Minggu, 15 Februari 2015

biokonservasi orangutan sumatera



BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Indonesia merupakan salah satu negara dengan keragaman jenis primata yang cukup tinggi. Sekitar 195 jenis primata ada di dunia, diantaranya  40 jenis primata hidup di Indonesia. Terdapat 24 jenis primata endemik yang hanya hidup dan ditemukan di Indonesia. Primata ini tersebar di berbagai pulau, seperti Sumatera dan pulau di sekitarnya, Kalimantan, Jawa, Sulawesi dan Nusa Tenggara. Primata tersebut banyak yang dilindungi, salah satu jenisnya adalah orangutan. Orangutan merupakan kera besar yang terdapat dibenua Asia. Hal ini dapat dilihat dari bukti fosil pada masa Pleistosen, orangutan masih banyak ditemukan didaerah Cina selatan, Vietnam utara, Laos, Asia tenggara, dan Jawa (Wahyono, 2005).
Indonesia memiliki dua subspesies orangutan yaitu orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus pygmaeus)dan orangutan Sumatera (Pongo pygmaeus abelii). Dewasa ini diperkirakan hanya sekitar 6.660 orangutan Sumatera di alam liar, dibandingkan dengan 85.000 pada tahun 1900, suatu pengurangan yang mencapai 92%. Orangutan Sumatera terdaftar sebagai spesies terancam punah pada tahun 2010 dalam International Union for Conservation of Nature (IUCN, 2010) dan masuk dalam daftar “25 Primata Utama Paling Terancam Punah di Dunia 2008-2010”. Kecenderungan kehilangan hutan saat ini, orangutan Sumatera mungkin menjadi kera besar pertama yang akan punah di alam liar (Wich,et al, 2008).
Orangutan sering dijadikan simbol dengan sebutan “umbrella species” yang memiliki makna penyeimbang ekosistem. Kelestarian orangutan berpengaruh terhadap keseimbangan ekosistem yang ada dihutan. Meskipun ada undang-undang  dan lembaga yang bertanggung jawab untuk melindungi keberadaan orangutan, tetapi terus terjadi penurunan populasi orangutan akibat dari berbagai permasalahan yang terjadi seperti perburuan liar,perdagangan orangutan secara illegal, penebangan pohon secara liar yang menjadi habitat orangutan.
Habitat orangutan di Indonesia ada beberapa tempat, yaitu Suaka Tanjung Puting yang terdapat didaerah Kalimantan Tengah,Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), Batang toru Sumatra Utara.  Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) terletak di Provinsi Sumatera Utara, Indonesia. TNGL memiliki luas mencapai 2,6 juta hektar dan dianggap sebagai rumah terakhir bagi orangutan Sumatera yang sangat terancam punah. TNGL merupakan habitat kompleks dengan keanekaragaman hayati yang tinggi, namun sekaligus rentan dengan kondisi disekitarnya. TNGLdiduga memiliki jumlah populasi orangutan Sumatera yang terbesar. Salah satu lokasi bagian dari TNGL adalah Besitang. Daerah ini merupakan tempat, yang dijadikan translokasi orangutan Sumatera dari Bukit Lawang serta terdapat dua jenis hutan yaitu hutan primer dan hutan sekunder yang dijadikan sebagai pusat restorasi.
Berbagai upaya telah dilakukan untuk menjaga kelestarian orangutan. Salah satu caranya adalah mengembalikan habitat baru yang sesuai untuk kebutuhan orangutan, habitat orangutan pada umumnya berada di pohon. Pohon merupakan salah satu komponen terpenting bagi orangutan, pohon dapat dijadikan tempat untuk membangun sarangnya dikanopi.
Mempertahankan keberadaan hutan memerlukan partisipasi banyak pihak, bukan saja pemerintah, namun komponen masyarakat lainnya memiliki peran penting dan tanggung Jawab dalam pengelolaan satwa dan hutan. Pengelolaan sumberdaya hutan berkelanjutan selama ini berpijak pada peraturan pemerintah dan implementasi program pemerintah.

1.2  Rumusan Masalah
Rumusan Masalah dalam paper ini adalah :
1.    Bagaimana habitat dan bio-ekologi Orangutan Sumatera (Pongo abelii)
2.    Bagaimana konservasi Orangutan Sumatera (Pongo abelii)




1.3  Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan paper ini adalah:
1.      Mengetahui habitat dan bio-ekologi Orangutan Sumatera (Pongo abelii)
2.      Mengetahui konservasi Orangutan Sumatera (Pongo abelii)

1.4  Manfaat Penulisan
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah:
1.      Sebagai bahan informasi dan referensi untuk para mahasiswa dan masyarakat
































BAB II
HASIL DAN DISKUSI
2.1. Taman Nasional Gunung Leuser
Kawasan Konservasi Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) ditetapkan berdasarkan pengumuman Menteri pertanian No 811/kpts/UM/1980 tanggal 6 Maret 1980 seluas 792.675 ha. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 276/Kpts-VI/1997 tanggal 23 Mei 1997 tentang Penunjukan Taman Nasional Gunung Leuser luas kawasan TNGL bertambah menjadi 1.094.692 Ha, yang terdiri dari Suaka Margasatwa Gunung Leuser seluas 416.500 Ha, Suaka Margasatwa Kluet seluas 20.000 Ha, Suaka Margasatwa Langkat Barat seluas 51.000 Ha, Suaka Margasatwa Langkat Selatan seluas 82.985 Ha, Suaka Margasatwa Sekundur seluas 79.500 Ha, Suaka Margasatwa Kappi seluas 142.800 Ha, Taman Wisata Lawe Gurah seluas 9.200 Ha, Hutan Lindung dan Hutan Produksi Terbatas seluas 292.707 Ha. Kawasan TNGL Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah VI Besitang yang luasnya ± 126.000 ha berada di wilayah Kabupaten Langkat terletak di Kecamatan Besitang, Sei Lepan, dan Batang Serangan dan sebagian di kabupaten Aceh Tamiang (Wikipedia, 2012).
Besitang adalah pintu masuk kedalam kawasan TNGL setelah melewati daerah perkebunan. Besitang memiliki hutan primer dan  hutan sekunder, sehingga daerah ini sangat tepat sebagai habitat orangutan Sumatera. Populasi orangutan Sumatera lebih besar pada hutan sekunder, karena memiliki beragam jenis pohon buah dengan musim yang berbeda. Besitang berbatasan dengan Aceh tamiang, sehingga orangutan Sumatra yang berada di daerah Aceh tamiang dapat dievakuasi ke Besitang, dengan tujuan untuk melindungi.

2.2.  Klasifikasi Orangutan
            Klasifikasi makhluk hidup adalah suatu cara mengelompokkan makhluk hidup menjadi golongan atau unit tertentu. Seluruh makhluk hidup dapat diklasifikasikan tidak terkecuali pada orangutan Sumatera (Pongo abelii).


Menurut Groves (1972), klasifikasi orangutan sumatra (Pongo abelii) adalah :
            Kingdom                     : Animalia
            Phylum                        : Chordata
            Subphylum                  : Vertebrata
            Kelas                           : Mamalia
            Ordo                            : Primata
            Famili                          : Homonidae
Genus                          : Pongo
Spesies                        : Pongo abelii
2.3. Morfologi Orangutan
        

Gambar 2.1. a) Orangutan  betina             Gambar 2.1. b) Orangutan  jantan


     Orangutan merupakan satu-satunya kera besar yang hidup di pohon. Orangutan dewasa mempunyai ciri-ciri sebagai berikut : Tubuh besar dengan panjang tubuh sekitar 1,25 sampai 1,50 meter, tinggi duduk sekitar 0,70-0,90 meter, lengan, yang mencapai ke pergelangan kaki ketika orangutan tegak memiliki tinggi sekitar 2,25 meter. Berat berkisar antara 50-90 kg untuk orangutan jantan sedangkan berat orangutan betina antara 30-50 kg sehingga ukuran tubuh yang jantan dua kali lebih besar dari pada yang betina, tubuh ditutupi oleh rambut berwarna coklat pucat, tidak berekor, orangutan jantan pada kedua pipinya terlihat ada tonjolan (Ronald, 1983).


2.4. Distribusi Orangutan Sumatera
Distribusi orangutan di pulau Sumatra terbatas di daerah Utara khatulistiwa, atau di Utara Danau Toba, dan terutama terpusat di Suaka Margasatwa Gunung Leuser. Pada tahun 1930-an populasi orangutan telah terpecah menjadi empat subpopulasi utama: 1) Subpopulasi didekat Aceh, di sebelah barat sungai Alas dan sungai Wampu, 2) Subpopulasi di hutan lindung Dolok Sembilan dan Batu Ardan di Kabupaten Dairi dan kawasan hutan, yang bersambungan di sebelah timursungai Alas, membentang di sepanjang kaki-kaki bukit pesisir barat dan menurun sampai ke pantai Sibolga, 3) Subpopulasi Tapanuli bagian tenggara di antara sungai Asahan dan sungai Baruman, dan 4) Subpopulasi di Anggolia, Angkola, dan Pasaman, semuanya di sepanjang bagian barat kaki Bukit Barisan dari hilir sungai Batang Toru membentang ke arah Selatan di antara Padang Sidempuan dan daerah sekitar Pariaman di Provinsi Sumatera Barat, sekitar 50 km di sebelah Utara Padang.
Orangutan Sumatera kadang ditemukan di lereng gunung pada ketinggian lebih dari 1500 m, khusus jantan dewasa, dan populasi pada ketinggian di atas 500 m  ini semakin jarang. Orangutan dalam memilih habitatnya berdasarkan keberadaan tipe makanan yang disukai seperti Castanopsis sp, Trigonobalanus spp. Di dataran rendah orangutan juga tidak tersebar merata, orangutan lebih umum terdapat di dekat sungai-sungai kecil atau besar dan didekat rawa-rawa, di lembah sungai, dan di hutan gambut.
Alasan utama orangutan menyukai lingkungan ini karena di dekat sungai banyak pohon buah yang di sukai, tetapi mungkin juga karena sungai besar dan kecil merupakan tanda geografis yang terbaik untuk mengetahui arah keberadaannya. Orangutan jarang terdapat di dataran rendah yang luas dan relatif seragam, yang tumbuh di atas tanah rata yang kering dan di jajaran pegunungan di atas ketinggian tertentu (Rijksen dan Meijaard , 1999).





2.5. Perilaku Orangutan
Galdikas (1978) menyebutkan bahwa pada umumnya aktivitas orangutan dibagi dalam 7 kategori yaitu :
Makan meliputi semua waktu yang digunakan  orangutan untuk persiapan, pemetikan, penggapaian, pengambilan, pengunyahan atau penelanan makanan, dan juga waktu bergerak didalam sumber makanan, dan juga waktu untuk bergerak didalam sumber makanan (pohon, tanaman menjalar atau pokok kayu yang mengandung rayap).
Beristirahat meliputi semua aktivitas yang berlangsung pada waktu orangutan relative tidak bergerak, yaitu duduk, berdiri, atau tiduran pada cabang, didalam sarang, atau permukaan tanah. Saling merawat, merawat diri sendiri, bermain dengan benda atau bahan, menggaruk-garuk badan, semuanya dimasukkan dalam kategori beristirahat.
Bergerak pindah meliputi semua waktu yang digunakan orangutan untuk bergerak pindah pada dasar hutan atau dari satu pohon ke pohon lain. Orangutan bergerak pindah secara lamban dan tidak teratur. Setiap saat tidak bergerak antara aktivitas pergerakan yang lebih lama dari satu menit dihitung sebagai beristirahat.
Kopulasi  dimulai semenjak jantan menempatkan betina pada posisi yang memungkinkan intromisi dan berakhir dengan ejakulasi atau perpisahan secara jelas antara pasangan yang berkopulasi.
Mengeluarkan seruan panjang dihitung semenjak jantan mengeluarkan geraman mula-mula sampai geraman yang terakhir. Pada umumnya, seruan panjang yang kurang dari 30 detik tidak dimasukkan dalam aktivitas untuk kategori seruan panjang
Agresi terutama menyangkut pameran kemarahan terhadap pengamat, orangutan dan hewan lain, tetapi meliputi pula perkelahian, pengejaran, pertempuran antara individu. Pameran kemarahan terdiri atas pengeluaran suara, pematahan atau pelemparan cabang dan menjatuhkannya, serta penumbangan pohon tua. Akan tetapi  bilamana suatu pohon tua ditumbangkan bersama-sama dengan dikeluarkannya seruan panjang, tidak dimasukkan dalam kategori agresi melainkan kategori seruan panjang.
Bersarang meliputi pematahan dan perlakuan cabang-cabang atau tanaman untuk menyusun sarang untuk tidur, bangunan alas untuk tempat makanan atau pelindung tubuh diatas kepala untuk menahan hujan.
2.6. Pola Makan Orangutan
Pola makan sangat mempengaruhi kondisi biologis dan cara hidupnya. Oleh karena itu, distribusi jumlah dan kualitas makannya menurut waktu dan tempat tertentu merupakan faktor penentu utama perilaku pergerakan, kepadatan populasi yang akhirnya menentukan organisasi sosialnya. Dari hasil berbagai penelitian tersebut, terlihat jelas bahwa makanan pokok orangutan adalah buah. Di habitat yang berkualitas baik, antara 57% (jantan) dan 80% (betina) waktu makannya dihabiskan untuk memakan buah-buahan. Lama waktu mencari buah yang tercatat paling rendah, ketika ketersediaan buah sangat rendah, masih 16% dari waktu total. Walaupun ada 200 jenis buah yang dimakan, beberapa jenis buah tertentu ternyata jauh lebih tinggi dalam komposisi makanan kera ini. Buah-buahan ini berdaging lembek, berbiji, termasuk buah berbiji tunggal dan buah beri. Orangutan juga menyukai pohon-pohon yang berbuah lebat (Meijard et al, 2001).
            Proporsi lamanya waktu makan buah, kulit, daun, bunga, dan insekta pada orangutan berfluktuasi dari bulan ke bulan. Khusus untuk buah nilai tersebut memiliki selang anatara 12.8%-89% dari aktifitas makan. Kulit dan daun menjadi makanan utama pada saat buah langka dan biasanya diambil dari Shorea spp., Ficus spp., dan Unicaria spp. Dari hasil rataan selama setahun didapatkan proporsi pakan orangutan adalah 53,8% buah; 29,0% daun; 14,2% kulit; 2,2% bunga dan 0,8% serangga ( Rodman dalam Zuraida, 2004)

2.7. Potensi Pohon Pakan Orangutan Sumatera
Pakan orangutan dapat berubah-ubah tergantung pada jenis pakan yang sedang tersedia dalam ruang dan waktu. Orangutan pada dasarnya termasuk primata frugivora. Pada umumnya primata adalah satwa yang sangat selektif terhadap jenis pakan (selective feeders). Jenis pakan yang dipilih lebih berdasarkan pada ada tidaknya zat yang bersifat toksik dibandingkan dengan ketersediaan jenis pakan. Dengan kata lain walaupun jenis pakan berlimpah tetapi tidak aman bagi mereka untuk mengkonsumsinya maka pakan tersebut tidak dikonsumsi. Jenis pakan primata juga dipengaruhi Oleh komposisi fitokimia (protein, serat, karbohidrat dan mineral) yang terkandung dalam pakan. Keterbatasan dalam diet termasuk adanya kandungan zat tertentu atau adanya hambatan pencernaan yang disebabkan oleh adanya senyawa kimia tertentu dari jenis tanaman sebagai sumber pakan (Yeager dalam Zuaraida, 2004)
Orangutan juga merupakan pengumpul pakan yang oportunis, yaitu memakan apa saja yang dapat diraihnya, termasuk madu pada sarang lebah. Kegemarannya pada makanan yang tidak biasa ditemui dan tertebar acak di habitatnya, menyebabkan orangutan selalu bergerak dalam rangka mencari makanan kegemarannya. Saat bukan musim buah orangutan akan lebih aktif bergerak dibandingkan pada saat musim buah. Orangutan memiliki kemampuan luar biasa dalam menemukan sumber makanan yang kecil, jarang, dan tertebar acak.
Selain sebagai sumber makanan jenis tersebut merupakan tempat orangutan untuk membuat sarang terutama dari famili Dipterocarpaceae. Famili ini memiliki struktur pohon yang kuat dan berumur panjang hal ini dinyatakan oleh (Ela et al dalam Marliansyah) bahwa jenis dari famili Dipterocarpaceae merupakan jenis yang paling disukai baik dalam hal mencari makan maupun dalam membuat sarang. Jenis tanaman yang dimanfaatkan orangutan dari famili Dipterocarpaceae yaitu Shorea lepidota, S. materialis, S. gibbosa, S. teysmanniana, S. platyclados (Marliansyah, 2010).

2.7. Ancaman Kehidupan Orangutan Sumatera
Jumlah populasi orangutan telah menurun secara terus menerus dalam beberapa dekade terakhir akibat hilangnya hutan dataran rendah, namun beberapa tahun terakhir kecepatan penurunan populasi orangutan terus meningkat. Penurunan populasi orangutan tersebut terjadi karena hutan yang menjadi habitatnya telah rusak dan hilang oleh penebangan liar, konversi lahan dan kebakaran. Hasil lokakarya Pengkajian Status Populasi dan Habitat (Population and Habitat Viability Analysis/PHVA) yang dilaksanakan pada Januari 2004 memberikan gambaran terkini tentang sebaran dan status populasi orangutan di Sumatera dan Kalimantan. Perkiraan populasi orangutan di Sumatera saat ini berkisar 6.667 individu (Departemen Kehutanan, 2007).
Kondisi orangutan pada saat ini sudah diambang kepunahan sehingga dibutuhkan  perlindungan yang harus segera dilakukan. Undang-undang yang sangat penting terhadap perlindungan orangutan adalah Undang-undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya, termasuk turunannya, yaitu Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Tumbuhan dan Satwa Liar dan Peraturan Pemerintah No. 8 Tahun 1999 tentang Pemanfaatan Tumbuhan dan Satwa Liar yang menetapkan bahwa orangutan adalah satwa yang dilindungi. Orangutan dilindungi oleh Undang - Undang Nomor 5 Tahun 1990 mengenai Konservasi Keanekaragaman hayati dan Ekosistemnya. Dengan demikian orangutan tidak boleh dipelihara, kecuali Lembaga Konservasi yang ditunjuk oleh pemerintah. Pelanggarnya diancam dengan penjara 5 tahun atau denda 100.000.000 rupiah.

2.8. Upaya Konservasi
Berbagai usaha penegakan hukum perlindungan orangutan telah dilakukan pemerintah untuk menyelamatkan keberadaan orangutan. Salah satunya dengan jalan menangkap para pemburu, penyelundup dan pemelihara ilegal orangutan, serta menyita orangutan yang mereka miliki. Para petani juga menganggap bahwa orangutan adalah hama bagi tanaman yang ditanam mereka, sehingga para petani membunuh dengan tragis binatang yang merupakan salah satu jenis bintang dilindungi oleh pemerintah dan mengkonsumsi daging orangutan dan petani yang membunuh orangutan juga diberi hukuman akibat melanggar perlindungan terhadap orangutan. Usaha ini berharga bagi pemulihan kondisi populasi orangutan, karena diharapkan mampu menciptakan efek jera bagi pelanggar hukum tersebut. Selain itu orangutan sitaan tersebut memiliki potensi untuk dilepas-liarkan kembali. Para penegak hukum sendiri masih begitu sulit untuk melakukan perlindungan terhadap Orangutan sehingga kita sebagai manusia yang harus menyadari bahwa pentingnya Orangutan untuk dilindungi. Kita tidak boleh hanya mengandalkan pemerintah yang melindungi orangutan tapi kita juga harus mengambil peran dalam melindungi bintang ini, cara-cara yang dapat kita lakukan sebagai orang yang belum begitu mengenal orangutan (orang awam) untuk melindungi orangutan adalah:
1.      Mendengarkan dan mencari  informasi tentang orangutan baik melalui berita yang ada ditelevisi,surat kabar,berita online,dll
2.      Menganggap mereka adalah bagian dari hidup kita, dan menganggap bahwa mereka adalah saudara yang harus untuk dilindungi karena secara genetik orangutan dengan manusia memiliki kemiripan 97,4%
3.      Mau belajar untuk mengenal tentang perilaku dan kehidupan orangutan dihutan dan dikebun binatang. Jika dikebun binatang kita dapat memberi makan seperti pisang kepada orangutan, ketika kita memberi makan kepada orangutan dengan cara yang baik dan benar bukan dilempar.
4.      Mau menjaga kehidupan dan tempat tinggal orangutan baik yang dihutan maupun yang dikebun binatang
5.      Ketika mengetahui ada penyiksaan ataupun tindakan yang melanggar tentang perlindungan orangutan harus secara tegas memberitahukan kepada polisi maupun lembaga yang berwenang tentang pelindungan orangutan seperti YOSCL-OIC.
6.      Membuat gerakan dimana dalam satu tahun kita akan memperingati hari orangutan seluruh indonesia.






















BAB III
KESIMPULAN

3.1. Kesimpulan
            Berdasarkan uraian diatas tentang  konservasi orangutan Sumatera (Pongo abelii)maka dapat disimpulkan bahwa:
1.      Indonesia memiliki dua subspesies orangutan yaitu orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus pygmaeus)dan orangutan Sumatera (Pongo pygmaeus abelii). Dewasa ini diperkirakan hanya sekitar 6.660 orangutan Sumatera di alam liar, dibandingkan dengan 85.000 pada tahun 1900, suatu pengurangan yang mencapai 92%.
2.      Taman Nasional Gunung Leuser adalah salah satu habitat orangutan sumatera, dimana TNGL memiliki luas mencapai 2,6 juta hektar dan dianggap sebagai rumah terakhir bagi orangutan Sumatera yang sangat terancam punah.
3.      Perlu dilakukan upaya konservasi untuk mencegah kepunahan Orangutan Sumatera, karna Orangutan Sumatera adalah hewan endemic yang dimiliki oleh Sumtera.














DAFTAR PUSTAKA


Dalimunthe, N., (2009), Estimasi Kepadatan Orangutan Sumatera (Pongo abelii) Berdasarkan Jumlah Sarang di Bukit Lawang Taman Nasional Gunung Leuser Sumatera Utara, Skripsi Jurusan Biologi, Universitas Sumatera Utara, Medan


Galdikas, (1978), Adaptasi Orangutan di Suaka Tanjung Puting Kalimantan Tengah, Universitas Indonesia Press, Jakarta.

Groves, C. D.,  (1972), Systematics and Phylogeni of Gibbon, Kargul Basel.

Hutabarat, C. E. M., (2012), The Nesting Tree Characteristic Of Semi-Wild Sumatran Orangutan (Pongo abelii LESSON,1827) In Bukit Lawang Ecotourism Gunung Leuser National Park, Skripsi Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Medan, Medan.

IUCN, (2010), http://www.iucnredlist.org/details/39780. (Diakses tanggal 14 November 2012)

Maple, T. L., (1980), Orangutan Behaviour, Van Nostrand. Reinhold Company, New York.

Muin, A., (2007), Analisis Tipologi Pohon Tempat Bersarang dan Karakteristik Sarang Orangutan (Pongo pygmaeus wurumbii Groves, 2001) Di Taman Nasional Tanjung Puting Kalimantan Tengah, Tesis, Kehutanan, Institut Pertanian Bogor.

Pujiyani, H., (2009), Karakteristik Pohon Tempat Bersarang Orangutan Sumatra (Pongo abelii Lesson,1827) Di Kawasan Hutan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Utara Sumatra Utara, Skripsi, Kehutanan, Institut Pertanian Bogor

Rijksen, H.D., Meijaard, E., (1999), Diambang Kepunahan,The   Gibbon Foundation Indonesia, Jakarta

Ronal, N., (1983), Walker’s Mammals of the World, The Johns Hopkins University Press, London

Siallagan, Z.L., (2012), Keanekaragaman Jenis Lichenes Pada Tegakan Pohon Pinus (Pinus merkusii) di Hutan Aek Nauli Kabupaten Simalungun dan Tahura Tongkoh Bukit Barisan Kabupaten Karo,Skripsi Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Medan, Medan.

Sugardjito, J., (1983), Selecting Nest-Site of Sumatran Orangutan (Pongo pygmaeus abeli) in the Gunung Leuser National Park, Indonesia

Tjitrosoepomo, G., (2001), Morfologi Tumbuhan, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Van Schaik, C., (1994), Diantara Orangutan Kera Merah Dan Bangkitnya Kebudayaan Manusia, Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo, Jakarta.

Van Steenis, C. G. J., (1978),  Flora, Penerbit Pradnya paramitha, Jakarta Pusat

Wahyono, E., (2005), Mengenal Beberapa Primata Di Aceh, Conservation  Internasional Indonesia, Jakarta.

Wich S.P., Meijaard, E., Marshal A.J., Husson, S., Ancrenaz, M., Lacy R. C., Van Schaik, C., Sugardjito, J., Simorangkir, T., Traylor, K., Doughty, M.,Supriatna, J., Dennis, R., Gumal, M., Kont C. D., Singleton, I., (2008), Geographic variation in behavioural ecology and conservation, New York.

Wikipedia, (2012),http://www.wikipedia.co.id/ Taman Nasional Gunung Leuser, (Diakses tanggal 14 November 2012)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar