Jumat, 06 Maret 2015

aklimatisasi kultur jaringan



Makalah Kultur Jaringan


 AKLIMATISASI PADA TANAMAN KULTUR JARINGAN

\

NAMA                                      : HERNA FEBRIANTY S
                                  NIM                                           : 409220018
  KELAS                                    : BIOLOGI NON DIK 2009








JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIMED
2013


BAB I
PENDAHULUAN

1.1     Latar Belakang
Kultur jaringan adalah suatu metode untuk mengisolasi bagian dari tanaman seperti sekelompok sel atau jaringan yang ditumbuhkan dengan kondisi aseptik, sehingga bagian tanaman tersebut dapat memperbanyak diri tumbuh menjadi tanaman lengkap kembali.
Tanaman hasil kultur jaringan tidak bisa langsung ditanam begitu saja dalam pot. Pucuk-pucuk dan planlet in vitro yang diregenerasikan di dalam lingkungan dengan kelembaban tinggi dan bersifat heterotrof, harus berubah menjadi autotrof bila dipindahkan ke tanah atau lapangan.  Tanaman hasil kultur jaringan (planlet atau tunas mikro) perlu mendapatkan perlakuan khusus untuk dapat hidup di lingkungan baru hingga menjadi bibit baru yang siap ditanam di lapang. Proses pemindahan merupakan langkah akhir dari prosedur mikropropagasi dan diistilahkan sebagai tahap aklimatisasi. Tahap aklimatisasi merupakan tahapan kritis karena kondisi iklim dilapang sangat berbeda dengan kondisi dalam botol, sehingga diperlukan penyesuaian. Aklimatisasi merupakan proses yang penting dalam rangkaian aplikasi teknik kultur jaringan untuk mendukung pengembangan pertanian.
Menurut Tores (1989), masa aklimatisasi merupakan masa yang kritis karena pucuk atau planlet yang diregenerasikan dari kultur in vitro menunjukkan beberapa sifat yang kurang menguntungkan, seperti lapisan lilin (kutikula) tidak berkembang dengan baik, kurangnya lignifikasi batang, jaringan pembuluh dari akar ke pucuk kurang berkembang dan stomata seringkali tidak berfungsi (tidak menutup ketika penguapan tinggi). Keadaan itu menyebabkan pucuk-pucuk in vitro sangat peka terhadap serangan cendawan dan bakteri, cahaya dengan intensitas tinggi dan suhu tinggi. Oleh karena itu, aklimatisasi pucuk-pucuk in vitro memerlukan penanganan khusus, bahkan diperlukan modifikasi terhadap kondisi lingkungan terutama dalam kaitannya dengan suhu, kelembapan, dan intensitas cahaya. Di samping itu, medium tumbuh pun memiliki peranan yang cukup penting.
1.2     Rumusan Masalah
Adapun yang yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini:
  1. Apa yang dimaksud dengan aklimatisasi pada tanaman kultur jaringan?
  2. Apa saja metode yang terdapat dalam aklimatisasi tanaman kultur jaringan?


1.3  Batasan Masalah
Dalam makalah ini, ruang lingkup permasalahan dibatasi pada aklimatisasi pada tanaman kultur jaringan

1.4  Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini adalah:
1.      Mengetahui aklimatisasi pada tanaman kultur jaringan
2.      Mengetahui metode yang terdapat dalam aklimatisasi tanaman kultur jaringan

1.5  Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah:
1.      Sebagai bahan informasi untuk para mahasiswa dan masyarakat
2.      Sebagai bahan referensi untuk penelitian yang relevan.


BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Pengertian Aklimatisasi
Aklimatisasi merupakan proses penyesuaian planlet dari kondisi mikro dalam botol (heterotrof) ke kondisi lingkungan luar (autotrof). Planlet yang dipelihara dalam keadaan steril dalam lingkungan (suhu dan kelembaban) optimal, sangat rentan terhadap lingkungan luar (lapang). Mengingat sifat-sifat tersebut, sebelum ditanam di lapang, planlet memerlukan aklimatisasi. Aklimatisasi dapat dilakukan di rumah kaca atau pesemaian, baik di rumah kaca atau pesemaian. Dalam aklimatisasi, lingkungan tumbuh (terutama kelembaban) berangsur-aengsur disesuaikan dengan kondisi lapang (Wetherelll, 1982).
Aklimatisasi merupakan proses pemindahan planlet dari lingkungan yang terkontrol (aseptik dan heterotrof) ke kondisi lingkungan tak terkendali, baik suhu, cahaya, dan kelembaban, serta tanaman harus dapat hidup dalam kondisi autotrof, sehingga jika tanaman (planlet) tidak diaklimatisasi terlebih dahulu tanaman (planlet) tersebut tidak akan dapat bertahan dikondisi lapang. Aklimatisasi merupakan kegiatan akhir teknik kultur jaringan. Aklimatisasi dilakukan untuk mengadaptasikan tanaman hasil kultur jaringan terhadap lingkungan baru sebelum ditanam dan dijadikan tanaman induk untuk produksi dan untuk mengetahui kemampuan adaptasi tanaman dalam lingkungan tumbuh yang kurang aseptik.
Planlet yang dapat diaklimatisasi adalah planlet yang telah lengkap organ pentingnya seperti daun akar dan batang (jika ada), sehingga dalam kondisi lingkungan luar planlet dapat melanjutkan perumbuhannya dengan baik. Selain itu aklimatisasi juga memerlukan media yang tepat untuk pertumbuhan planlet. Aklimatisasi dilakukan dengan memindahkan planlet kedalam polybag yang berisi media dan disungkup dengan plastik bening. Sungkup digunakan untuk melindungi bibit dari udara luar dan serangan hama penyakit karena bibit hasil kultur jaringan sangat rentan terhadap serangan hama penyakit dan udara luar. Setelah bibit mampu beradaptasi dengan lingkungan barunya maka secara bertahap sungkup dilepaskan dan pemeliharaan bibit dilakukan dengan cara yang sama dengan pemeliharaan bibit generatif.

Tanaman memiliki sifat totipotesi yang merupakan kemampuan setiap sel, dari mana saja sel tersebut diambil, apabila diletakan dalam lingkungan yang sesuai akan dapat tumbuh menjadi tanaman yang sempurna. Pemindahan eksplan dilakukan secara hati-hati dan bertahap, yaitu dengan memberikan sungkup. Sungkup digunakan untuk melindungi bibit dari udara luar dan serangan hama penyakit karena bibit hasil kultur jaringan sangat rentan terhadap serangan hama penyakit dan udara luar. Setelah bibit mampu beradaptasi dengan lingkungan barunya maka secara bertahap sungkup dilepaskan dan pemeliharaan bibit dilakukan dengan cara yang sama dengan pemeliharaan bibit generative (Pierik, 1997).

1.1  Metode aklimatisasi pada tanaman kultur jaringan
Aklimatisasi atau penyesuaian terhadap lingkungan baru dari lingkungan yang terkendali ke lingkungan yang relatif berubah. Penyesuaian terhadap iklim pada lingkungan baru yang dikenal dengan aklimatisasi merupakan masalah penting apabila membudidayakan tanaman menggunakan bibit yang diperbanyak dengan teknik kultur jaringan (Khan, 2007). Masalah ini dapat terjadi karena beberapa faktor:
1.             pemindahan tanaman dari botol ke media dalam pot  sebenarnya telah menempatkan tanaman pada lingkungan yang tidak sesuai dengan habitatnya.
2.             Tumbuhan yang dikembangkan menggunakan teknik kultur jaringan memiliki kondisi lingkungan yang aseptik dan senyawa organik yang digunakan tanaman sebagian besar didapat secara eksogenous. Oleh karena itu, apabila dipindahkan kedalam pot, maka  tanaman dipaksa untuk dapat membuat sendiri bahan organik secara endogenous.


Perbedaan faktor lingkungan antara habitat asli dan habitat pot atau antara habitat kultur jaringan dengan habitat pot memerlukan penyesuaian agar faktor lingkungan tidak melewati batas kritis bagi tanaman.
Salah satu metode yang digunakan pada proses aklimatisasi tanaman botol ke tanaman pot menurut lc nursery adalah sebagai berikut:
-                Bibit yang masih ada didalam botol dikeluarkan dengan hati-hati menggunakan kawat atau dengan memecahkan botol setelah dibungkus dengan kertas.
-                Bibit kemudian dibilas diatas tray plastik berlubang sebelum disemprot dengan air mengalir untuk membersihkan sisa media agar.
-                Tiriskan bibit yang sudah bersih diatas kertas koran.
-                Tanam bibit secara berkelompok tanpa media tanam, kemudian tempatkan ditempat teduh yang memiliki sirkulasi udara yang baik.
-                Tanaman disemprot setiap hari menggunakan hand sprayer.
-                Setelah kompot berumur 1-1.5 bulan, bibit dapat ditanam dalam individual pot menggunakan media pakis atau sabut kelapa.
Metode aklimatisasi ini adalah salah satu dari sekian banyak metode yang digunakan untuk melakukan aklimatisasi terhadap bibit anggrek botol dan disebut dengan metode kering. Untuk dapat meningkatkan efektivitas metode yang digunakan, maka masalah fisiologis yang dihadapi oleh tanaman mungkin juga perlu diketahui.
Tumbuhan yang dikembangkan menggunakan teknik kultur jaringan memiliki kondisi lingkungan yang aseptik dan senyawa organik yang digunakan tanaman sebagian besar didapat secara  eksogenous. Oleh karena itu, apabila dipindahkan kedalam pot, maka tanaman dipaksa untuk dapat membuat sendiri bahan organik secara endogenous (Santana, 2010).
Masa aklimatisasi merupakan masa yang kritis karena pucuk atau planlet yang diregenerasikan  dari kultur in vitro menunjukan beberapa sifat yang kurang menguntungkan, seperti lapisan lilin (kutikula tidak berkembang dengan baik, kurangnya lignifikasi batang, jaringan pembuluh dari akar ke pucuk kurang berkembang dan stomata sering kali tidak berfungsi (tidak menutup ketika penguapan tinggi). Keadaan itu menyebabkan pucuk-pucuk in vitro sangat peka terhadap transpirasi, serangan cendawan dan bakteri, cahaya dengan intensitas tinggi dan suhu tinggi. Oleh karena itu, aklimatisasi pucuk-pucuk in vitro memerlukan penanganan khusus, bahkan diperlukan modifikasi terhadap kondisi linkungan terutama dalam kaitannya dengan suhu, kelembaban dan intensiitas cahaya. Disamping itu, medium tumbuh pun memiliki peranan yang cukup penting khususnya bila puucuk-pucuk mikro yang diaklimatisasikan belum membentuk sistem perakaran yang baik (Varghese, 2007).
Metode aklimatisasi dibagi menjadi 2, yaitu metode langsung (direct) dan metode tidak langsung (indirect).


Metode langsung:
1.      Menyiapkan planlet dalam botol yang akan diaklimatisasi dan mengeluarkan planlet secara hati-hati dari dalam botol.
2.      Membersihkan akar tanaman dari agar-agar yang masih melekat dengan air.
3.      Merendam akar tanaman dalam larutan fungisida dan bakterisida selama 5 menit.
4.      Menanam tanaman pada bak media arang sekam yang telah dibasahi.
5.      Tutup bak dengan plastik transparan selam 1 - 2 minggu.
6.      Setelah 1 -2 minggu plastik dibuka dan tanaman dibiarkan tumbuh dan berkembang dalam bak aklimatisasi hingga minggu ketiga sampai keempat.
7.      Selanjutnya tanaman dipindahkan ke dalam polibag-polibag kecil sampai siap untuk di tanam di lapang.
Metode tidak langsung:
1.      Menyiapkan planlet dalam botol yang akan diaklimatisasi dan mengeluarkan planlet secara hati-hati dari dalam botol
2.      Memotong tanaman tepat pada bagian bawah nodus ketiga kemudian merendamnya dalam larutan fungisida dan bakterisida selama 5 menit.
3.      Menanam tanaman pada bak media arang sekam yang telah dibasahi.
4.      Tutup bak dengan plastik transparan selam 1 - 2 minggu.
Aklimatisasi Planlet di Rumah Kaca Aklimatisasi merupakan tahap penting dalam proses kultur jaringan. Tahap ini sering kali menjadi titik kritis dalam aplikasi teknik kultur jaringan. Aklimatisasi diperlukan karena tanaman hasil kultur jaringan umumnya memiliki lapisan lilin tipis dan belum berkembang dengan baik, sel-sel dalam palisade belum berkembang maksimal, jaringan pembuluh dari akar ke pucuk kurang berkembang, dan stomata sering kali tidak berfungsi, yaitu tidak dapat menutup pada saat penguapan tinggi.

2.3. Contoh aklimatisasi tanaman kultur jaringan       
A. Aklimatisasi anggrek terestrial Bletilla striata (Orchidaceae)  disebarkan di bawah dalam kondisi in vitro :
Bletilla striata adalah sympodial terestrial anggrek. Substrat  digunakan untuk tumbuh luar, berbeda dalam campuran ditambahkan  komponen dan nutrisi, yang dipilih untuk aklimatisasi  yang asimbiotik diperbanyak tanaman.
Anggrek diaklimatisasi dalam plastik mini rumah kaca seperti  benih nampan, yang terdiri dari dua bagian. Bagian bawah gelap  hijau, terbuat dari plastik yang lebih fleksibel, sementara bagian atas (penutup)  adalah transparan. Ada dua yang terbuka meliputi, yaitu, ventilasi untuk ventilasi dari daerah berkembang. Ukuran  dari bagian bawah adalah 36 × 22 × 6 cm dan ukuran penutup 36  × 22 × 12 cm. Setelah penanaman, tanaman yang cukup disiram dengan  air suling. Substrat tidak boleh terlalu lembab, karena  tanaman memiliki dinding sel tipis dan lembut dalam  bagian hipokotil dan dapat dengan cepat menjadi terinfeksi dan mati. Kita  Oleh karena itu menempatkan dua gelas 50 ml dengan air di setiap rumah kaca kecil untuk mendirikan sebuah kelembaban relatif yang tinggi. Setelah satu minggu, satu gelas air yang dibuang. Ventilasi di sampul rumah kaca kecil tinggal ditutup selama dua minggu tetapi daerah berkembang yang berventilasi dengan mrmbuang air selama beberapa menit setiap  hari dan kemudian kembali ditutup. Ventilasi di sampul itu secara bertahap dibuka pada minggu ketiga. Pada minggu keempat, mencakup secara bertahap diangkat dan, pada akhir minggu, benar-benar dibuang. Anggrek dalam membuka rumah kaca kecil disiram setidaknya sekali seminggu atau sesuai kebutuhan tergantung pada kelembaban substrat.
 
Hal ini juga penting bagi tanaman untuk terkena cahaya  selama aklimatisasi, yang memungkinkan mereka untuk membangun  proses fotosintesis. Penting lainnya  kondisi suhu yang sesuai tanpa utama  fluktuasi atau sirkulasi udara.  Ketika periode cuaca panas  dimulai, rumah kaca kecil dipindahkan ke tempat gelap  bagian dari rumah kaca. Setiap hari selama dua pertama  minggu, ketika mini rumah kaca benar-benar  ditutup, direkomendasikan cahaya buatan, dimana lebih mudah untuk  mengontrol panjang dan intensitas pencahayaan.  Cahaya buatan menghindari perbedaan musiman atau lebih  periode cuaca berawan dan, di samping itu, sebagian memecahkan  masalah pemanasan.  
Selain faktor-faktor yang terdaftar dan sesuai  substrat, ukuran dan perkembangan panggung dan vitalitas  dari pada tanaman budidaya in vitro sangat penting. Itu  anggrek termasuk dalam percobaan ini adalah ukuran rata-rata  dari 2,5 cm, dengan setidaknya 2 daun dan 2 - 3 cm panjang akar  atau akar  bahwa ukuran yang sesuai untuk aklimatisasi anggrek adalah  ketika daun mereka setidaknya 5 cm.
Tanaman Bletilla striata lebih kecil dan dengan akar lebih sedikit dari pada menyatakan  dalam literatur tersebut. Tidak ada data yang tersedia diliteratur untuk Bletilla striata anggrek, jadi kami memutuskan  ukuran yang sesuai dan phenophase diri kita sendiri, berdasarkan  ketika tanaman memiliki setidaknya minimal nutrisi  disimpan dalam daun dan akar yang diperlukan untuk aklimatisasi proses. Dengan menggunakan tanaman minimum. Ukuran mungkin untuk menyesuaikan diri kita memperpendek periode dalam budidaya in vitro, yang sangat penting untuk massa pasar produksi ( Lesar, 2012)

B. Aklimatisasi Daun Encok ( Plumbago zeynalica )
Untuk aklimatisasi, planlet daun encok asal perlakuan terbaik pada multiplikasi tunas yang telah sempurna dengan akar lengkap dikeluarkan dari botol kultur, lalu dicuci di bawah air mengalir untuk menghilangkan sisa-sisa agar yang masih menempel pada akar tanaman. Tanaman diaklimatisasi di rumah kaca dengan menggunakan media tanah + sekam (1:1) selama 8 minggu. Setelah vigor tanaman kuat, dilakukan adaptasi tanaman dengan cara memindahkannya ke dalam polibag berukuran 20 x 30 cm dengan perbandingan media tanah + pupuk kandang (1:1). Tanaman yang diobservasi berjumlah dua puluh polibag. Parameter yang diamati adalah jumlah anakan, jumlah daun dan tinggi tanaman pada umur dua dan empat bulan. Observasi dilakukan secara individual tanpa menggunakan rancangan percobaan ( Kristinia, 2008).























BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
          Tanaman hasil kultur jaringan tidak bisa langsung ditanam begitu saja dalam pot. Pucuk-pucuk dan planlet in vitro yang diregenerasikan di dalam lingkungan dengan kelembaban tinggi dan bersifat heterotrof, harus berubah menjadi autotrof bila dipindahkan ke tanah atau lapangan.  Tanaman hasil kultur jaringan (planlet atau tunas mikro) perlu mendapatkan perlakuan khusus untuk dapat hidup di lingkungan baru hingga menjadi bibit baru yang siap ditanam di lapang. Proses pemindahan merupakan langkah akhir dari prosedur mikropropagasi dan diistilahkan sebagai tahap aklimatisasi. Tahap aklimatisasi merupakan tahapan kritis karena kondisi iklim dilapang sangat berbeda dengan kondisi dalam botol, sehingga diperlukan penyesuaian. Aklimatisasi merupakan proses yang penting dalam rangkaian aplikasi teknik kultur jaringan untuk mendukung pengembangan pertanian.
Metode aklimatisasi ini adalah salah satu dari sekian banyak metode yang digunakan untuk melakukan aklimatisasi terhadap bibit anggrek botol dan disebut dengan metode kering. Untuk dapat meningkatkan efektivitas metode yang digunakan, maka masalah fisiologis yang dihadapi oleh tanaman mungkin juga perlu diketahui.
Tumbuhan yang dikembangkan menggunakan teknik kultur jaringan memiliki kondisi lingkungan yang aseptik dan senyawa organik yang digunakan tanaman sebagian besar didapat secara  eksogenous. Oleh karena itu, apabila dipindahkan kedalam pot, maka tanaman dipaksa untuk dapat membuat sendiri bahan organik secara endogenous





DAFTAR PUSTAKA
Khan, S., 2007. Callus induction, plant and regeneration acclimatization of African Violet (Saintpaulia ionatha)  using leaves as explants. Universitas Karachi, Karachi-75270, Pakistan

Kristina, N., 2008. Multiplikasi tunas, aklimatisasi dan analisis mutu simplisia daun encok (plumbago zeylanica l.) asal kultur in vitro periode panjang. Bul. Littro. Vol. XIX No. 2

Lesar, H., 2012. Acclimatization of terestrial  orchid Bletilla striata Rchb.f. (Orchidaceae) propagated under in vitro conditions. World J Gastroenterol. 9: 2676-2680.

Mantell, S.H., J.A.Matthews, and R.A.McKee. 1985. Principles of Plant Biotechnology – An Iintroduction to Genetic Engineering in Plants. Blackwell scientific Publications. Oxford. 269p

Pierik, R.L.M. 1987. In Vitro Culture of Higher Plants. Martinus Nijhoff Publishers. Netherlandsv

Santana, D., 2010. Micropropagation and acclimatization Bauhinia. African Journal of Biotechnology Vol. 10

Torres, K. C. 1989. Tissue Culture Techniques for Horticultural Crops.Chapman and Hall. New York. London.

Wetherelll, D. F. 1982. Introduction To In Vitro Propagation. Avery Publishing Group Inc. Wayne, New Jersey.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar