sumber gen pada plasma nutfah yang dimiliki. Data informasi sifat-sifat penting sangat diperlukan dan pada makalah ini tersaji beberapa informasi hasil karakterisasi sifat-sifat dari plasma nutfah yang memiliki sifat toleransi terhadap kekeringan, naungan, lahan masam, tahan/toleran terhadap penyakit seperti penyakit karat daun, bercak daun dan penyakit layu, serta umur pendek.
Koleksi plasma nutfah kacang tanah di Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian (BB-Biogen) sampai tahun 2002 berjumlah 1146 aksesi terdiri dari 176 aksesi varietas introduksi, 374 aksesi varietas lokal, 29 aksesi varietas unggul nasional, 565 aksesi populasi galur persilangan asal Bogor dan Sukamandi, serta 2 aksesi varietas liar.
Pemberdayaan plasma nutfah baru bisa dilakukan apabila tersedia informasi yang cukup untuk sifat-sifat yang diperlukan, dengan melakukan karakterisasi sifat morfologi dan agronomi dapat dibentuk suatu figur tanaman ideal dan dengan melakukan evaluasi sifat ketahanan/toleransi dapat diperoleh tanggap tanaman terhadap pengaruh biotik atau abiotik. Genotipe terpilih yang memiliki sifat-sifat yang sesuai untuk perbaikan kacang tanah dapat digunakan lebih lanjut dalam program pemuliaan tanaman. Secara umum tujuan pemuliaan adalah menghasilkan varietas baru untuk memperbaiki stabilitas produksi, memenuhi standar mutu, sesuai dengan pola tanam setempat dan sesuai dengan keinginan pengguna.
Tujuan pemuliaan kacang tanah di Indonesia adalah meningkatkan potensi hasil secara genetik, memperpendek umur tanam, memperbaiki ketahanan terhadap penyakit penting (bercak daun, karat daun, layu bakteri, virus PSTV, dan jamur penghasil aflatoksin), memperbaiki toleransi tanaman terhadap cekaman lingkungan fisik (pH rendah, kekeringan, dan naungan; serta memperbaiki mutu biji terutama warna dan ukuran (Rais 1997).
Cara untuk mencapai tujuan program pemuliaan diperlukan sumber-sumber gen pada plasma nutfah yang dimiliki. Data informasi sifat-sifat penting sangat diperlukan dan pada makalah ini tersaji beberapa informasi hasil karakterisasi sifat-sifat dari plasma nutfah yang memiliki sifat toleransi terhadap kekeringan, naungan, lahan masam, tahan/toleran terhadap penyakit seperti penyakit karat daun, bercak daun dan penyakit layu, serta umur pendek.
2.2 Manfaat plasma nutfah
Sumberdaya genetik atau plasma
nutfah, merupakan salah satu komponen utama dalam keanekaragaman hayati,
sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa, agar dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya
secara lestari. Manfaat plasma nutfah meliputi seluruh kehidupan manusia, yaitu
untuk memenuhi kebutuhan pangan, sandang, papan, dan obat-obatan. Pemanfaatan
plasma nutfah oleh manusia dapat berbentuk langsung maupun melalui
proses-proses tertentu, misalnya pemuliaan pada tanaman maupun hewan, dengan
memanfaatkan teknologi yang tersedia.
Plasma nutfah sejak lama dan secara turun-temurun telah dimanfaatkan, tetapi keberadaan dan pentingnya plasma nutfah masih belum dipahami secara mendalam, sehingga menimbulkan dampak yang menurunkan tingkat mutu dan derajat keanekaragamannya. Akibatnya pada berbagai kelompok plasma nutfah kelestariannya menjadi terancam. Kita sadari bahwa masih banyak kelompok masyarakat yang kurang memahami makna dan pentingnya plasma nutfah. Hal ini disebabkan oleh kurangnya sosialisasi mengenai makna plasma nufah kepada masyarakat luas, khususnya dikalangan mahasiswa. Dalam sistem pendidikan, upaya penyadaran terhadap masyarakat tentang pentingnya suatu pengetahuan dapat dilakukan melalui kegiatan pengajaran di perguruan tinggi. Demikian pula dengan program sosialisasi tentang pentingnya plasma nutfah kepada para mahasiswa merupakan salah satu metode yang dapat memberikan pemahaman secara efektif terhadap makna dan pentingnya plasma nutfah. Dalam hal ini para pengurus Himpunan Mahasiswa Profesi (HIMPRO) yang mendapat bekal pemahaman secara lebih baik akan mampu meneruskan materi yang diperolehnya kepada mahasiswa lain dan masyarakat yang lebih luas. Pemahaman mengenai pentingnya keberadaan plasma nutfah dan keanekaragamannya, akan membangkitkan dan mendorong kepedulian berbagai pihak untuk berperan serta mengelola plasma nutfah. Dengan kerangka pengertian seperti ini, Komisi Nasional Plasma Nutfah memandang perlu diselenggarakannya kegiatan sosialisasi kepada HIMPRO mengenai pentingnya pemahaman terhadap plasma nutfah serta pengelolaannya, yang meliputi pelestarian dan pemanfaatannya secara berkelanjutan. Keberhasilan program pemuliaan sangat ditentukan oleh tingkat pemanfaatan plasma nutfah. Pemanfaatan plasma nutfah dalam program pemuliaan yang sangat intensif telah dilakukan pada tanaman pangan dan hortikultura. Hal ini terlihat dari jumlah varietas unggul yang telah dihasilkan. Sementara pada tanaman perkebunan masih terbatas pada tanaman tertentu.
Plasma nutfah sejak lama dan secara turun-temurun telah dimanfaatkan, tetapi keberadaan dan pentingnya plasma nutfah masih belum dipahami secara mendalam, sehingga menimbulkan dampak yang menurunkan tingkat mutu dan derajat keanekaragamannya. Akibatnya pada berbagai kelompok plasma nutfah kelestariannya menjadi terancam. Kita sadari bahwa masih banyak kelompok masyarakat yang kurang memahami makna dan pentingnya plasma nutfah. Hal ini disebabkan oleh kurangnya sosialisasi mengenai makna plasma nufah kepada masyarakat luas, khususnya dikalangan mahasiswa. Dalam sistem pendidikan, upaya penyadaran terhadap masyarakat tentang pentingnya suatu pengetahuan dapat dilakukan melalui kegiatan pengajaran di perguruan tinggi. Demikian pula dengan program sosialisasi tentang pentingnya plasma nutfah kepada para mahasiswa merupakan salah satu metode yang dapat memberikan pemahaman secara efektif terhadap makna dan pentingnya plasma nutfah. Dalam hal ini para pengurus Himpunan Mahasiswa Profesi (HIMPRO) yang mendapat bekal pemahaman secara lebih baik akan mampu meneruskan materi yang diperolehnya kepada mahasiswa lain dan masyarakat yang lebih luas. Pemahaman mengenai pentingnya keberadaan plasma nutfah dan keanekaragamannya, akan membangkitkan dan mendorong kepedulian berbagai pihak untuk berperan serta mengelola plasma nutfah. Dengan kerangka pengertian seperti ini, Komisi Nasional Plasma Nutfah memandang perlu diselenggarakannya kegiatan sosialisasi kepada HIMPRO mengenai pentingnya pemahaman terhadap plasma nutfah serta pengelolaannya, yang meliputi pelestarian dan pemanfaatannya secara berkelanjutan. Keberhasilan program pemuliaan sangat ditentukan oleh tingkat pemanfaatan plasma nutfah. Pemanfaatan plasma nutfah dalam program pemuliaan yang sangat intensif telah dilakukan pada tanaman pangan dan hortikultura. Hal ini terlihat dari jumlah varietas unggul yang telah dihasilkan. Sementara pada tanaman perkebunan masih terbatas pada tanaman tertentu.
2.3 Status pengelolaan
plasma nutfah
Pengelolaan
plasma nutfah tanaman, hewan dan mikroba dalam lingkup Badan Penelitian dan
Pengembangan (Litbang) Pertanian dilaksanakan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan
(Puslitbang), Balai Penelitian (Balit)/Loka Penelitian (Lolit) Komoditas, Balai
Besar, dan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP). Pengelolaan yang
dilakukan saat ini meliputi: eksplorasi dan koleksi, rejuvenasi, karakterisasi
dan evaluasi, dokumentasi, dan pemantauan koleksi. Status mengenai pengelolaan
plasma nutfah tahun 2006 diuraikan di bawah ini.
Status Pengelolaan Plasma
Nutfah
Eksplorasi dan Introduksi
Indonesia merupakan pusat dan asal keragaman plasma nutfah berbagai jenis tanaman. Tanaman non aslipun telah membentuk keragaman genetik yang besar. Kegiatan eksplorasi maupun introduksi plasma nutfah pertanian di Badan Litbang Pertanian sudah dilakukan sejak tahun 1990-an, namun saat ini tidak merupakan kegiatan prioritas, padahal keanekaragaman genetik dalam plasma nutfah merupakan bahan dasar yang diperlukan dalam program untuk menghasilkan varietas dan hibrida unggul serta berbagai penemuan dan inovasi. Eksplorasi dan pengumpulan plasma nutfah sudah dilakukan hampir di seluruh propinsi di Indonesia, namun hasil yang diperoleh masih jauh dari mencukupi karena terbatasnya dana dan tenaga.
Eksplorasi dan Introduksi
Indonesia merupakan pusat dan asal keragaman plasma nutfah berbagai jenis tanaman. Tanaman non aslipun telah membentuk keragaman genetik yang besar. Kegiatan eksplorasi maupun introduksi plasma nutfah pertanian di Badan Litbang Pertanian sudah dilakukan sejak tahun 1990-an, namun saat ini tidak merupakan kegiatan prioritas, padahal keanekaragaman genetik dalam plasma nutfah merupakan bahan dasar yang diperlukan dalam program untuk menghasilkan varietas dan hibrida unggul serta berbagai penemuan dan inovasi. Eksplorasi dan pengumpulan plasma nutfah sudah dilakukan hampir di seluruh propinsi di Indonesia, namun hasil yang diperoleh masih jauh dari mencukupi karena terbatasnya dana dan tenaga.
Konservasi
Tanaman Pertanian
Konservasi plasma nutfah pertanian yang dilakukan di Puslit/Balit Komoditas dan Balai Besar pada umumnya adalah teknik konservasi ex-situ, karena mudah dalam pelaksanaan dan monitoringnya. Konservasi ex-situ di ruang dingin (cold storage) yang telah dilakukan adalah untuk benih-benih ortodoks, sedangkan yang di lapangan untuk tanaman yang diperbanyak secara vegetatif.
Konservasi ex-situ memerlukan biaya besar di awal untuk infrastruktur maupun prosesnya. Oleh karena itu, untuk mendukung konservasi plasma nutfah tanaman ex-situ perlu ketersediaan infrastruktur yang baik dan lahan yang agroekologi sesuai dengan komoditas yang dikonservasi, termasuk adanya bank gen (gene bank) dan kebun koleksi yang lestari.
Tanaman Pertanian
Konservasi plasma nutfah pertanian yang dilakukan di Puslit/Balit Komoditas dan Balai Besar pada umumnya adalah teknik konservasi ex-situ, karena mudah dalam pelaksanaan dan monitoringnya. Konservasi ex-situ di ruang dingin (cold storage) yang telah dilakukan adalah untuk benih-benih ortodoks, sedangkan yang di lapangan untuk tanaman yang diperbanyak secara vegetatif.
Konservasi ex-situ memerlukan biaya besar di awal untuk infrastruktur maupun prosesnya. Oleh karena itu, untuk mendukung konservasi plasma nutfah tanaman ex-situ perlu ketersediaan infrastruktur yang baik dan lahan yang agroekologi sesuai dengan komoditas yang dikonservasi, termasuk adanya bank gen (gene bank) dan kebun koleksi yang lestari.
Mikroba Pertanian
Konservasi plasma nutfah mikroba dilakukan untuk jangka pendek dan panjang. Pengelolaan plasma nutfah mikroba pertanian di Puslit/Balit Komoditas dan Balai Besar belum terkoordinasi secara baik, masih tersebar di masing-masing peneliti. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan faktor sumber daya manusia (SDM), dana, dan fasilitas. Balai Penelitian Veteriner (Balitvet) merupakan salah satu balai yang melakukan pengelolaan plasma nutfah mikroba dan telah menjadi anggota World Federation of Culture Collection yang terdaftar di dalam WDC (World Data Centre).
Konservasi plasma nutfah mikroba dilakukan untuk jangka pendek dan panjang. Pengelolaan plasma nutfah mikroba pertanian di Puslit/Balit Komoditas dan Balai Besar belum terkoordinasi secara baik, masih tersebar di masing-masing peneliti. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan faktor sumber daya manusia (SDM), dana, dan fasilitas. Balai Penelitian Veteriner (Balitvet) merupakan salah satu balai yang melakukan pengelolaan plasma nutfah mikroba dan telah menjadi anggota World Federation of Culture Collection yang terdaftar di dalam WDC (World Data Centre).
Karakterisasi dan Evaluasi
Karakterisasi dan evaluasi dilakukan guna mengetahui sifat dan manfaat plasma nutfah untuk mempermudah pemanfaatannya. Karakterisasi dan evaluasi plasma nutfah merupakan salah satu kegiatan rutin plasma nutfah yang dilakukan dalam rangka mengetahui potensi sifat-sifat yang dimiliki agar dapat dimanfaatkan dalam program pemuliaan. Karakterisasi plasma nutfah tanaman dilakukan terhadap sifat-sifat morfologi dan agronomi. Evaluasi dilakukan terhadap sifat ketahanan/toleransi terhadap cekaman biotik, abiotik, mutu dan nutrisi. Sedangkan pada mikroba, karakterisasi plasma nutfah dilakukan terhadap sifat-sifat morfologi, fisiologi, biokimia, molekular, dan potensi/manfaat yang dapat digali.
Karakterisasi dan evaluasi dilakukan guna mengetahui sifat dan manfaat plasma nutfah untuk mempermudah pemanfaatannya. Karakterisasi dan evaluasi plasma nutfah merupakan salah satu kegiatan rutin plasma nutfah yang dilakukan dalam rangka mengetahui potensi sifat-sifat yang dimiliki agar dapat dimanfaatkan dalam program pemuliaan. Karakterisasi plasma nutfah tanaman dilakukan terhadap sifat-sifat morfologi dan agronomi. Evaluasi dilakukan terhadap sifat ketahanan/toleransi terhadap cekaman biotik, abiotik, mutu dan nutrisi. Sedangkan pada mikroba, karakterisasi plasma nutfah dilakukan terhadap sifat-sifat morfologi, fisiologi, biokimia, molekular, dan potensi/manfaat yang dapat digali.
Dokumentasi
Plasma Nutfah (Database)
Data hasil eksplorasi dan pengumpulan, rejuvenasi, karakterisasi dan evaluasi dimasukkan ke dalam database untuk mempermudah pengelolaan plasma nutfah, baik tanaman, hewan dan mikroba serta pertukaran informasi maupun material genetiknya. Dalam kaitannya dengan kegiatan dokumentasi data plasma nutfah pertanian, BB-Biogen yang memiliki mandat dalam mengelola plasma nutfah pertanian sejak tahun 2000 telah berperan sebagai koordinator terhadap pengelola plasma nutfah pertanian. Saat ini, kegiatan koordinasi dilakukan melalui program kegiatan Komisi Nasional Plasma Nutfah (KNPN).
Masalah dalam Sistem Informasi Manajemen pengelolaan plasma nutfah di Puslit/Balit Komoditas dan Balai Besar antara lain: ketidakseragaman format sistem dokumentasi dan tidak semua Puslit/Balit Komoditas dan Balai Besar melakukan komputerisasi data plasma nutfah. Baru tahun 2004 dilakukan penyeragaman format sistem dokumentasi data plasma nutfah melalui pembuatan program aplikasi pengelolaan data plasma nutfah berbasis Microsoft Access yang dikenal dengan Sistem Informasi Plasma Nutfah Pertanian (SIPNP).
Data hasil eksplorasi dan pengumpulan, rejuvenasi, karakterisasi dan evaluasi dimasukkan ke dalam database untuk mempermudah pengelolaan plasma nutfah, baik tanaman, hewan dan mikroba serta pertukaran informasi maupun material genetiknya. Dalam kaitannya dengan kegiatan dokumentasi data plasma nutfah pertanian, BB-Biogen yang memiliki mandat dalam mengelola plasma nutfah pertanian sejak tahun 2000 telah berperan sebagai koordinator terhadap pengelola plasma nutfah pertanian. Saat ini, kegiatan koordinasi dilakukan melalui program kegiatan Komisi Nasional Plasma Nutfah (KNPN).
Masalah dalam Sistem Informasi Manajemen pengelolaan plasma nutfah di Puslit/Balit Komoditas dan Balai Besar antara lain: ketidakseragaman format sistem dokumentasi dan tidak semua Puslit/Balit Komoditas dan Balai Besar melakukan komputerisasi data plasma nutfah. Baru tahun 2004 dilakukan penyeragaman format sistem dokumentasi data plasma nutfah melalui pembuatan program aplikasi pengelolaan data plasma nutfah berbasis Microsoft Access yang dikenal dengan Sistem Informasi Plasma Nutfah Pertanian (SIPNP).
Fasilitas
Konservasi Plasma Nutfah
Fasilitas
Rejuvenasi dan Evaluasi
Pada sebagian besar Puslit/Balai Komoditas, kegiatan pengelolaan plasma nutfah tidak berdiri sendiri sebagai kelompok kegiatan penelitian, tetapi merupakan bagian dari kegiatan pemuliaan tanaman, kecuali di BB-Biogen. Rejuvenasi dan evaluasi yang dilakukan di kebun percobaan atau rumah kaca secara rutin sebagai bagian dari pengelolaan plasma nutfah.
Pada sebagian besar Puslit/Balai Komoditas, kegiatan pengelolaan plasma nutfah tidak berdiri sendiri sebagai kelompok kegiatan penelitian, tetapi merupakan bagian dari kegiatan pemuliaan tanaman, kecuali di BB-Biogen. Rejuvenasi dan evaluasi yang dilakukan di kebun percobaan atau rumah kaca secara rutin sebagai bagian dari pengelolaan plasma nutfah.
Fasilitas
Prosesing dan Pengeringan Benih
Pada umumnya belum tersedia tempat khusus untuk prosesing benih, karena kegiatan tersebut dilakukan di tempat yang sama dengan kegiatan penelitian yang lain, yaitu di dekat ruang penyimpanan hasil panen. Prosesing benih segera dilakukan setelah biji dipanen dengan menjemur atau mengoven untuk mendapatkan biji dengan kadar air tertentu.
Pada umumnya belum tersedia tempat khusus untuk prosesing benih, karena kegiatan tersebut dilakukan di tempat yang sama dengan kegiatan penelitian yang lain, yaitu di dekat ruang penyimpanan hasil panen. Prosesing benih segera dilakukan setelah biji dipanen dengan menjemur atau mengoven untuk mendapatkan biji dengan kadar air tertentu.
Fasilitas
Penyimpanan Benih
Ruang penyimpanan benih ortodoks berupa cold storage atau ruang dingin. Pengoperasian cold storage yang dimiliki Puslit/Balai komoditas dan Balai Besar sangat tergantung pasokan listrik dari PLN. Hanya di BB-Biogen yang memiliki fasilitas genset otomatis dan gen set manual yang dapat menunjang penyimpanan benih apabila pasokan listrik dari PLN mengalami gangguan.
Ruang penyimpanan benih ortodoks berupa cold storage atau ruang dingin. Pengoperasian cold storage yang dimiliki Puslit/Balai komoditas dan Balai Besar sangat tergantung pasokan listrik dari PLN. Hanya di BB-Biogen yang memiliki fasilitas genset otomatis dan gen set manual yang dapat menunjang penyimpanan benih apabila pasokan listrik dari PLN mengalami gangguan.
Fasilitas
Konservasi Plasma Nutfah Mikroba
Fasilitas konservasi mikroba yang dimiliki oleh Puslit/Balai Komoditas dan Balai Besar yang ada pada umumnya masih kurang memadai, kecuali di Balitvet dan BB-Biogen. Kegiatan konservasi plasma nutfah mikroba umumnya tergabung dalam kegiatan penelitian lain, kecuali di BB-Biogen.
Fasilitas konservasi mikroba yang dimiliki oleh Puslit/Balai Komoditas dan Balai Besar yang ada pada umumnya masih kurang memadai, kecuali di Balitvet dan BB-Biogen. Kegiatan konservasi plasma nutfah mikroba umumnya tergabung dalam kegiatan penelitian lain, kecuali di BB-Biogen.
Dana
Operasional
Kegiatan pengelolaan plasma nutfah di Puslit/Balai Komoditas dan Balai Besar umumnya belum berdiri sendiri, masih bergabung dengan kegiatan dan pendanaan penelitian lainnya. Alokasi dana untuk kegiatan pengelolaan plasma nutfah pada saat itu umumnya relatif kecil, sehingga tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan yang diperlukan.
Kegiatan pengelolaan plasma nutfah di Puslit/Balai Komoditas dan Balai Besar umumnya belum berdiri sendiri, masih bergabung dengan kegiatan dan pendanaan penelitian lainnya. Alokasi dana untuk kegiatan pengelolaan plasma nutfah pada saat itu umumnya relatif kecil, sehingga tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan yang diperlukan.
Jenis
Pelayanan
Jenis pelayanan yang diberikan oleh pengelola plasma nutfah lingkup Badan Litbang antara lain: penyediaan fasilitas penelitian dan jasa informasi, penyediaan dan pertukaran material biologi dengan melalui material transfer agreement (MTA) yang jelas, identifikasi dan penitipan material biologis, dan pelatihan.
Jenis pelayanan yang diberikan oleh pengelola plasma nutfah lingkup Badan Litbang antara lain: penyediaan fasilitas penelitian dan jasa informasi, penyediaan dan pertukaran material biologi dengan melalui material transfer agreement (MTA) yang jelas, identifikasi dan penitipan material biologis, dan pelatihan.
Organisasi
Pengelolaan Plasma Nutfah
Sumberdaya
Manusia
Pada umumnya pengelola plasma nutfah tanaman, hewan dan mikroba merangkap sebagai peneliti di bidang pemuliaan, hama dan penyakit, dan mikrobiologi. Pada umumnya tidak ada pengelola yang berpendidikan khusus (formal) di bidang pengelolaan plasma nutfah. Namun, sebagian besar staf/peneliti tersebut telah mendapat kesempatan untuk mengikuti pelatihan baik di dalam maupun di luar negeri, seperti pelatihan konservasi, database, dan pelatihan lain yang berhubungan dengan pengelolaan dan pemanfaatan plasma nutfah.
Pada umumnya pengelola plasma nutfah tanaman, hewan dan mikroba merangkap sebagai peneliti di bidang pemuliaan, hama dan penyakit, dan mikrobiologi. Pada umumnya tidak ada pengelola yang berpendidikan khusus (formal) di bidang pengelolaan plasma nutfah. Namun, sebagian besar staf/peneliti tersebut telah mendapat kesempatan untuk mengikuti pelatihan baik di dalam maupun di luar negeri, seperti pelatihan konservasi, database, dan pelatihan lain yang berhubungan dengan pengelolaan dan pemanfaatan plasma nutfah.
Struktur
Organisasi
Bentuk organisasi khusus bank gen dalam pengelolaan plasma nutfah di setiap Puslit/Balit komoditas dan BB tidak ada, kecuali di BB Biogen. Umumnya kegiatan pengelolaan plasma nutfah tanaman termasuk di dalam kegiatan di Kelompok Peneliti (Kelti) Pemuliaan, seperti, subkelti Plasma nutfah di Balitpa merupakan bagian dari Kelti Pemuliaan. Kegiatan yang terkait dengan plasma nutfah mikroba pada umumnya dikelola Kelti Proteksi atau Penyakit. Sementara di BB Biogen plasma nutfah mikroba dikelola Kelti Sumberdaya Genetik, sedangkan di Balitvet plasma nutfah mikroba bukan dikelola oleh Kelti tetapi dikelola oleh Balitvet Culture Collection.
Bentuk organisasi khusus bank gen dalam pengelolaan plasma nutfah di setiap Puslit/Balit komoditas dan BB tidak ada, kecuali di BB Biogen. Umumnya kegiatan pengelolaan plasma nutfah tanaman termasuk di dalam kegiatan di Kelompok Peneliti (Kelti) Pemuliaan, seperti, subkelti Plasma nutfah di Balitpa merupakan bagian dari Kelti Pemuliaan. Kegiatan yang terkait dengan plasma nutfah mikroba pada umumnya dikelola Kelti Proteksi atau Penyakit. Sementara di BB Biogen plasma nutfah mikroba dikelola Kelti Sumberdaya Genetik, sedangkan di Balitvet plasma nutfah mikroba bukan dikelola oleh Kelti tetapi dikelola oleh Balitvet Culture Collection.
2.4 Pemanfaatan plasma nutfah dalam bidang bioteknologi
Aplikasi bioteknologi dalam industri pertanian memungkinkan
pemanfaatan gen-gen dari plasma nutfah yang sebelumnya tidak dapat dimanfaatkan
melalui pemuliaan tanaman secara konvensional. Tanaman transgenik merupakan
hasil pemanfaatan plasma nutfah melalui bioteknologi yang dapat menghasilkan
varietas unggul seperti varietas yang tahan terhadap hama, penyakit dan gulma
maupun cekaman lingkungan seperti kekeringan dan salinitas. Program pemanfaatan
plasma nutfah di negara-negara seperti India dan Costa Rica ditujukan pada
pemanfaatan plasma nutfah asli negara-negara tersebut untuk memperbaiki tanaman
pertanian dengan menggunakan karakterisasi molekuler plasma nutfah yang
merupakan sumber gen dan penyisipan gen berguna pada varietas tanaman dengan
rekayasa genetika. Tanaman transgenik yang saat ini telah dikembangkan untuk
tujuan komersil sebelumnya telah melalui pengujian keamanan hayati dan keamanan
pangan sehingga dinyatakan aman terhadap lingkungan dan aman untuk dikonsumsi.
Kekayaan plasma nutfah yang terdapat di alam
memiliki potensi untuk dimanfaatkan dalam industri pertanian. Oleh sebab itu
saat ini plasma nutfah banyak dikaji dan dikoleksi dalam rangka meningkatkan
produksi pertanian dan penyediaan pangan. Hal ini dilakukan karena plasma
nutfah merupakan sumber gen yang berguna bagi perbaikan tanaman seperti gen untuk
ketahanan terhadap penyakit, serangga, gulma, dan juga gen untuk ketahanan
terhadap cekaman lingkungan abiotik yang kurang menguntungkan seperti
kekeringan. Selain dari itu plasma nutfah juga merupakan sumber gen yang dapat
dimanfaatkan untuk peningkatan kualitas hasil tanaman seperti kandungan nutrisi
yang lebih baik.Peningkatan produktivitas pertanian telah dilakukan melalui
pembuatan varietas unggul hasil pemuliaan tanaman konvensional. Namun pemuliaan
tanaman konvensional yang dilakukan dengan memindahsilangkan berbagai variasi
tanaman melalui proses penyerbukan memiliki keterbatasan dalam mendapatkan
gen-gen yang dikehendaki. Hanya gen-gen yang berasal dari tanaman yang
berkerabat dekat dan kompatibel secara seksual (sexually compatible)
yang dapat dimanfaatkan. Gen yang dapat dimanfaatkan hanya terbatas pada
sekelompok kecil variasi genetik. Selain itu pada pemuliaan tanaman
konvensional terjadi penggabungan seluruh genom dari tanaman yang dikawinkan
sehingga gen yang tidak diinginkan dapat ikut terbawa dan membutuhkan waktu
yang panjang untuk menghilangkan gen gen yang tidak diinginkan. Di lain pihak,
bioteknologi dapat memanfaatkan semua gen dari organisme hidup tanpa ada
batasan taksonomi. Hal ini disebabkan karena transfer gen pada bioteknologi tidak
dilakukan dengan melalui penyerbukan silang. Bioteknologi memiliki peluang
untuk mengakses kekayaan plasma nutfah yang tidak dapat dilakukan melalui
pemuliaan tanaman secara konvensional. Sehingga bioteknologi diharapkan dapat
digunakan sebagai pelengkap pemuliaan tanaman konvensional.Tanaman transgenik
merupakan hasil pemanfaatan plasma nutfah melalui bioteknologi. Saat ini lebih
dari 70 varietas tanaman transgenik telah terdaftar dan dikomersialisasi secara
luas di dunia. Menurut data dari ISAAA, hampir 54% dari tanaman
transgenik di dunia merupakan kedelai transgenik, 28% merupakan jagung
transgenik, 9% kapas transgenik dan lainnya. Pemanfaatan plasma nutfah melalui
bioteknologi dalam industri pertanian Plasma nutfah merupakan bahan baku yang
penting untuk pembangunan industri pertanian. Penggunaan bioteknologi
dibutuhkan untuk pemanfaatan plasma nutfah dalam pertanian secara luas. Di
bawah ini diuraikan beberapa contoh pemanfaatan plasma nutfah untuk
menanggulangi masalah-masalah pertanian.
1. Tanaman transgenik tahan terhadap garam di India Dalam rangka memperluas area pertanian di daerah pesisir pantai, saat ini di India telah dikembangkan varietas tanaman padi dan varietas tanaman lainnya yang tahan terhadap garam (salinitas). Organisme donor yang memberikan ketahanan terhadap garam adalah tanaman mangrove dari famili Rhizophoraceae. Gen yang toleran terhadap kadar garam tinggi dari tanaman mangrove dipindahkan ke dalam tanaman padi maupun tembakau, sehingga tanaman tersebut dapat tumbuh dengan baik di daerah pesisir pantai.
2. Program Bioteknologi Padi di Costa Rica.Beras merupakan
makanan pokok yang dikonsumsi oleh lebih dari setengah jumlah penduduk dunia.
Di Costa Rica seperti juga di Indonesia konsumsi beras per kapita cukup tinggi
sehingga diperlukan produksi padi yang tinggi. Namun demikian karena sempitnya
dasar genetika (narrow genetic base) varietas-varietas padi yang dibudi
dayakan, maka varietas-varietas tersebut menjadi rentan terhadap hama belalang,
virus hoja blanca (RHBV, rice hoja blanca virus, jamur padi Magnaporthe
grisea, juga cekaman lingkungan abiotik. Karena tidak adanya varietas yang
resisten terhadap cekaman-cekaman tersebut maka penggunaan insektisida dan
fungisida telah meningkatkan biaya budi daya padi yang menyebabkan budi daya
padi di Costa Rica menjadi tidak kompetitif dibanding pasar internasional dan
juga hasil yang rendah yang menjadikan Costa Rica tergantung pada beras impor.
Untuk mengurangi penghambat produksi padi di Costa Rica seperti di atas,
Program Bioteknologi Padi (Rice Biotechnology Program) menggunakan pendekatan
bioteknologi dalam memanfaatkan plasma nutfah untuk memperbaiki varietas padi
yang ada. Strategi yang digunakan adalah mengkarakterisasi secara molekuler
plasma nutfah padi liar yang ada di Costa Rica yang mungkin memiliki kumpulan
gen untuk perbaikan sifat-sifat agronomis. Selain itu, pendekatan bioprospeksi
untuk gen-gen bakteri yang memiliki aktivitas sebagai insektisida yang
diisolasi dari berbagai mikroba seperti Bacillus thuringiensis, Photorhabdus
spp dan Xenorhabdus spp. Gen-gen yang telah diisolasi dapat disisipkan
pada genom padi secara rekayasa genetika. Juga telah dilakukan karakterisasi
genetika baik pada padi liar maupun padi hasil budi daya untuk menentukan
sumber resistensi pada Magnaporthe grisea.
Transformasi yang pertama kali dilakukan adalah untuk membuat kultivar tahan terhadap RHBV dengan menggunakan gen coat protein dari virus dan versi modifikasi dari gen tersebut yang apabila diekspresikan pada tanaman akan menginduksi ketahanan atau resistensi terhadap virus. Upaya untuk membuat tanaman tahan terhadap belalang yang merupakan vektor dari RHBV dilakukan dengan menyisipkan gen lectin. Diharapkan didapat tanaman yang memiliki dua tingkat resistensi yaitu tahan terhadap virus dan vektornya. Selain dari hal tersebut, beberapa gen juga telah ditransfer pada kultivar padi yaitu gen ketahanan terhadap blast Xanthomonas oryzae, dan proteinase inhibitor untuk ketahanan terhadap serangga. Demikian juga gen-gen untuk ketahanan terhadap kekeringan dan salinitas akan disisipkan kepada padi.
Upaya juga dilakukan untuk mengkarakterisasi gene pool padi liar untuk meningkatkan hasil. Penyilangan interspesifik antara padi liar O. rufopogon telah meningkatkan hasil sampai 20%. Juga gen Xa21 dari O. longistaminata telah di klon dan diintroduksikan pada genom padi dan meningkatkan ketahanan pada Xanthomonas oryzae. Penelitian pada Program Bioteknologi Padi Costa Rica juga meliputi penelitian untuk mengidentifikasi, dan
mengkarakterisasi secara molekuler kerabat dekat padi yang asli dari Costa Rica. Tiga populasi dari empat populasi padi asli Amerika Selatan dijumpai tumbuh di Costa Rica yaitu Oryza latifolia, O. grandiglumis, O. glumaepatula. Selain itu dua jenis kerabat padi yang bukan asli Amerika Selatan dan telah dianggap sebagai gulma di Costa Rica seperti Oryza rufipogon dan O. glaberrima juga kemungkinan mengandung sumber genetik yang berguna untuk perbaikan tanaman padi. Oryza latifolia adalah spesies padi tetraploid dengan genom CCDD. Beberapa tanaman dari spesies ini diketahui mengandung sifat-sifat agronomis yang berguna bagi perbaikan tanaman seperti ketahanan terhadap kekeringan dan salinitas, dan pembungaan yang lebih awal. O. grandiglumis adalah kerabat padi yang paling banyak dimanfaatkan untuk perbaikan tanaman karena diyakini memiliki gen ketahanan terhadap M. grisea.
Transformasi yang pertama kali dilakukan adalah untuk membuat kultivar tahan terhadap RHBV dengan menggunakan gen coat protein dari virus dan versi modifikasi dari gen tersebut yang apabila diekspresikan pada tanaman akan menginduksi ketahanan atau resistensi terhadap virus. Upaya untuk membuat tanaman tahan terhadap belalang yang merupakan vektor dari RHBV dilakukan dengan menyisipkan gen lectin. Diharapkan didapat tanaman yang memiliki dua tingkat resistensi yaitu tahan terhadap virus dan vektornya. Selain dari hal tersebut, beberapa gen juga telah ditransfer pada kultivar padi yaitu gen ketahanan terhadap blast Xanthomonas oryzae, dan proteinase inhibitor untuk ketahanan terhadap serangga. Demikian juga gen-gen untuk ketahanan terhadap kekeringan dan salinitas akan disisipkan kepada padi.
Upaya juga dilakukan untuk mengkarakterisasi gene pool padi liar untuk meningkatkan hasil. Penyilangan interspesifik antara padi liar O. rufopogon telah meningkatkan hasil sampai 20%. Juga gen Xa21 dari O. longistaminata telah di klon dan diintroduksikan pada genom padi dan meningkatkan ketahanan pada Xanthomonas oryzae. Penelitian pada Program Bioteknologi Padi Costa Rica juga meliputi penelitian untuk mengidentifikasi, dan
mengkarakterisasi secara molekuler kerabat dekat padi yang asli dari Costa Rica. Tiga populasi dari empat populasi padi asli Amerika Selatan dijumpai tumbuh di Costa Rica yaitu Oryza latifolia, O. grandiglumis, O. glumaepatula. Selain itu dua jenis kerabat padi yang bukan asli Amerika Selatan dan telah dianggap sebagai gulma di Costa Rica seperti Oryza rufipogon dan O. glaberrima juga kemungkinan mengandung sumber genetik yang berguna untuk perbaikan tanaman padi. Oryza latifolia adalah spesies padi tetraploid dengan genom CCDD. Beberapa tanaman dari spesies ini diketahui mengandung sifat-sifat agronomis yang berguna bagi perbaikan tanaman seperti ketahanan terhadap kekeringan dan salinitas, dan pembungaan yang lebih awal. O. grandiglumis adalah kerabat padi yang paling banyak dimanfaatkan untuk perbaikan tanaman karena diyakini memiliki gen ketahanan terhadap M. grisea.
3. Tanaman tahan serangga Tanaman tahan serangga merupakan hasil penyisipan gen Bacillus thuringiensis (Bt) yang diketahui bersifat sebagai insektisida alami ke dalam tanaman pertanian. Bt memiliki kemampuan untuk menghancurkan dinding pencernaan jenis serangga Lepidoptera dan aman terhadap serangga lainnya, burung, mamalia dan manusia. Saat ini telah di budidayakan tanaman jagung, kapas, kedelai, kentang dan berbagai jenis tanaman hortikultura yang mengandung gen Bt. Selain itu juga penelitian sedang dikembangkan untuk mendapatkan tanaman padi dan berbagai tanaman keras yang mengandung gen Bt.
4. Tanaman transgenik dengan gen perlindungan terhadap gulma
Pengendalian gulma dalam pertanian merupakan salah satu cara untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Gulma bersaing dengan tanaman pertanian untuk mendapatkan air, nutrisi, dan cahaya matahari. Selain itu gulma merupakan tempat dari sumber penyakit dan sarang dari hama tanaman. Penggunaan herbisida telah digunakan dan sangat efektif dalam mengendalikan gulma. Gen ketahanan terhadap herbisida glifosat dan glufosinat telah dikarakterisasi dan gen-gen tersebut telah disisipkan pada berbagai tanaman budi daya seperti kedelai, jagung, kapas, dan padi. Analisa keamanan tanaman transgenik Sebelum suatu tanaman transgenik dapat dikomersialisasikan, tanaman-tanaman tersebut harus terlebih dahulu dikaji keamanan hayatinya dengan menggunakan pedoman pengkajian yang telah diakui oleh badan-badan independen seperti Organization for Economic Cooperation and Development (OECD), Food and Health Organization (FAO) dan World and Health Organization (WHO) dari PBB serta International Life Science Institute (ILSI). Kajian untuk keamanan lingkungan tanaman transgenik meliputi ketahanan terhadap hama dan penyakit, kemungkinan terjadinya persilangan dengan kerabat liarnya, kemungkinan untuk menjadi lebih agresif dan kompetitif di alam dibandingkan dengan tanaman konvensional serta dampaknya terhadap organisme non target. Kajian untuk keamanan pangan tanaman transgenik meliputi analisa toksisitas, makromolekul yang dapat menyebabkan alergi dan kandungan nutrisi. Kriteria tersebut di atas ditujukan untuk mengetahui apakah tanaman transgenik memiliki kesepadanan substansial dengan tanaman konvensional.
2.5 Penyiapan plasma nutfah tahap daerah
Era otonomi daerah telah menjadi semangat kerja bagi seluruh
unsur pemerintahan daerah maupun segenap lapisan masyarakat. Semua pihak telah
meyakini bahwa atmosfir otonomi daerah merupakan sistem yang lebih baik
dibandingkan dengan pemerintahan yang terpusat (sentralistik) untuk mempercepat
pembangunan di daerah. Hal ini didasarkan pada luasnya wilayah negara Republik
Indonesia serta kebhinekaan masyarakat dan beranekaragamnya budaya.
Demikian pula dengan plasma nutfah yang terkandung dalam berbagai spesies flora dan fauna di berbagai daerah di Indonesia yang telah termasyhur dengan keanekaragamannnya yang tinggi, perlu diberdayakan secara optimal di setiap daerah. Persebaran plasma nutfah terdapat di daerah-daerah, yang mana merupakan kekayaan masyarakat daerah.
Masalah yang dihadapi adalah bahwa belum banyak daerah yang telah menyadari dan memahami dengan baik tentang arti, fungsi dan pentingnya plasma nutfah. Hal ini meliput aspek pengetahuan dan cara pandang di kalangan masyarakat maupun pejabat pemerintahan. Dengan demikian plasma nutfah yang seharusnya merupakan kekayaan yang sangat tinggi nilainya ternyata belum disadari keberadaannya di beberapa daerah. Akibatnya sebagian plasma nutfah berada dalam status terancam punah, bahkan mungkin diantaranya telah benar-benar punah. Di sisi lain negara-negara tetangga kita dan negara-negara maju tergiur dengan kekayaan plasma nutfah yang berada di berbagai daerah itu, sehingga dengan berbagai dalih mereka telah mengambilnya (dengan kita sadari maupun tidak kita sadari) untuk dibawa dan dikembangkan di negara mereka untuk keuntungan mereka sendiri, tanpa kita memperoleh keuntungan sama sekali.
Untuk itulah maka merupakan suatu keharusan pengelolaan plasma nutfah pada taraf daerah harus sesegera mungkin dapat dilakukan tanpa ada penundaan lagi. Implikasinya adalah perlu segera disiapkan elemen-elemen di daerah yang diperlukan dalam pengelolaan plasma nutfah, baik meliputi perangkat keras maupun perangkat lunaknya. Dari segi sumber daya manusia, pada taraf akademisi dan peneliti yang terkait bidangnya dengan plasma nutfah, telah terdapat di setiap propinsi, yang mana mereka merupakan kelompok yang telah memiliki pengetahuan cukup tentang perplasma nutfahan. Sedangkan keadaan SDM di luar kelompok itu pada umumnya belum memiliki pengetahuan cukup tentang plasma nutfah.
Demikian pula dengan plasma nutfah yang terkandung dalam berbagai spesies flora dan fauna di berbagai daerah di Indonesia yang telah termasyhur dengan keanekaragamannnya yang tinggi, perlu diberdayakan secara optimal di setiap daerah. Persebaran plasma nutfah terdapat di daerah-daerah, yang mana merupakan kekayaan masyarakat daerah.
Masalah yang dihadapi adalah bahwa belum banyak daerah yang telah menyadari dan memahami dengan baik tentang arti, fungsi dan pentingnya plasma nutfah. Hal ini meliput aspek pengetahuan dan cara pandang di kalangan masyarakat maupun pejabat pemerintahan. Dengan demikian plasma nutfah yang seharusnya merupakan kekayaan yang sangat tinggi nilainya ternyata belum disadari keberadaannya di beberapa daerah. Akibatnya sebagian plasma nutfah berada dalam status terancam punah, bahkan mungkin diantaranya telah benar-benar punah. Di sisi lain negara-negara tetangga kita dan negara-negara maju tergiur dengan kekayaan plasma nutfah yang berada di berbagai daerah itu, sehingga dengan berbagai dalih mereka telah mengambilnya (dengan kita sadari maupun tidak kita sadari) untuk dibawa dan dikembangkan di negara mereka untuk keuntungan mereka sendiri, tanpa kita memperoleh keuntungan sama sekali.
Untuk itulah maka merupakan suatu keharusan pengelolaan plasma nutfah pada taraf daerah harus sesegera mungkin dapat dilakukan tanpa ada penundaan lagi. Implikasinya adalah perlu segera disiapkan elemen-elemen di daerah yang diperlukan dalam pengelolaan plasma nutfah, baik meliputi perangkat keras maupun perangkat lunaknya. Dari segi sumber daya manusia, pada taraf akademisi dan peneliti yang terkait bidangnya dengan plasma nutfah, telah terdapat di setiap propinsi, yang mana mereka merupakan kelompok yang telah memiliki pengetahuan cukup tentang perplasma nutfahan. Sedangkan keadaan SDM di luar kelompok itu pada umumnya belum memiliki pengetahuan cukup tentang plasma nutfah.
Berkaitan dengan masalah itu beberapa daerah telah memiliki
kesiapan lebih baik dalam pengelolaan plasma nutfah, yaitu dengan membentuk
Komisi Daerah (KOMDA) plasma nutfah. Daerah yang telah membentuk KOMDA Plasma
nutfah adalah Propinsi Lampung, Propinsi Banten, dan Propinsi Sumatera Selaan
(tahun 2003). Hal ini merupakan langkah awal yang bagus, tinggal selanjutnya di
tingkatkan kualitas SDM dan kelengkapan perangkat kerasnya, serta diberdayakan
organisasinya. Dalam makalah ini disinggung pula peraturan perundangan yang
berkaitan dengan pengelolaan sumber daya hayati (Undang-undang no. 5 tahun
1990), serta dokumen dari FAO mengenai the global plan of action for the
conservation and sustainable utilization of plant genetic resources for food
and agriculture. Hal ini dimaksudkan agar dapat digunakan sebagai landasan
pemikiran oleh pemangku kepentingan (stakeholder) di daerah untuk
penyusunan rancangan pengelolaan plasma nutfah.
2.6 Berbagai jenis plasma nutfah di Indonesia
Tanaman atsiri
Serai wangi
Sebanyak 123 aksesi
telah dipelajari sifat-sifat minyak serta sifat-sifat morfologinya . Serai
wangi yang ada diberbagai daerah terdiri atas 2 tipe, yaitu tipe Lena Batu (Andropogon nardus ceylon atau Cymbopogon nardus) serta tipe
Mahapengiri (Andropogon nardus, var.
geninus atau Cymbopogon winterianus atau
Andropogon nardus Java).
Nilam
Nilam yang ada
di Balittro meliputi 2 spesies yaitu nilam Jawa (Pogostemon heyneanus) dan nilam Aceh (Pogostemon cablin). Karakteristik telah dilakukan terhadap 8
aksesi nilam Aceh dan 1 aksesi nilam Jawa. Variasi morfologis antara nilam Aceh
tidak banyak berbeda kecuali kadar minyak dan kadar patchouli alkohol,
sedangkan antara nilam Aceh dan nilam Jawa mudah dibedakan terutama habitus,
bentuk dan serta kadar dan mutu minyak.
Mentha
Mentha (Mentha spp) semuanya merupakan tanaman
introduksi. Dalam perdagangan dikenal 3 jenis minyak mentha, yaitu minyak
permen (peppermint oil) dari Mentha piperita, minyak menthol (cornmint oil )
dari M. arvensis, dan minyak spearmint (spearmint oil) dari .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar