BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan salah satu
negara dengan keragaman jenis primata yang cukup tinggi. Sekitar 195 jenis
primata ada di dunia, diantaranya 40
jenis primata hidup di Indonesia. Terdapat 24 jenis primata endemik yang hanya
hidup dan ditemukan di Indonesia. Primata ini tersebar di berbagai pulau,
seperti Sumatera dan pulau di sekitarnya, Kalimantan, Jawa, Sulawesi dan Nusa
Tenggara. Primata tersebut banyak yang dilindungi, salah
satu jenisnya adalah orangutan. Orangutan merupakan kera besar yang terdapat
dibenua Asia. Hal ini dapat dilihat dari bukti fosil pada masa Pleistosen,
orangutan masih banyak ditemukan didaerah Cina selatan, Vietnam utara, Laos,
Asia tenggara, dan Jawa (Wahyono, 2005).
Indonesia memiliki dua subspesies orangutan yaitu
orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus
pygmaeus)dan orangutan Sumatera (Pongo
pygmaeus abelii). Dewasa ini diperkirakan hanya sekitar 6.660 orangutan
Sumatera di alam liar, dibandingkan dengan 85.000 pada tahun 1900, suatu
pengurangan yang mencapai 92%. Orangutan Sumatera terdaftar sebagai spesies
terancam punah pada tahun 2010 dalam International Union for Conservation of
Nature (IUCN, 2010) dan masuk dalam daftar “25 Primata Utama Paling Terancam
Punah di Dunia 2008-2010”. Kecenderungan kehilangan hutan saat ini, orangutan
Sumatera mungkin menjadi kera besar pertama yang akan punah di alam liar (Wich,et
al, 2008).
Orangutan
sering dijadikan simbol dengan sebutan “umbrella species” yang memiliki makna
penyeimbang ekosistem. Kelestarian orangutan berpengaruh terhadap keseimbangan
ekosistem yang ada dihutan. Meskipun ada undang-undang dan lembaga yang bertanggung jawab untuk
melindungi keberadaan orangutan, tetapi terus terjadi penurunan populasi orangutan
akibat dari berbagai permasalahan yang terjadi seperti perburuan
liar,perdagangan orangutan secara illegal, penebangan pohon secara liar yang
menjadi habitat orangutan.
Habitat orangutan di Indonesia ada beberapa tempat,
yaitu Suaka Tanjung Puting yang terdapat didaerah Kalimantan Tengah,Taman
Nasional Gunung Leuser (TNGL), Batang toru Sumatra Utara. Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) terletak
di Provinsi Sumatera Utara, Indonesia. TNGL memiliki luas mencapai 2,6 juta
hektar dan dianggap sebagai rumah terakhir bagi orangutan Sumatera yang sangat
terancam punah. TNGL merupakan habitat kompleks dengan keanekaragaman hayati
yang tinggi, namun sekaligus rentan dengan kondisi disekitarnya. TNGLdiduga
memiliki jumlah populasi orangutan Sumatera yang terbesar. Salah satu lokasi
bagian dari TNGL adalah Besitang. Daerah ini merupakan tempat, yang dijadikan
translokasi orangutan Sumatera dari Bukit Lawang serta terdapat dua jenis hutan
yaitu hutan primer dan hutan sekunder yang dijadikan sebagai pusat restorasi.
Berbagai upaya telah dilakukan untuk menjaga kelestarian
orangutan. Salah satu caranya adalah mengembalikan habitat baru yang sesuai
untuk kebutuhan orangutan, habitat orangutan pada umumnya berada di pohon.
Pohon merupakan salah satu komponen terpenting bagi orangutan, pohon dapat
dijadikan tempat untuk membangun sarangnya dikanopi.
Mempertahankan keberadaan hutan memerlukan partisipasi banyak pihak,
bukan saja pemerintah, namun komponen masyarakat lainnya memiliki peran penting
dan tanggung Jawab dalam pengelolaan satwa dan hutan. Pengelolaan sumberdaya
hutan berkelanjutan selama ini berpijak pada peraturan pemerintah dan
implementasi program pemerintah.
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan Masalah dalam
paper ini adalah :
1.
Bagaimana habitat dan bio-ekologi Orangutan Sumatera (Pongo abelii)
2.
Bagaimana konservasi Orangutan Sumatera (Pongo abelii)
1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan paper
ini adalah:
1.
Mengetahui
habitat dan
bio-ekologi Orangutan
Sumatera (Pongo abelii)
2.
Mengetahui
konservasi Orangutan Sumatera (Pongo
abelii)
1.4 Manfaat Penulisan
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah:
1. Sebagai bahan informasi dan referensi
untuk para mahasiswa dan masyarakat
BAB II
HASIL DAN DISKUSI
2.1. Taman Nasional Gunung Leuser
Kawasan Konservasi Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL)
ditetapkan berdasarkan pengumuman Menteri pertanian No 811/kpts/UM/1980 tanggal
6 Maret 1980 seluas 792.675 ha. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan
No. 276/Kpts-VI/1997 tanggal 23 Mei 1997 tentang Penunjukan Taman Nasional
Gunung Leuser luas kawasan TNGL bertambah menjadi 1.094.692 Ha, yang terdiri
dari Suaka Margasatwa Gunung Leuser seluas 416.500 Ha, Suaka Margasatwa Kluet
seluas 20.000 Ha, Suaka Margasatwa Langkat Barat seluas 51.000 Ha, Suaka
Margasatwa Langkat Selatan seluas 82.985 Ha, Suaka Margasatwa Sekundur seluas
79.500 Ha, Suaka Margasatwa Kappi seluas 142.800 Ha, Taman Wisata Lawe Gurah
seluas 9.200 Ha, Hutan Lindung dan Hutan Produksi Terbatas seluas 292.707 Ha.
Kawasan TNGL Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah VI Besitang yang luasnya
± 126.000 ha berada di wilayah Kabupaten Langkat terletak di Kecamatan
Besitang, Sei Lepan, dan Batang Serangan dan sebagian di kabupaten Aceh Tamiang
(Wikipedia, 2012).
Besitang adalah pintu masuk kedalam kawasan TNGL setelah melewati daerah perkebunan.
Besitang memiliki hutan primer dan hutan
sekunder, sehingga daerah ini sangat tepat sebagai habitat orangutan Sumatera.
Populasi orangutan Sumatera lebih besar pada hutan sekunder, karena memiliki
beragam jenis pohon buah dengan musim yang berbeda. Besitang berbatasan dengan
Aceh tamiang, sehingga orangutan Sumatra yang berada di daerah Aceh tamiang
dapat dievakuasi ke Besitang, dengan tujuan untuk melindungi.
2.2.
Klasifikasi Orangutan
Klasifikasi makhluk hidup
adalah suatu cara mengelompokkan makhluk hidup menjadi golongan atau unit tertentu. Seluruh
makhluk hidup dapat diklasifikasikan tidak terkecuali pada orangutan Sumatera (Pongo abelii).
Menurut Groves (1972), klasifikasi orangutan sumatra (Pongo abelii) adalah :
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Subphylum : Vertebrata
Kelas : Mamalia
Ordo : Primata
Famili : Homonidae
Genus :
Pongo
Spesies :
Pongo abelii
2.3. Morfologi Orangutan
Gambar 2.1. a) Orangutan
betina Gambar 2.1. b)
Orangutan jantan
Orangutan merupakan satu-satunya kera besar yang hidup di pohon.
Orangutan dewasa mempunyai ciri-ciri sebagai berikut : Tubuh besar dengan
panjang tubuh sekitar 1,25 sampai 1,50 meter, tinggi duduk sekitar 0,70-0,90
meter, lengan, yang mencapai ke pergelangan kaki ketika orangutan tegak
memiliki tinggi sekitar 2,25 meter. Berat berkisar antara 50-90 kg untuk
orangutan jantan sedangkan berat orangutan betina antara 30-50 kg sehingga
ukuran tubuh yang jantan dua kali lebih besar dari pada yang betina, tubuh
ditutupi oleh rambut berwarna coklat pucat, tidak berekor, orangutan jantan
pada kedua pipinya terlihat ada tonjolan (Ronald, 1983).
2.4. Distribusi Orangutan Sumatera
Distribusi orangutan di pulau Sumatra terbatas di daerah
Utara khatulistiwa, atau di Utara Danau Toba, dan terutama terpusat di Suaka
Margasatwa Gunung Leuser. Pada tahun 1930-an populasi orangutan telah terpecah
menjadi empat subpopulasi utama: 1) Subpopulasi didekat Aceh, di sebelah barat
sungai Alas dan sungai Wampu, 2) Subpopulasi di hutan lindung Dolok Sembilan
dan Batu Ardan di Kabupaten Dairi dan kawasan hutan, yang bersambungan di
sebelah timursungai Alas, membentang di sepanjang kaki-kaki bukit pesisir barat
dan menurun sampai ke pantai Sibolga, 3) Subpopulasi Tapanuli bagian tenggara
di antara sungai Asahan dan sungai Baruman, dan 4) Subpopulasi di Anggolia,
Angkola, dan Pasaman, semuanya di sepanjang bagian barat kaki Bukit Barisan
dari hilir sungai Batang Toru membentang ke arah Selatan di antara Padang
Sidempuan dan daerah sekitar Pariaman di Provinsi Sumatera Barat, sekitar 50 km
di sebelah Utara Padang.
Orangutan Sumatera kadang ditemukan di lereng gunung
pada ketinggian lebih dari 1500 m, khusus jantan dewasa, dan populasi pada
ketinggian di atas 500 m ini semakin
jarang. Orangutan dalam memilih habitatnya berdasarkan keberadaan tipe makanan
yang disukai seperti Castanopsis sp,
Trigonobalanus spp. Di dataran rendah orangutan juga tidak tersebar merata,
orangutan lebih umum terdapat di dekat sungai-sungai kecil atau besar dan
didekat rawa-rawa, di lembah sungai, dan di hutan gambut.
Alasan utama orangutan menyukai lingkungan ini karena di
dekat sungai banyak pohon buah yang di sukai, tetapi mungkin juga karena sungai
besar dan kecil merupakan tanda geografis yang terbaik untuk mengetahui arah
keberadaannya. Orangutan jarang terdapat di dataran rendah yang luas dan
relatif seragam, yang tumbuh di atas tanah rata yang kering dan di jajaran
pegunungan di atas ketinggian tertentu (Rijksen dan Meijaard , 1999).
2.5. Perilaku Orangutan
Galdikas
(1978) menyebutkan bahwa pada umumnya aktivitas orangutan dibagi dalam 7
kategori yaitu :
Makan
meliputi semua waktu yang digunakan
orangutan untuk persiapan, pemetikan, penggapaian, pengambilan,
pengunyahan atau penelanan makanan, dan juga waktu bergerak didalam sumber
makanan, dan juga waktu untuk bergerak didalam sumber makanan (pohon, tanaman
menjalar atau pokok kayu yang mengandung rayap).
Beristirahat
meliputi semua aktivitas yang berlangsung pada waktu orangutan relative tidak
bergerak, yaitu duduk, berdiri, atau tiduran pada cabang, didalam sarang, atau
permukaan tanah. Saling merawat, merawat diri sendiri, bermain dengan benda
atau bahan, menggaruk-garuk badan, semuanya dimasukkan dalam kategori
beristirahat.
Bergerak
pindah meliputi semua waktu yang digunakan orangutan untuk bergerak pindah pada
dasar hutan atau dari satu pohon ke pohon lain. Orangutan bergerak pindah
secara lamban dan tidak teratur. Setiap saat tidak bergerak antara aktivitas
pergerakan yang lebih lama dari satu menit dihitung sebagai beristirahat.
Kopulasi dimulai
semenjak jantan menempatkan betina pada posisi yang memungkinkan intromisi dan
berakhir dengan ejakulasi atau perpisahan secara jelas antara pasangan yang
berkopulasi.
Mengeluarkan seruan panjang dihitung semenjak jantan
mengeluarkan geraman mula-mula sampai geraman yang terakhir. Pada umumnya,
seruan panjang yang kurang dari 30 detik tidak dimasukkan dalam aktivitas untuk
kategori seruan panjang
Agresi terutama menyangkut pameran kemarahan terhadap
pengamat, orangutan dan hewan lain, tetapi meliputi pula perkelahian,
pengejaran, pertempuran antara individu. Pameran kemarahan terdiri atas
pengeluaran suara, pematahan atau pelemparan cabang dan menjatuhkannya, serta
penumbangan pohon tua. Akan tetapi
bilamana suatu pohon tua ditumbangkan bersama-sama dengan dikeluarkannya
seruan panjang, tidak dimasukkan dalam kategori agresi melainkan kategori
seruan panjang.
Bersarang meliputi pematahan dan perlakuan cabang-cabang
atau tanaman untuk menyusun sarang untuk tidur, bangunan alas untuk tempat
makanan atau pelindung tubuh diatas kepala untuk menahan hujan.
2.6. Pola Makan Orangutan
Pola makan sangat mempengaruhi
kondisi biologis dan cara hidupnya. Oleh karena itu, distribusi jumlah dan
kualitas makannya menurut waktu dan tempat tertentu merupakan faktor penentu
utama perilaku pergerakan, kepadatan populasi yang akhirnya menentukan
organisasi sosialnya. Dari hasil berbagai penelitian tersebut, terlihat jelas
bahwa makanan pokok orangutan adalah buah. Di habitat yang berkualitas baik,
antara 57% (jantan) dan 80% (betina) waktu makannya dihabiskan untuk memakan
buah-buahan. Lama waktu mencari buah yang tercatat paling rendah, ketika
ketersediaan buah sangat rendah, masih 16% dari waktu total. Walaupun ada 200
jenis buah yang dimakan, beberapa jenis buah tertentu ternyata jauh lebih
tinggi dalam komposisi makanan kera ini. Buah-buahan ini berdaging lembek,
berbiji, termasuk buah berbiji tunggal dan buah beri. Orangutan juga menyukai
pohon-pohon yang berbuah lebat (Meijard et
al, 2001).
Proporsi
lamanya waktu makan buah, kulit, daun, bunga, dan insekta pada orangutan
berfluktuasi dari bulan ke bulan. Khusus untuk buah nilai tersebut memiliki
selang anatara 12.8%-89% dari aktifitas makan. Kulit dan daun menjadi makanan
utama pada saat buah langka dan biasanya diambil dari Shorea spp., Ficus spp., dan Unicaria spp. Dari hasil rataan selama
setahun didapatkan proporsi pakan orangutan adalah 53,8% buah; 29,0% daun;
14,2% kulit; 2,2% bunga dan 0,8% serangga ( Rodman dalam Zuraida, 2004)
2.7. Potensi Pohon Pakan Orangutan Sumatera
Pakan orangutan dapat berubah-ubah tergantung pada jenis pakan yang
sedang tersedia dalam ruang dan waktu. Orangutan pada dasarnya termasuk primata
frugivora. Pada umumnya primata adalah
satwa yang sangat selektif terhadap jenis pakan (selective feeders). Jenis pakan yang dipilih lebih berdasarkan pada
ada tidaknya zat yang bersifat toksik dibandingkan dengan ketersediaan jenis
pakan. Dengan kata lain walaupun jenis pakan berlimpah tetapi tidak aman bagi
mereka untuk mengkonsumsinya maka pakan tersebut tidak dikonsumsi. Jenis pakan
primata juga dipengaruhi Oleh komposisi fitokimia (protein, serat, karbohidrat
dan mineral) yang terkandung dalam pakan. Keterbatasan dalam diet termasuk
adanya kandungan zat tertentu atau adanya hambatan pencernaan yang disebabkan
oleh adanya senyawa kimia tertentu dari jenis tanaman sebagai sumber pakan
(Yeager dalam Zuaraida, 2004)
Orangutan juga merupakan pengumpul pakan yang oportunis, yaitu
memakan apa saja yang dapat diraihnya, termasuk madu pada sarang lebah.
Kegemarannya pada makanan yang tidak biasa ditemui dan tertebar acak di
habitatnya, menyebabkan orangutan selalu bergerak dalam rangka mencari makanan
kegemarannya. Saat bukan musim buah orangutan akan lebih aktif bergerak
dibandingkan pada saat musim buah. Orangutan memiliki kemampuan luar biasa
dalam menemukan sumber makanan yang kecil, jarang, dan tertebar acak.
Selain
sebagai sumber makanan jenis tersebut merupakan tempat orangutan untuk membuat
sarang terutama dari famili Dipterocarpaceae. Famili ini memiliki struktur
pohon yang kuat dan berumur panjang hal ini dinyatakan oleh (Ela et al dalam
Marliansyah) bahwa jenis dari famili Dipterocarpaceae merupakan jenis yang
paling disukai baik dalam hal mencari makan maupun dalam membuat sarang. Jenis
tanaman yang dimanfaatkan orangutan dari famili Dipterocarpaceae yaitu Shorea lepidota, S. materialis, S. gibbosa,
S. teysmanniana, S. platyclados (Marliansyah, 2010).
2.7. Ancaman Kehidupan Orangutan
Sumatera
Jumlah
populasi orangutan telah menurun secara terus menerus dalam beberapa dekade
terakhir akibat hilangnya hutan dataran rendah, namun beberapa tahun terakhir
kecepatan penurunan populasi orangutan terus meningkat. Penurunan populasi orangutan tersebut terjadi karena hutan yang menjadi
habitatnya telah rusak dan hilang oleh penebangan liar, konversi lahan dan
kebakaran. Hasil lokakarya Pengkajian Status Populasi dan Habitat (Population
and Habitat Viability Analysis/PHVA) yang dilaksanakan pada Januari 2004
memberikan gambaran terkini tentang sebaran dan status populasi orangutan di
Sumatera dan Kalimantan. Perkiraan populasi orangutan di Sumatera saat ini
berkisar 6.667 individu (Departemen Kehutanan, 2007).
Kondisi
orangutan pada saat ini sudah diambang kepunahan sehingga dibutuhkan perlindungan yang harus segera dilakukan.
Undang-undang yang sangat penting terhadap perlindungan orangutan adalah
Undang-undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan
Ekosistemnya, termasuk turunannya, yaitu Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999
tentang Pengawetan Tumbuhan dan Satwa Liar dan Peraturan Pemerintah No. 8 Tahun
1999 tentang Pemanfaatan Tumbuhan dan Satwa Liar yang menetapkan bahwa
orangutan adalah satwa yang dilindungi. Orangutan dilindungi oleh Undang -
Undang Nomor 5 Tahun 1990 mengenai Konservasi Keanekaragaman hayati dan
Ekosistemnya. Dengan demikian orangutan tidak boleh dipelihara, kecuali Lembaga
Konservasi yang ditunjuk oleh pemerintah. Pelanggarnya diancam dengan penjara 5
tahun atau denda 100.000.000 rupiah.
2.8. Upaya Konservasi
Berbagai usaha penegakan hukum perlindungan orangutan
telah dilakukan pemerintah untuk menyelamatkan keberadaan orangutan. Salah
satunya dengan jalan menangkap para pemburu, penyelundup dan pemelihara ilegal
orangutan, serta menyita orangutan yang mereka miliki. Para petani juga
menganggap bahwa orangutan adalah hama bagi tanaman yang ditanam mereka,
sehingga para petani membunuh dengan tragis binatang yang merupakan salah satu
jenis bintang dilindungi oleh pemerintah dan mengkonsumsi daging orangutan dan
petani yang membunuh orangutan juga diberi hukuman akibat melanggar
perlindungan terhadap orangutan. Usaha ini berharga bagi pemulihan kondisi
populasi orangutan, karena diharapkan mampu menciptakan efek jera bagi
pelanggar hukum tersebut. Selain itu orangutan sitaan tersebut memiliki potensi
untuk dilepas-liarkan kembali. Para penegak hukum sendiri masih begitu sulit
untuk melakukan perlindungan terhadap Orangutan sehingga kita sebagai manusia
yang harus menyadari bahwa pentingnya Orangutan untuk dilindungi. Kita tidak
boleh hanya mengandalkan pemerintah yang melindungi orangutan tapi kita juga
harus mengambil peran dalam melindungi bintang ini, cara-cara yang dapat kita
lakukan sebagai orang yang belum begitu mengenal orangutan (orang awam) untuk
melindungi orangutan adalah:
1.
Mendengarkan dan mencari informasi tentang orangutan baik melalui
berita yang ada ditelevisi,surat kabar,berita online,dll
2.
Menganggap mereka adalah bagian
dari hidup kita, dan menganggap bahwa mereka adalah saudara yang harus untuk
dilindungi karena secara genetik orangutan dengan manusia memiliki kemiripan
97,4%
3.
Mau belajar untuk mengenal
tentang perilaku dan kehidupan orangutan dihutan dan dikebun binatang. Jika
dikebun binatang kita dapat memberi makan seperti pisang kepada orangutan,
ketika kita memberi makan kepada orangutan dengan cara yang baik dan benar bukan
dilempar.
4.
Mau menjaga kehidupan dan
tempat tinggal orangutan baik yang dihutan maupun yang dikebun binatang
5.
Ketika mengetahui ada
penyiksaan ataupun tindakan yang melanggar tentang perlindungan orangutan harus
secara tegas memberitahukan kepada polisi maupun lembaga yang berwenang tentang
pelindungan orangutan seperti YOSCL-OIC.
6.
Membuat gerakan dimana dalam
satu tahun kita akan memperingati hari orangutan seluruh indonesia.
BAB III
KESIMPULAN
3.1.
Kesimpulan
Berdasarkan uraian diatas tentang konservasi orangutan Sumatera (Pongo abelii)maka dapat disimpulkan
bahwa:
1. Indonesia memiliki dua subspesies orangutan yaitu orangutan
Kalimantan (Pongo pygmaeus pygmaeus)dan
orangutan Sumatera (Pongo pygmaeus
abelii). Dewasa
ini diperkirakan hanya sekitar 6.660 orangutan Sumatera di alam liar,
dibandingkan dengan 85.000 pada tahun 1900, suatu pengurangan yang mencapai
92%.
2. Taman Nasional Gunung Leuser adalah salah satu habitat orangutan
sumatera, dimana TNGL memiliki luas mencapai 2,6 juta hektar dan dianggap
sebagai rumah terakhir bagi orangutan Sumatera yang sangat terancam punah.
3. Perlu dilakukan upaya konservasi untuk mencegah kepunahan Orangutan
Sumatera, karna Orangutan Sumatera adalah hewan endemic yang dimiliki oleh
Sumtera.
DAFTAR PUSTAKA
Dalimunthe, N., (2009), Estimasi Kepadatan Orangutan Sumatera (Pongo abelii) Berdasarkan Jumlah
Sarang di Bukit Lawang Taman Nasional Gunung Leuser Sumatera Utara, Skripsi
Jurusan Biologi, Universitas Sumatera Utara, Medan
Galdikas, (1978), Adaptasi
Orangutan di Suaka Tanjung Puting Kalimantan Tengah, Universitas Indonesia
Press, Jakarta.
Groves, C. D.,
(1972), Systematics and Phylogeni
of Gibbon, Kargul Basel.
Hutabarat, C. E. M., (2012), The Nesting Tree Characteristic Of Semi-Wild Sumatran Orangutan (Pongo
abelii LESSON,1827) In Bukit Lawang Ecotourism Gunung Leuser National Park,
Skripsi Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas
Negeri Medan, Medan.
IUCN, (2010), http://www.iucnredlist.org/details/39780.
(Diakses tanggal 14 November 2012)
Maple, T. L., (1980), Orangutan Behaviour, Van Nostrand. Reinhold Company, New York.
Muin, A., (2007), Analisis
Tipologi Pohon Tempat Bersarang dan Karakteristik Sarang Orangutan (Pongo
pygmaeus wurumbii Groves, 2001) Di Taman Nasional Tanjung Puting Kalimantan
Tengah, Tesis, Kehutanan, Institut Pertanian Bogor.
Pujiyani, H., (2009), Karakteristik Pohon Tempat Bersarang Orangutan Sumatra (Pongo abelii
Lesson,1827) Di Kawasan Hutan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Utara Sumatra
Utara, Skripsi, Kehutanan, Institut Pertanian Bogor
Rijksen, H.D., Meijaard, E., (1999),
Diambang Kepunahan,The Gibbon Foundation Indonesia, Jakarta
Ronal, N., (1983), Walker’s Mammals of the World, The Johns
Hopkins University Press, London
Siallagan, Z.L., (2012), Keanekaragaman Jenis Lichenes Pada Tegakan Pohon Pinus (Pinus merkusii)
di Hutan Aek Nauli Kabupaten Simalungun dan Tahura Tongkoh Bukit Barisan
Kabupaten Karo,Skripsi Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Medan, Medan.
Sugardjito, J., (1983), Selecting Nest-Site of Sumatran Orangutan (Pongo pygmaeus abeli) in the
Gunung Leuser National Park, Indonesia
Tjitrosoepomo, G., (2001), Morfologi Tumbuhan, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Van Schaik, C., (1994), Diantara Orangutan Kera Merah Dan Bangkitnya Kebudayaan Manusia,
Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo, Jakarta.
Van Steenis, C. G. J., (1978), Flora,
Penerbit Pradnya paramitha, Jakarta Pusat
Wahyono, E., (2005), Mengenal Beberapa Primata Di Aceh, Conservation Internasional Indonesia, Jakarta.
Wich S.P.,
Meijaard, E., Marshal A.J., Husson, S., Ancrenaz, M., Lacy R. C., Van Schaik,
C., Sugardjito, J., Simorangkir, T., Traylor, K., Doughty, M.,Supriatna, J.,
Dennis, R., Gumal, M., Kont C. D., Singleton, I.,
(2008), Geographic variation in
behavioural ecology and conservation, New York.
Wikipedia, (2012),http://www.wikipedia.co.id/ Taman
Nasional Gunung Leuser, (Diakses tanggal 14 November 2012)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar