PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Selulosa
merupakan salah satu biopolimer melimpah di alam dan merupakan limbah pertanian
yang dominan. Namun pemanfaatan selulosa masih sangat terbatas. Selulosa merupakan
polimer glukosa yang dihubungkan dengan ikatan glikosidik β 1-4 dan dapat
didegradasi oleh enzim selulase. Jaradat et al (2008) mengemukakan enzim selulase
menempati 20% perdagangan enzim di dunia. Shaikh et al(2013) menerangkan enzim
selulase merupakan kompleks enzim yang merupakan sistem sinergis dan secara
bertahap mampu mengubah selulosa menjadi sumber energi dan glukosa tersedia
sehingga berperan penting dalam pemanfaatan biomassa.
Salah
satu kelompok organisme yang mampu menghasilkan enzim selulase adalah
mikroorganisme. Kosim, Putra (2010) dalam Yusriah & Kuswytasari (2013)
menyatakan mikroorganisme merupakan sumber enzim dan lebih
menguntungkandibandingkan organisme lainkarena pertumbuhannya cepat, dapat
tumbuh pada substrat yang murah, lebih mudah ditingkatkan hasilnya melalui
pengaturan kondisi pertumbuhan dan rekayasa genetika, serta mampu menghasilkan
enzim yang ekstrim. Sadhu, S & T.K. Maiti (2013) menyatakan konversi
biomassa selulosa oleh mikroorganisme berpotensi untuk mengembangkan bioproses
dan produk-produk baru.
Enzim
selulase yang dihasilkan oleh mikroorganisme telah diproduksi secara komersial
oleh beberapa industri global dan banyak digunakan dalam bidang pangan, pakan,
bahan bakar, industri kertas dan tekstil, serta berbagai industri kimia.
Periode tahun 2004-2014 menunjukkan terjadi peningkatan penggunaan enzim
selulase hampir mencapai 100%. Penelitian mengenai enzim selulase umumnya
dilakukan pada fungi tetapi saat ini terjadi peningkatan penelitian pada
bakteri. Produksi enzim selulase oleh bakteri memiliki keunggulan dibandingkan
fungi yaitu kecepatan pertumbuhan bakteri lebih cepat sehingga memungkinkan
produksi enzim rekombinan lebih tinggi, properti kestabilan pada keadaan suhu
tinggi, dan lebih tahan kondisi basa. Selain itu enzim selulase yang dihasilkan
bakteri lebih komplek dan multi enzim sehingga meningkatkan fungsi serta
sinerginya. Habitat bakteri pada lingkungan yang lebih bervariasi seperti
termofilik, psikrofilik, alkalifilik, asidofilik, halofilik sehingga mampu
resisten pada tekanan lingkungan.
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan Masalah dalam
paper ini adalah :
1.
Bagaimana fungsi dan kerja
enzim selulase
2.
Mikroba apa saja penghasil
selulolitik
1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan paper
ini adalah:
1. Mengetahui fungsi
dan kerja enzim selulase
2. Mengetahui mikroba
penghasil selulolitik
1.4 Manfaat Penulisan
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah:
1. Sebagai bahan informasi dan referensi
untuk para mahasiswa dan masyarakat
BAB II
HASIL DAN DISKUSI
2.1. Selulosa
Selulosa merupakan komponen utama pembentuk dinding sel
tanaman yang menyusun sekitar setengah dari tanaman keras dan sepertiga dari
tanaman setahun. Setiap jutaan ton selulosa diproduksi oleh tanaman melalui
fotosintesis. Produksi selulosa umumnya banyak digunakan dalam industri tekstil
dan kertas. Sekarang ini terdapat dua cara utama yang dilakukan untuk
mengonversi selulosa menjadi glukosa: kimiawi dan enzimatis. Penelitian
terhadap kedua metode telah mendapat perhatian dari banyak peneliti di seluruh
dunia.
Selulosa merupakan polisakarida yang terdiri atas satuan-satuan
dan mempunyai massa molekul relatif yang sangat tinggi, tersusun dari 2.000-3.000 glukosa. Setiap
molekul selulosa mengandung 1000 sampai 1 juta unit D-glukosa yang dihubungkan
bersama oleh ikatan β-1,4-gliokosida. Selulosa dari berbagai sumber memiliki
struktur molekuler yang sama. Namun selulosa dari berbagai sumber memiliki
perbedaan dari struktur kristalnya dan ikatan dengan biomolekul lainnya.
Terdapat dua jenis ikatan hidrogen pada molekul selulosa yang terbentuk antara
OH pada gugus C3dan oksigen pada cincin piranosa dalam molekul yang sama dan
juga antara OH pada gugus C6 dari satu molekul dengan oksigen oksigen pada
ikatan glikosida dari molekul yang lain. Ikatan β-1,4-gliokosida sendiri tidak
terlalu sulit untuk dipecah. Namun karena ikatan hidrogen selulosa dapat
membentuk kristal yang sangat kuat.
Derajat kristalisasi merupakan faktor penting yang
mempengaruhi degradasi hidrolitik oleh selulase. Terdapat hubungan linear
antara derajat kristalisasi dengan proses degradasi. Adanya asosiasi secara
fisik dengan kristal lain seperti lignin dan hemiselulosa menghambat aktivitas
hidrolitik. Kontak fisik antara enzim dan substrat sangat diperlukan untuk
terjadinya aksi hidrolitik. Semakin tinggi area permukaan atau semakin kecil
partikel, semakin tinggi kemudahan proses hidrolisis.
2.2. Enzim Selulase
Enzim selulase merupakan kumpulan dari beberapa enzim
yang bekerja bersama untuk hidrolisis selulosa.Mikroorganisme tertentu
menghasilkan partikel yang dinamakan selulosom. Partikel inilah yang akan
terdisintegrasi menjadi enzim-enzim, yang secara sinergis mendegradasi selulosa
(Belitz dkk, 2008). Menurut Salamdan Gunarto (1999), selulase merupakan enzim yang dapat
memutuskan ikatan glukosida β-1,4 di dalam selulosa.Dalam menghidrolisis senyawa
selulosa, kemampuan selulase sangat digantungkan pada substrat yang digunakan.
Enzim selulase merupakan salah satu kelompok enzim yang
termasuk dalam suatu sistem yang diproduksi mikroorganisme dalam degradasi
material sel tumbuhan. Enzim ini termasuk dalam famili glikosil hidrolase.
Enzim selulase berperan dalam hidrolisis selulosa dengan memecah ikatan
β-1,4-D-glikosidauntuk menghasilkan oligosakarida maupun glukosa. Berdasarkan
aktivitasnya terhadap berbagai substrat,selulase diklasifikasikan menjadi tiga
tipe, yaitu endoglukanase (endo-β-1,4-glucanase, EC 3.2.1.4), β-glukosidase
(β-D-glucosideglucohydrolase, EC 3.2.1.21) dan selobiohidrolase atau
eksoglukanase (exo-β-1,4-glucanase, EC 3.2.1.91).
Endoglukanase menghidrolisis ikatan internal
β-1,4-D-glikosida secara random pada situs amorf dari rantai polisakarida
selulosa untuk menghasilkan oligosakarida dan menambah ujung rantai yang baru,
eksoglukanase menghidrolisis selulosa dengan memotong rantai selulosa pada
ujung untuk menghasilkan selobiosa atau glukosa sebagai produk utama, dan
glikosidase menghidrolisis selobiosa menjadi glukosa untuk mengeliminasi
penghambatan selobiosa. Fungsi terpenting dari enzim adalah kemampuannya
menurunkan energi aktivasi suatu reaksi kimia. Kemampuan enzim dalam
mendegradasi substrat dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain konsentrasi
enzim, konsentrasi substrat, pH serta temperature.
Gambar : Mekanisme hidrolisis selulosa
2.3. Mikroba Selulolitik
Keanekaragaman hayati dan potensi bakteri penghasil
enzim selulase atau disebut bekteri selulolitik. Jenis fungi yang biasa
digunakan dalam produksi selulase antara lain sebagai berikut: Aspergillus
niger, Aspergillus fumigates, Aspergillus nidulans, Neurospora
sitophila, Tricoderma viride, Tricoderma longibrachiatum, dan
Saccharomyces cerevisiae. Bakteri yang bisa menghasilkan selulase adalah
Pseudomonas, Cellulomonas, Bacillus, Micrococcus, Cellovibrio,
dan Sporosphytophaga .
2.4. Metodologi Penelitian
Isolasi dan
seleksi bakteri selulolitik. Metode pengambilan
sampel tanah dilakukan dengan cara mengambil sampel tanah pada ke dalaman 10-20
cm. Sampel tanah yang diambil merupakan sampel komposit, kemudian dimasukan
dalam wadah plastik gelap berlabel. Isolasi bakteri selulolitik dilakukan
dengan metode cawan sebar pada media CMC (1 g CMC; 0,02 g MgSO4.7H2O;
0,075 g KNO3; 0,05 g K2HPO4; 0,002 g FeSO4.7H2O;
0,004 g CaCl2.2H2O; 0,2 g ekstrak kamir, 1,5 g agar-agar bakto, dan 0,1 g glukosa).
Koloni-koloni yang tumbuh dimurnikan dan diuji pertumbuhannya pada suhu 50oC
dan aktivitas selulolitik dengan penentuan indeks selulolitik yang merupakan
nisbah antara diameter zona bening dengan diameter koloni.
Pembuatan kurva
tumbuh dan kurva aktivitas selulase. Sebanyak dua
lup penuh bakteri diinokulasikan ke dalam 100 ml media CMC 1% cair dan
diinkubasi dalam inkubator bergoyang. Setiap 24 jam dilakukan pengukuran
kekeruhan sel dan aktivitas selulase. Enzim selulase ekstrak kasar didapat
dengan melakukan sedimentasi hasil kultur pada kecepatan 8400 g selama 10 menit
pada suhu 4°C. Aktivitas selulase diukur menggunakan metode. Satu unit aktivitas
selulase didefinisikan sebagai jumlah enzim yang menghasilkan 1 μmol glukosa
dalam satu menit. Satu unit aktivitas setara dengan 16,67 nkat. Kadar protein
diukur menggunakan metode dengan bovin
serum albumin (BSA) sebagai standar protein.
Karakterisasi
selulase. Karakterisasi enzim selulase meliputi
penentuan pH dan suhu optimum serta substrat yang sesuai. Pengujian pada
berbagai pH dilakukan pada pH 3 sampai dengan pH 9 dengan selang 0,5 unit
menggunakan bufer sitrat fosfat 0,2 M (pH 3-5,5), bufer fosfat 0,2 M (pH 6-8)
dan bufer tris-HCl 0,2 M (pH 8-9). Suhu yang digunakan adalah 30̊C sampai
dengan 90̊C dengan selang 10̊C dalam substrat CMC 1% dalam bufer pH optimum dan inkubasi selama
30 menit. Aktivitas pada berbagai substrat dilakukan dengan cara menguji
aktivitas selulase pada CMC, avisel, Whatmann filter paper No. 1 serta beberapa
substrat limbah pertanian dalam bufer dengan pH optimum dan diinkubasi
pada suhu optimum.
Persiapan substrat limbah pertanian. Jerami padi,
tongkol jagung dan kulit pisang dikeringkan terlebih dahulu pada suhu 70°C
dalam oven selama 3 hari. Kemudian masing-masing substrat dihaluskan
menggunakan alat blender dan diayak dengan saringan 65 mesh. Substrat
disterilisasi untuk mencegah kontaminasi. Uji aktivitas enzim pada berbagai
substrat. Sebanyak 5 ml substrat CMC dan avicel ditambahkan 5 ml enzim ekstrak
kasar. Untuk substrat kertas saring, sebanyak 2,5 potong kertas saring 1 x 6 cm2 ditambahkan
2,5 ml bufer dan 5 ml enzim ekstrak kasar. Sebanyak 0,05 g substrat jerami
padi, tongkol jagung dan kulit pisang ditambahkan 5 ml bufer dan 5 ml enzim
ekstrak kasar. Reaksi antara substrat dan enzim ekstrak kasar dilakukan di
dalam Erlenmeyer 100 ml selama 60 menit pada suhu optimum. Setelah itu reaksi
dihentikan dengan menambahkan 50 μl NaOH 0,2 M atau dengan menginkubasinya pada
suhu 100°C selama 15 menit. Untuk substrat CMC campuran substrat-enzim
dipindahkan sebanyak 2 ml ke dalam tabung reaksi kemudian ditambahkan 2 ml DNS
dan segera diinkubasi pada suhu 100°C selama 15 menit.Sebanyak 1 lembar kertas
saring 1 x 6 cm² dan 3 ml larutannya (enzim ekstrak kasar dan
bufer) dipindahkan ke dalam tabung reaksi dan ditambahkan 2 ml DNS kemudian
segera diinkubasi pada suhu 100°C selama 15 menit.
Setelah waktu inkubasi campuran substrat avicel, jerami
padi, tongkol jagung dan kulit pisang selesai segera ditambahkan 50 μl NaOH 0.2
M. Lalu suspensi tersebut disentrifus pada kecepatan 2500 rpm selama 25 menit.
Sebanyak 2 ml supernatannya diambil dan ditambahkan 2 ml DNS lalu diinkubasi
pada suhu 100°C selama 15 menit. Seluruh sampel diukur dengan spektrofotometer
pada panjang gelombang 540 nm. Konsentrasi substrat tiap Erlenmeyer adalah 1% (b/v)
kecuali avicel 2% (b/v). Suhu inkubasi
substrat-enzim serta pH larutan bufer disesuaikan dengan jenis isolat yang
digunakan.
2.5. Hasil dan Pembahasan
Jurnal
Setiap
bakteri selulolitik menghasilkan kompleks enzim selulase yang berbeda-beda,
tergantung dari gen yang dimiliki dan sumber karbon yang digunakan. Dalam penelitian
ini, semua isolat tumbuh pada media cair CMC yang mengandung CMC 1% (b/v)
sebagai komponen indusernya. Glukosa 0,1% (b/v) dan ekstrak khamir 0,2% (b/v)
juga ditambahkan pada media sebagai pemacu tumbuh sel di fase awal. Setelah
glukosa
pada medium tumbuhnya habis maka
bakteri akan memanfaatkan sumber karbon selulosa dengan mensintesis enzim
selulase.
Pada
Gambar 1, terlihat bahwa aktivitas enzim selulase meningkat seiring dengan
pertumbuhan selnya. Namun ketika sel mencapai fase stasioner, aktivitas enzim
selulase menurun. Pada fase stasioner kecepatan pembelahan sel sama dengan
kecepatan kematian sel dan lisis sel sehingga pada fase ini selain enzim selulase,
enzim protease juga dihasilkan. Hal ini menyebabkan turunnya aktivitas enzm
selulase.
BAB III
KESIMPULAN
3.1.
Kesimpulan
Berdasarkan uraian diatas tentang enzim selulase, maka dapat
disimpulkan :
1. Durian lahung (Durio dulcis)
adalah salah satu jenis durian endemik Kalimantan yang sulit untuk ditemukan, karena terjadinya perubahan alih fungsi hutan, dan dikarenakan buah lahung tidak seekonomis buah
durian lainnya. Penduduk Kalimantan banyak yang menebang
pohon ini untuk dibuat papan dan kayu olahan lainnya karena jenis kayu ini
cukup berkualitas. Jika durian lahung tidak
dibudidayakan, maka dalam waktu beberapa tahun durian ini dapat punah. Selain
itu Indonesia akan kehilangan plasma nutfah dan akan menganggu keseimbangan
ekosistem di alam.
2. Berdasarkan permasalahan yang
dialami, maka diperlukan cara untuk mengelola sumber daya genetik durian lahung diantaranya melalui pembibitan, okulasi, pencangkokan,
kultur jaringan, dan penyimpanan biji durian lahung dalam gen bank.
3. Selain pengelolaan sumber daya genetik, cara lain yang dapat dilakukan untuk menjaga kelestarian durian
lahung diantaranya penyuluhan kepada penduduk Kalimantan, terkhusus penduduk
pedalaman tentang pentingnya menjaga kelestarian durian lahung di alam.
Pemerintah harus campur tangan melestarikan durian lahung melalui peraturan
yang tegas, agar penduduk tidak menebang pohon di hutan secara sembarangan atau
alih fungsi hutan.
DAFTAR PUSTAKA
Balitbiogen.
2004. Katalog Data Paspor Plasma Nutfah Tanaman
Pangan. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumber
Daya Genetika. Bogor
BPP. 2000. Budidaya Durian. Menegristek Bidang
Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Jakarta
Priyanti.
2012. Keanekaragaman Tumbuhan durio
spp Menurut Perspektif Lokal
Masyarakat Dayak. Program
Studi FST UIN Syarif Hidayatullah. Jakarta
Purnomo,
S., Suharto, Sudjito, dan S. Hosni. 2002. Eksplorasi
dan konservasi sumber daya genetik. Buletin Plasma Nutfah 8(1):6-15.
Sastrapradja, S.D. dan M.A. Rifai. 1989. Mengenal sumber pangan nabati dan sumber plasma nutfahnya. Komisi Pelestarian
Plasma Nutfah Nasional dan Puslitbang Bioteknologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan
Indonesia. Bogor.
Sugiyarto, L. dan dan Kusnandi, P. 2012. Eksplorasi Metode Sterilisasi dan
Macam Media Untuk Perbanyakan Durian Secara In Vitro. FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta.
Yogyakarta
Uji, T.
2003. Keanekaragaman jenis, plasma
nutfah, dan potensi buah-buahan asli Kalimantan. BioSMART 6(2):117-125
Uji, T. 2005. Keanekaragaman Jenis dan
Sumber Plasma Nutfah Durio (Durio spp.) di Indonesia. Buletin Plasma Nutfah, vol. 11 No. 1
Wahdah, R., C. Nisa, dan B.F. Langai. 2003. Karakterisasi Sifat Fisik Buah dan Kandungan Gizi Buah-Buahan di Lahan
Kering Kalimantan Selatan. Laporan Pengkajian BPTP Kalimantan Selatan
Bekerja Sama dengan Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat
Banjarbaru.
Tidak nyambung antara judul dengan kesimpulan
BalasHapusTidak nyambung antara judul dengan kesimpulan
BalasHapus