Minggu, 15 Februari 2015

DURIAN LAHUNG



Paper Pengelolahan Sumber Daya Genetik

DURIAN LAHUNG (Durio dulcis Becc) SEBAGAI TUMBUHAN BUAH
ENDEMIK KALIMANTAN


          NAMA                                      : HERNA FEBRIANTY S
                       NIM                                           : 137030010
  PROGRAM STUDI               : BIOLOGI


 
PROGRAM PASCASARJANA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2014











KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkat dan rahmat-Nya yang memberikan kesehatan, hikmat, dan kekuatan kepada penulis sehingga paper ini dapat diselesaikan dengan baik. Adapun judul paper ini adalah “Durian Lahung (Durio dulcis Becc) Sebagai Tumbuhan Buah Endemik Kalimantan’’.
Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada ibu Dr.Nursahara Pasaribu M.Sc. sebagai pihak yang telah membantu mengarahkan penulis dalam menyelesaikan paper ini.  Penulis menyadari bahwa paper ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu dengan rendah hati penulis menerima segala kritik dan saran yang diberikan dengan tujuan memberi perbaikan  untuk masa yang akan datang. Semoga paper ini bermanfaat bagi para pembaca, terima kasih.




                                                                                    Medan,     Oktober 2014



                                                                                                Herna Febrianty S
                                                                                                NIM. 137030010










DAFTAR ISI

                                                                                                               Halaman
Kata Pengantar                                                                                               i
Daftar Isi                                                                                                         ii

BAB I. PENDAHULUAN                                                                            1
1.1.Latar Belakang Masalah                                                                           1
1.2.Rumusan Masalah                                                                                     2
1.3.Tujuan Penulisan                                                                                       2
1.4.Manfaat Penulisan                                                                                                2

BAB II. HASIL DAN DISKUSI                                                                  3
2.1.  Durian Lahung (Durio dulcis)                                                                 3
2.2.  Pengelolahan Sumber Daya Genetik Durian Lahung (Durio dulcis)      5
2.2.1.  Pembibitan                                                                                    5
2.2.2.  Okulasi                                                                                          6
2.2.3.  Pencangkokan                                                                               6
2.2.4. Teknik Kultur Jaringan Sebagai Pengelolahan Durian Secara       7
      In-Vitro
2.2.5. Penyimpanan Biji Durian Dalam Bank Gen                                  8

BAB III. KESIMPULAN                                                                              9
3.1. Kesimpulan                                                                                              9

DAFTAR PUSTAKA                                                                                                10








BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Indonesia merupakan salah satu dari delapan pusat keanekaragaman genetika tanaman di dunia khususnya untuk buah-buahan tropis seperti durian. Berdasarkan data bahwa dari sekitar 27 jenis Durio di seluruh dunia, 18 jenis di antaranya tumbuh di Kalimantan, 11 jenis di Malaya, dan 7 jenis di Sumatera. Tingginya jumlah jenis Durio yang tumbuh di Kalimantan memberikan gambaran bahwa kawasan ini merupakan pusat persebaran terpenting untuk kerabat durian (Sastrapradja dan Rifai, 1989). Besarnya keanekaragaman jenis dan sumber plasma nutfah Durio spp. di Indonesia merupakan modal dasar yang sangat penting untuk pemuliaan. Dari hasil pemuliaan tanaman, diharapkan akan diperoleh bibit unggul baik dalam kualitas maupun produksi buahnya.
Salah satu jenis durian endemik Kalimantan adalah durian lahung (Durio dulcis). Lahung adalah nama khas yang diberikan penduduk Kalimantan. Saat ini lahung sulit untuk ditemukan, akibat terjadinya perubahan alih fungsi hutan, dan juga  dikarenakan buah lahung tidak seekonomis buah durian lainnya, sehingga lahung kurang laku di pasaran meskipun rasanya relatif enak tetapi isi buah sedikit sekali, lebih banyak kulit buah daripada isi buah sehingga kurang diminati. Akibat kurang ekonomis, maka penduduk Kalimantan kurang ingin membudidayakan durian jenis ini (Uji, 2003).
Pohon buah ini biasanya lebih besar dan tinggi dibandingkan dengan pohon durian kebanyakan, dan diameter 1-2 m. Akibat diameter yang besar maka banyak yang memanfaatkan pohon ini bukan untuk mengambil buahnya tetapi menebang untuk mengambil kayunya. Saat ini kayu hutan mulai susah dicari, sehingga banyak penduduk Kalimantan yang menebang pohon ini untuk dibuat papan dan kayu olahan lainnya karena jenis kayu ini cukup berkualitas.


Kenyataan ini tentu memerlukan perhatian dari semua pihak dalam rangka pelestarian plasma nutfah, khususnya lahung sebagai durian endemik Kalimantan. Penanaman buah tersebut dalam suatu kebun koleksi dan perbanyakan vegetatif untuk mempercepat umur berbuah merupakan salah satu cara yang dapat diupayakan untuk mencegah kepunahan durian lahung (Uji, 2005).

1.2  Rumusan Masalah
Rumusan Masalah dalam paper ini adalah :
1.    Bagaimana cara pengelolahan sumber daya genetik durian lahung (Durio
  dulcis) ?

1.3  Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan paper ini adalah:
1.      Mengetahui cara pengelolahan sumber daya genetik durian lahung (Durio dulcis)

1.4  Manfaat Penulisan
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah:
1.      Sebagai bahan informasi dan referensi untuk para mahasiswa dan masyarakat
 




BAB II
HASIL DAN DISKUSI
2.1. Durian Lahung (Durio dulcis)
Masyarakat Dayak memberikan nama lahung atau lajung, pesasang (Dayak Tidung) dan durian bala (Dayak Kenyah). Lahung terdapat di seluruh Kalimantan, terutama di kawasan hutan pedalaman yaitu hutan campuran meranti, dengan tipe tanah yaitu tanah liat berpasir. Kondisi tempat yang baik untuk durian tumbuh adalah iklim daerah tropika basah, curah hujan ideal adalah lebih dari 2000 mm pertahun dan tersebar merata sepanjang tahun. Ketinggian tempat yang lebih ideal adalah 20 – 800 m dari permukaan air laut.  Bila ditanam pada tempat yang lebih tinggi akan terjadi penurunan kualitas, berada pada tanah dengan pH netral dengan drainase baik (Priyanti, 2012).
 

Ciri-ciri durian lahung adalah pohonnya besar, tinggi, berbanir dan daunnya sama dengan durian biasa. Bunga muncul pada dahan yang tua. Kelopak bunga berwarna merah jambu. Buah bulat, berukuran sedang dan berduri panjang serta kulit tebal. Durian ini susah dibuka, sehingga harus dipotong melintang menggunakan parang. Daging buah tebal, kuning, sangat lembek, halus dan berlemak. Teksturnya hampir sama dengan durian biasa tapi sedikit berair. Rasanya enak, manis seperti karamel dan aroma kuat/tajam. Bijinya berwarna coklat hitam, mengkilap dan terdapat satu atau dua biji per ruang. Pohon durian jenis ini jarang ditanam karena tidak begitu disukai orang.
Lahung memiliki warna kulit buahnya yang merah menyala dan durinya yang panjang. Jika dikawin silangkan dengan jenis-jenis durian lainnya, tidak menutup kemungkinan akan menghasilkan jenis kultivar unggul yang memiliki penampilan yang menarik,ukuran yang besar, bau yang enak namun tidak menyengat, serta daging buah yang tebal dan rasanya enak sekali. Pohon lahung ini merupakan tumbuhan dataran rendah endemik yang hanya ada di pulau Kalimantan saja, dan tidak ada di tempat-tempat lain di Indonesia (Purnomo, dkk, 2002)
Berikut kandungan durian tiap 100 gram daging buah : Air 64,99 g, Energi 147  kcal, Protein 1,47 g, Lipid 5,33g, Karbohidrat 27,09 g, Serat 3,8 g, Ca 6 mg, Fe 0,43 mg, Mg 30 mg, P 39 mg, K 436 mg, Na 2 mg, Zn 0,28 mg, Cu 0,207 mg, Mn 0,325 mg, Vitamin C 19,7 mg, Thiamin 0,379 mg, Riboflavin 0,200 mg, Niacin 1,074 mg, Asam  Pantotenat 0,23 mg, Vitamin B-6 0,316 mg, Vitamin B-12 0,00 mg, Folat 217 mcg,  Kolesterol 0 mg, bkaroten 138 mcg, akaroten 36 mcg (Wahdah, dkk, 2003).
 

 
Gambar : Durian Lahung (Durio dulcis)
  


2.2. Pengelolahan Sumber Daya Genetik Durian Lahung (Durio dulcis)

2.2.1. Pembibitan

Biji untuk bibit durian dipilih dari biji yang memenuhi persyaratan: asli dari induknya, segar dan sudah tua, tidak kisut, tidak terserang hama dan penyakit. Cara kerja memulai pembibitan adalah memilih biji-biji yang tulen/murni dilakukan dengan mencuci biji-biji dahulu agar daging buah yang menempel terlepas. Biji yang dipilih dikeringkan pada tempat terbuka, tidak terkena sinar matahari langsung. Penyimpanan diusahakan agar tidak berkecambah/rusak dan merosot daya tumbuhnya. Proses pemasakan biji dilakukan dengan baik (dengan cara diistirahatkan beberapa saat), dalam kurun waktu 2-3 minggu sesudah diambil dari buahnya. Setelah itu biji durian lahung ditanam.

2.2.2.  Okulasi
            Teknik melakukan okulasi pada durian lahung setelah berumur 8-10 bulan adalah : Kulit batang bawah disayat, dipilih mata tunas yang berjarak 20 cm dari permukaan tanah, sayatan dibuat melintang, kulit dikupas ke bawah sepanjang 2-3 cm sehingga mirip lidah, kulit yang mirip lidah dipotong menjadi 2/3, sisipan mata yang diambil dari pohon induk untuk batang atas (disayat dibentuk perisai) diantara kulit. Setelah selesai dilakukan okulasi, 2 minggu kemudian di periksa apakah perisai mata tunas berwarna hijau atau tidak. Bila berwarna hijau, berarti okulasi berhasil, jika coklat, berarti okulasi gagal.

2.2.3. Pencangkokan
Syarat untuk melakukan pencangkokan pada durian adalah : Batang durian yang dicangkok harus dipilih dari cabang tanaman yang  sehat, subur, cukup usia, pernah berbuah, memiliki susunan percabangan yang rimbun, besar cabang tidak lebih besar daripada ibu jari (diameter 2–2,5 cm), kulit masih hijau kecoklatan. Waktu mencangkok adalah awal musim hujan sehingga terhindar dari kekeringan, atau pada musim kering, tetapi harus disiram secara rutin (2 kali sehari), pagi dan sore hari. Adapun tata cara mencangkok adalah sebagai berikut: pilih cabang durian sebesar ibu jari dan yang warna kulitnya masih hijau kecoklatan, sayat kulit cabang tersebut mengelilingi cabang sehingga kulitnya terlepas, bersihkan lendir dengan cara dikerok kemudian biarkan kering angin sampai dua hari, bagian bekas sayatan dibungkus dengan media cangkok (tanah, serabut gambut, mos). Jika menggunakan tanah tambahkan pupuk kandang/kompos perbandingan 1:1. Media cangkok dibungkus dengan plastik/sabut kelapa/bahan lain, kedua ujungnya diikat agar media tidak jatuh. Sekitar 2-5 bulan, akar cangkokan akan keluar menembus pembungkus cangkokan. Jika akar sudah cukup banyak, cangkokan bisa dipotong dan ditanam di keranjang persemaian berisi media tanah yang subur (BPP, 2000).


2.2.4. Teknik Kultur Jaringan Sebagai Pengelolahan Durian Secara In-Vitro
Teknik kultur jaringan merupakan salah satu teknik  yang dapat digunakan dalam perbanyakan  tanaman durian. Kelebihan kultur jaringan  antara lain siklus perbanyakan tanaman  menjadi lebih cepat, memungkinkan  perbanyakan vegetatif bagi tanaman yang  sulit atau tidak mungkin diperbanyak secara  vegetatif, dan bibit yang dihasilkan termasuk  bibit yang sehat  Kultur jaringan  durian masih jarang dilakukan. Dari  beberapa publikasi, hanya sedikit yang  melakukan mikropropagasi menggunakan  bagian vegetatif seperti tunas untuk  perbanyakan durian dengan kultur jaringan. Hal tersebut disebabkan oleh sulitnya  melakukan miropropagasi tanaman berkayu.
 
Berdasarkan penelitian Sugiyarto dan kusnandi (2012) Penelitian yang dilakukan Perkecambahan biji dilakukan di kebun percobaan dengan menanam biji di polibag berisi media tanah dan kompos. Untuk perkecambahan biji diperlukan polibag ukuran sedang, media tanam (kompos dan tanah) serta peralatan bercocok tanam. Setelah tunas mulai muncul, nodia dan daun dipindah ke media MS yang mengandung sitokinin BAP. Hasilnya menunjukkan bahwa BAP  dengan konsentrasi 2 dan 4 ppm pada media  MS mampu menginduksi tunas dari nodia durian secara in vitro. Konsentrasi 4 ppm juga menginduksi kalus selain tunas. Penambahan auksin 2,4-D mampu menginduksi kalus pada eksplan daun durian yang berasal dari bibit umur 1 bulan, pada konsentrasi 1 dan 1,5 ppm. Konsentrasi 0,4 ppm 2,4-D menyebabkan eksplan daun menggulung tapi tidak terbentuk kalus. Perlu dilakukan eksplorasi dengan konsentrasi zat pengatur tumbuh yang lebih bervariasi dan dengan kombinasi tertentu (misalnya auksin dan sitokinin dalam satu media).

2.2.5. Penyimpanan Biji Durian Dalam Bank Gen
Penyimpanan Biji Durian di Indonesia, dapat disimpan pada Program Bank Gen Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian (BB-Biogen), Bogor.
Beberapa fasilitas yang dimiliki Bank Gen BB-Biogen, Bogor untuk konservasi plasma nutfah tanaman meliputi:
1.Laboratorium Bank Gen dan Genetika Tanaman, memiliki 6 buah deep freezer (temperatur -18°C), 3 buah chiller (temperatur 0-5°C), dan ruangan penyimpanan benih (temperatur 15-20°C dan kelembaban 50%) untuk penyimpanan biji.
2. Laboratorium Kultur In Vitro yang dilengkapi perangkat penunjang untuk konservasi plasma nutfah tanaman pangan secara in vitro dan kriopreservasi.
3. Ruang komputer, untuk kegiatan pengembangan pangkalan data (database) plasma nutfah tanaman (Balitbiogen, 2004).



DAFTAR PUSTAKA

Balitbiogen. 2004. Katalog Data Paspor Plasma Nutfah Tanaman Pangan. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumber Daya Genetika. Bogor

BPP. 2000. Budidaya Durian. Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Jakarta


Priyanti. 2012. Keanekaragaman Tumbuhan durio spp Menurut Perspektif Lokal Masyarakat Dayak. Program Studi FST UIN Syarif Hidayatullah. Jakarta

Purnomo, S., Suharto, Sudjito, dan S. Hosni. 2002. Eksplorasi dan konservasi sumber daya genetik. Buletin Plasma Nutfah 8(1):6-15.

Sastrapradja, S.D. dan M.A. Rifai. 1989. Mengenal sumber pangan nabati dan sumber  plasma nutfahnya. Komisi Pelestarian Plasma Nutfah Nasional dan Puslitbang Bioteknologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Bogor.

Sugiyarto, L. dan  dan Kusnandi, P. 2012.  Eksplorasi Metode Sterilisasi dan Macam Media Untuk Perbanyakan Durian Secara In Vitro. FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta. Yogyakarta

Uji, T. 2003. Keanekaragaman jenis, plasma nutfah, dan potensi buah-buahan asli Kalimantan. BioSMART 6(2):117-125

Uji, T. 2005. Keanekaragaman Jenis dan Sumber Plasma Nutfah Durio (Durio spp.) di  Indonesia. Buletin Plasma Nutfah, vol. 11 No. 1

 Wahdah, R., C. Nisa, dan B.F. Langai. 2003. Karakterisasi Sifat Fisik Buah dan Kandungan Gizi Buah-Buahan di Lahan Kering Kalimantan Selatan. Laporan Pengkajian BPTP Kalimantan Selatan Bekerja Sama dengan Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar