Paper Pengelolahan Sumber Daya Genetik
ENDEMIK
KALIMANTAN
NAMA : HERNA FEBRIANTY S
NIM : 137030010
PROGRAM STUDI : BIOLOGI
PROGRAM
PASCASARJANA
FAKULTAS
MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS
SUMATERA UTARA
2014
KATA PENGANTAR
Puji dan
syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkat dan
rahmat-Nya yang memberikan kesehatan, hikmat, dan kekuatan kepada penulis
sehingga paper ini dapat diselesaikan dengan baik. Adapun judul paper ini
adalah “Durian Lahung (Durio dulcis Becc)
Sebagai Tumbuhan Buah Endemik Kalimantan’’.
Dalam
kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada ibu Dr.Nursahara
Pasaribu M.Sc. sebagai pihak yang telah membantu mengarahkan penulis dalam
menyelesaikan paper ini. Penulis
menyadari bahwa paper ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu dengan rendah
hati penulis menerima segala kritik dan saran yang diberikan dengan tujuan
memberi perbaikan untuk masa yang akan
datang. Semoga paper ini bermanfaat bagi para pembaca, terima kasih.
Medan, Oktober 2014
Herna Febrianty S
NIM.
137030010
DAFTAR ISI
Halaman
Kata Pengantar i
Daftar Isi ii
BAB I. PENDAHULUAN 1
1.1.Latar Belakang Masalah 1
1.2.Rumusan Masalah 2
1.3.Tujuan Penulisan 2
1.4.Manfaat Penulisan 2
BAB II. HASIL DAN
DISKUSI 3
2.1. Durian Lahung (Durio dulcis) 3
2.2. Pengelolahan Sumber Daya Genetik Durian
Lahung (Durio dulcis) 5
2.2.1.
Pembibitan 5
2.2.2. Okulasi 6
2.2.3.
Pencangkokan 6
2.2.4. Teknik Kultur Jaringan Sebagai Pengelolahan Durian
Secara 7
In-Vitro
2.2.5. Penyimpanan Biji Durian Dalam Bank Gen 8
BAB III. KESIMPULAN 9
3.1. Kesimpulan 9
DAFTAR PUSTAKA 10
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia
merupakan salah satu dari delapan pusat keanekaragaman genetika tanaman di
dunia khususnya untuk buah-buahan tropis seperti durian. Berdasarkan data bahwa
dari sekitar 27 jenis Durio di seluruh dunia, 18 jenis di antaranya
tumbuh di Kalimantan, 11 jenis di Malaya, dan 7 jenis di Sumatera. Tingginya
jumlah jenis Durio yang tumbuh di Kalimantan memberikan gambaran bahwa kawasan
ini merupakan pusat persebaran terpenting untuk kerabat durian (Sastrapradja
dan Rifai, 1989). Besarnya keanekaragaman jenis dan sumber plasma nutfah Durio
spp. di Indonesia merupakan modal dasar yang sangat penting untuk pemuliaan.
Dari hasil pemuliaan tanaman, diharapkan akan diperoleh bibit unggul baik dalam
kualitas maupun produksi buahnya.
Salah
satu jenis durian endemik Kalimantan adalah durian lahung (Durio dulcis). Lahung adalah nama khas yang diberikan penduduk
Kalimantan. Saat ini lahung sulit untuk ditemukan, akibat terjadinya perubahan alih fungsi hutan,
dan juga dikarenakan buah lahung tidak seekonomis buah durian lainnya, sehingga lahung kurang laku di pasaran meskipun rasanya relatif enak tetapi isi buah
sedikit sekali, lebih banyak kulit buah daripada isi buah sehingga kurang
diminati. Akibat kurang ekonomis, maka penduduk Kalimantan kurang ingin
membudidayakan durian jenis ini (Uji, 2003).
Pohon buah ini biasanya lebih besar dan tinggi
dibandingkan dengan pohon durian kebanyakan, dan diameter 1-2 m. Akibat
diameter yang besar maka banyak yang memanfaatkan pohon ini bukan untuk
mengambil buahnya tetapi menebang untuk mengambil kayunya. Saat ini kayu hutan
mulai susah dicari, sehingga banyak penduduk Kalimantan yang menebang pohon ini
untuk dibuat papan dan kayu olahan lainnya karena jenis kayu ini cukup berkualitas.
Kenyataan
ini tentu memerlukan perhatian dari semua pihak dalam rangka pelestarian plasma nutfah,
khususnya lahung sebagai durian endemik Kalimantan. Penanaman buah
tersebut dalam suatu kebun koleksi dan perbanyakan vegetatif untuk mempercepat
umur berbuah merupakan salah satu cara yang dapat diupayakan untuk mencegah
kepunahan durian lahung (Uji, 2005).
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan Masalah dalam
paper ini adalah :
1.
Bagaimana cara pengelolahan
sumber daya genetik durian lahung (Durio
dulcis) ?
1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan paper
ini adalah:
1. Mengetahui cara
pengelolahan sumber daya genetik durian lahung (Durio dulcis)
1.4 Manfaat Penulisan
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah:
1. Sebagai bahan informasi dan referensi
untuk para mahasiswa dan masyarakat
BAB II
HASIL DAN DISKUSI
2.1. Durian Lahung (Durio dulcis)
Masyarakat Dayak memberikan nama lahung atau lajung,
pesasang (Dayak Tidung) dan durian bala (Dayak Kenyah). Lahung terdapat di
seluruh Kalimantan, terutama di kawasan hutan pedalaman yaitu hutan campuran meranti, dengan tipe tanah yaitu tanah
liat berpasir. Kondisi tempat yang
baik untuk durian tumbuh adalah iklim daerah tropika
basah, curah
hujan ideal adalah lebih dari 2000 mm pertahun dan tersebar merata sepanjang tahun. Ketinggian
tempat yang lebih ideal adalah 20 – 800 m dari permukaan air laut. Bila ditanam
pada tempat yang lebih tinggi akan terjadi penurunan kualitas, berada pada tanah dengan
pH netral dengan drainase baik (Priyanti, 2012).
Ciri-ciri durian lahung adalah pohonnya besar,
tinggi, berbanir dan daunnya sama dengan durian biasa. Bunga muncul pada dahan
yang tua. Kelopak bunga berwarna merah jambu. Buah bulat, berukuran sedang dan
berduri panjang serta kulit tebal. Durian ini susah dibuka, sehingga harus dipotong
melintang menggunakan parang. Daging buah tebal, kuning, sangat lembek, halus
dan berlemak. Teksturnya hampir sama dengan durian biasa tapi sedikit berair. Rasanya
enak, manis seperti karamel dan aroma kuat/tajam. Bijinya berwarna coklat
hitam, mengkilap dan terdapat satu atau dua biji per ruang. Pohon durian jenis
ini jarang ditanam karena tidak begitu disukai orang.
Lahung
memiliki warna kulit buahnya yang merah menyala dan durinya yang panjang. Jika
dikawin silangkan dengan jenis-jenis durian lainnya, tidak menutup kemungkinan
akan menghasilkan jenis kultivar unggul yang memiliki penampilan yang
menarik,ukuran yang besar, bau yang enak namun tidak menyengat, serta daging
buah yang tebal dan rasanya enak sekali. Pohon lahung ini merupakan tumbuhan
dataran rendah endemik yang hanya ada di pulau Kalimantan saja, dan tidak ada
di tempat-tempat lain di Indonesia (Purnomo, dkk, 2002)
Berikut
kandungan durian tiap 100 gram daging buah : Air 64,99 g, Energi 147 kcal, Protein 1,47 g, Lipid 5,33g, Karbohidrat 27,09 g, Serat 3,8 g,
Ca 6 mg, Fe 0,43 mg, Mg 30 mg, P 39 mg, K 436 mg, Na 2 mg, Zn 0,28 mg, Cu 0,207
mg, Mn 0,325 mg, Vitamin C 19,7 mg, Thiamin 0,379 mg, Riboflavin 0,200 mg,
Niacin 1,074 mg, Asam Pantotenat 0,23 mg,
Vitamin B-6 0,316 mg, Vitamin B-12 0,00 mg, Folat 217 mcg, Kolesterol 0 mg, bkaroten
138 mcg, akaroten 36 mcg (Wahdah, dkk, 2003).
Gambar :
Durian Lahung (Durio dulcis)
2.2.
Pengelolahan Sumber Daya Genetik Durian Lahung (Durio dulcis)
2.2.1. Pembibitan
Biji untuk bibit durian dipilih dari biji yang memenuhi persyaratan: asli dari induknya, segar dan sudah tua, tidak kisut, tidak terserang hama dan
penyakit. Cara kerja memulai
pembibitan adalah memilih biji-biji yang tulen/murni
dilakukan dengan mencuci biji-biji dahulu agar daging buah yang menempel
terlepas. Biji yang dipilih dikeringkan pada tempat terbuka, tidak terkena
sinar matahari langsung. Penyimpanan diusahakan agar tidak berkecambah/rusak
dan merosot daya tumbuhnya. Proses pemasakan biji dilakukan dengan baik
(dengan cara diistirahatkan beberapa saat), dalam kurun waktu 2-3 minggu sesudah
diambil dari buahnya. Setelah itu biji durian lahung ditanam.
2.2.2. Okulasi
Teknik
melakukan okulasi pada durian lahung setelah berumur 8-10 bulan adalah : Kulit batang bawah disayat, dipilih mata tunas yang berjarak 20 cm
dari permukaan tanah, sayatan dibuat melintang, kulit dikupas ke bawah sepanjang 2-3 cm sehingga mirip
lidah, kulit
yang mirip lidah dipotong menjadi 2/3, sisipan mata yang diambil dari pohon
induk untuk batang atas (disayat dibentuk perisai) diantara kulit. Setelah selesai
dilakukan okulasi, 2 minggu kemudian di periksa apakah perisai mata tunas
berwarna hijau atau tidak. Bila berwarna hijau, berarti okulasi berhasil,
jika coklat, berarti okulasi gagal.
2.2.3. Pencangkokan
Syarat untuk melakukan pencangkokan
pada durian adalah : Batang durian yang dicangkok harus
dipilih dari cabang tanaman yang sehat, subur, cukup
usia, pernah berbuah, memiliki susunan percabangan yang rimbun, besar cabang
tidak lebih besar daripada ibu jari (diameter 2–2,5 cm), kulit masih
hijau kecoklatan. Waktu mencangkok adalah awal musim hujan sehingga
terhindar dari kekeringan, atau pada musim kering, tetapi harus disiram secara
rutin (2 kali sehari), pagi dan sore hari. Adapun tata cara mencangkok
adalah sebagai berikut: pilih cabang durian sebesar ibu jari dan yang warna kulitnya masih
hijau kecoklatan, sayat kulit cabang tersebut mengelilingi cabang sehingga kulitnya terlepas, bersihkan lendir dengan
cara dikerok kemudian biarkan kering angin sampai dua hari, bagian bekas sayatan
dibungkus dengan media cangkok (tanah, serabut gambut, mos). Jika
menggunakan tanah tambahkan pupuk kandang/kompos perbandingan 1:1. Media
cangkok dibungkus dengan plastik/sabut kelapa/bahan lain, kedua ujungnya diikat agar
media tidak jatuh. Sekitar 2-5 bulan, akar cangkokan akan keluar menembus
pembungkus cangkokan. Jika akar sudah cukup banyak, cangkokan bisa dipotong dan ditanam di
keranjang persemaian berisi media tanah yang subur (BPP, 2000).
2.2.4. Teknik Kultur Jaringan Sebagai Pengelolahan
Durian Secara In-Vitro
Teknik kultur jaringan merupakan salah satu teknik yang dapat digunakan dalam perbanyakan tanaman durian. Kelebihan kultur jaringan antara lain siklus perbanyakan tanaman menjadi lebih cepat, memungkinkan perbanyakan vegetatif bagi tanaman yang sulit atau tidak mungkin diperbanyak secara vegetatif, dan bibit yang dihasilkan termasuk bibit yang sehat Kultur jaringan durian masih
jarang dilakukan. Dari beberapa publikasi, hanya sedikit
yang melakukan
mikropropagasi menggunakan bagian
vegetatif seperti tunas untuk perbanyakan
durian dengan kultur jaringan. Hal tersebut disebabkan oleh sulitnya melakukan miropropagasi tanaman berkayu.
Berdasarkan penelitian Sugiyarto dan kusnandi (2012)
Penelitian yang dilakukan Perkecambahan biji dilakukan
di kebun percobaan dengan menanam biji di polibag berisi media tanah dan
kompos. Untuk perkecambahan biji diperlukan polibag ukuran sedang, media tanam
(kompos dan tanah) serta peralatan bercocok tanam. Setelah tunas mulai muncul,
nodia dan daun dipindah ke media MS yang mengandung sitokinin BAP. Hasilnya menunjukkan bahwa BAP dengan
konsentrasi 2 dan 4 ppm pada media MS mampu
menginduksi tunas dari nodia durian secara in vitro. Konsentrasi 4 ppm juga
menginduksi kalus selain tunas. Penambahan auksin 2,4-D mampu menginduksi kalus
pada eksplan daun durian yang berasal dari bibit umur 1 bulan, pada konsentrasi
1 dan 1,5 ppm. Konsentrasi 0,4 ppm 2,4-D menyebabkan eksplan daun menggulung
tapi tidak terbentuk kalus. Perlu dilakukan eksplorasi dengan konsentrasi zat
pengatur tumbuh yang lebih bervariasi dan dengan kombinasi tertentu (misalnya
auksin dan sitokinin dalam satu media).
2.2.5. Penyimpanan Biji Durian Dalam Bank Gen
Penyimpanan Biji Durian di Indonesia,
dapat disimpan pada Program Bank Gen Balai Besar
Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian
(BB-Biogen), Bogor.
Beberapa fasilitas yang dimiliki Bank Gen BB-Biogen, Bogor
untuk konservasi plasma nutfah tanaman meliputi:
1.Laboratorium Bank Gen
dan Genetika Tanaman, memiliki 6 buah deep freezer (temperatur -18°C), 3 buah
chiller (temperatur 0-5°C), dan ruangan penyimpanan benih (temperatur 15-20°C
dan kelembaban 50%) untuk penyimpanan biji.
2. Laboratorium Kultur In Vitro yang dilengkapi perangkat
penunjang untuk konservasi plasma nutfah tanaman pangan secara in vitro dan
kriopreservasi.
3. Ruang komputer, untuk kegiatan pengembangan pangkalan data
(database) plasma nutfah tanaman (Balitbiogen, 2004).
DAFTAR PUSTAKA
Balitbiogen.
2004. Katalog Data Paspor Plasma Nutfah
Tanaman Pangan. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan
Sumber Daya Genetika. Bogor
BPP. 2000. Budidaya Durian. Menegristek Bidang
Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Jakarta
Priyanti.
2012. Keanekaragaman Tumbuhan durio
spp Menurut Perspektif Lokal
Masyarakat Dayak. Program
Studi FST UIN Syarif Hidayatullah. Jakarta
Purnomo,
S., Suharto, Sudjito, dan S. Hosni. 2002. Eksplorasi
dan konservasi sumber daya genetik. Buletin Plasma Nutfah 8(1):6-15.
Sastrapradja, S.D. dan M.A. Rifai. 1989. Mengenal sumber pangan nabati dan sumber plasma nutfahnya. Komisi Pelestarian
Plasma Nutfah Nasional dan Puslitbang Bioteknologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan
Indonesia. Bogor.
Sugiyarto, L. dan dan Kusnandi, P. 2012. Eksplorasi Metode Sterilisasi dan
Macam Media Untuk Perbanyakan Durian Secara In Vitro. FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta.
Yogyakarta
Uji, T.
2003. Keanekaragaman jenis, plasma
nutfah, dan potensi buah-buahan asli Kalimantan. BioSMART 6(2):117-125
Uji, T. 2005. Keanekaragaman Jenis dan
Sumber Plasma Nutfah Durio (Durio spp.) di Indonesia. Buletin Plasma Nutfah, vol. 11 No. 1
Wahdah, R., C. Nisa, dan B.F. Langai. 2003. Karakterisasi Sifat Fisik Buah dan Kandungan Gizi Buah-Buahan di Lahan
Kering Kalimantan Selatan. Laporan Pengkajian BPTP Kalimantan Selatan
Bekerja Sama dengan Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat
Banjarbaru.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar