BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar
Belakang
Kelly (1996) mengatakan enzim protease dari tanaman yang mempunyai nilai komersil adalah papain dari papaya (Carica papaya), Ficin dari tumbuhan Ficus spp bromelain dari buah nenas ( Ananas comosus). Penjualan pertahun dari enzim protease adalah 3 milyar dolar US yaitu 60 % dari seluruh enzim komersial di dunia
Bagi masyarakat Indonesia Nenas (Ananas comosus (L) Merr) merupakan salah satu jenis buah yang umum dikenal dan dikonsumsi sebagai buah segar, Nenas juga dimanfaatkan dalam industry makanan : untuk pembuatan sari buah, jem /selai, jelly serta proses lainnya (sebayang. 2006) juga digunakan untuk pelunakan daging, penjernihan beer, food supplement dan mencegah browning pada jus apel ( Tochi et all., 2008) dalam (Muntari Bala 2012). Bromelain juga digunakan di industri kosmetik sebagai peeling / pengelupasan kulit yang lembut (Aehle 2007) , pada industry kulit dalam proses tanning, pelunakan dan bathing , dan pada industry tekstil (walsh , 2002 ).bromelain digunakan untuk memperbaiki sifat pencelupan serat protein , sebagian pelarut serat protein dari sutra dan wol ( Koh et al . , 2006) Enzim Bromelain juga telah berhasil digunakan sebagai enzim pencernaan dalam banyak gangguan usus , enzim ini berfungsi sebagai pengganti yang memadai dalam kasus kekurangan pepsin dan tripsin. Hal ini juga menyembuhkan ulkus lambung pada hewan percobaan ( Orsini , 2006) Dalam dunia medis bromelain terlibat dalam penghambatan agregasi platelet , sinusitis , bronkitis , angina pectoris , tromboflebitis , trauma bedah , pielonefritis dan meningkatkan penyerapan obat terutama antibiotik ( Maurer , 2001) .
Pada
proses pengolahan , buah nenas selalu meninggalkan
limbah yang cukup banyak. Umumnya limbah nenas berupa batang, daun, kulit,
bonggol belum dimanfaatkan secara optimal, bahkan hanya digunakan sebagai pakan
ternak. Dengan mengisolasi enzim bromelain dari bonggol nenas, merupakan salah
satu alternatif dalam rangka pemanfaatan limbah nenas sehingga dapat memberikan
nilai tambah bagi buah nenas di samping mengurangi masalah pencemaran limbah
terhadap lingkungan.
Mengingat
aplikasi pemakaian enzim bromelain yang begitu beragam dan nilai ekonominya
yang tinggi maka perlu adanya penelitian lebih lanjut tentang enzim bromelain
dari nenas yang merupakan buah yang selalu ada sepanjang tahun di Negara kita.
1.2.Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka
dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana
langkah-langkah mengisolasi
atau mengekstraksi enzim bromelain dari nenas.
2. Apakah
manfaat enzim bromelain bagi kehidupan.
1.3.Tujuan
Penulisan
Berdasarkan latar belakang dan rumusan
masalah di atas, maka yang menjadi tujuan penulisan makalah ini adalah :
1. Untuk
mengetahui bagaimana langkah-langkah mengisolasi enzim buah nenas terutama bonggolnya atau juga batangnya
2. Untuk
menambah pengetahuan tentang enzim bromelain dari tanaman Ananas
comosus
.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Karakterisasi Enzim
Perubahan suhu dan pH berpengaruh besar terhadap kerja
enzim. Aktivitas enzim juga dipengaruhi oleh konsentrasi enzim dan konsentrasi
substrat. Pengaruh aktivator, inhibitor dan kofaktor dalam beberapa keadaan
juga merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas enzim (Indah, 2004).
1.
Efek
suhu terhadap aktivitas enzim
Aktivitas enzim akan bertambah dengan naiknya suhu sampai
tercapainya aktivitas optimum. Kenaikan suhu lebih lanjut akan mengakibatkan
menurunnya aktivitas enzim dan pada akhirnya merusak enzim (Pelczar, 1986).
2.
Efek pH
terhadap aktivitas enzim
Perubahan pH akan mempengaruhi kecepatan reaksi enzim,
karena berubahnya derajat ionisasi gugus asam dan basa dari enzim. Untuk
kebanyakan enzim, terdapat rentang pH optimum dimana aktivitas enzim berlangsung
secara optimum dan mempunyai stabilitas yang tinggi. Sebagian besar enzim
mempunyai pH optimum yang mendekati netral, sebagian kecil lainnya mempunyai pH
optimum yang sangat rendah (sekitar 2,0) atau sangat tinggi (sekitar 9,0) (Yulinah dkk, 1990).
3.
Efek
konsentrasi enzim terhadap aktivitas enzim
Pada enzim-enzim dengan derajat kemurniannya tinggi,
terdapat suatu hubungan linear antara jumlah enzim dan taraf aktivitas pada
batas-batas tertentu. Konsentrasi enzim pada umumnya sangat kecil, bila dibandingkan
dengan konsentrasi substrat. Saat konsentrasi enzim meningkat, maka aktivitas
enzim juga bertambah (Pelczar, 1986).
4.
Efek
konsentrasi substrat terhadap aktivitas enzim
Kecepatan reaksi yang
dikatalisis oleh enzim sangat dipengaruhi oleh konsentrasi substrat. Pada
konsentrasi substrat yang sangat rendah, kecepatan reaksi yang dikatalisis
enzim juga sangat rendah. Sebaliknya, kecepatan reaksi akan meningkat dengan
meningkatnya konsentrasi substrat sampai tercapai titik tertentu, yaitu titik
batas kecepatan reaksi maksimum. Setelah titik batas, enzim menjadi jenuh oleh
substratnya, sehingga tidak dapat berfungsi lebih cepat. Pembatas kecepatan
enzimatis ini adalah kecepatan penguraian kompleks enzim-substrat menjadi
produk dan enzim bebas (Lehningher, 1995)
5.
Efek
aktivator, inhibitor dan kofaktor terhadap aktivitas enzim
Aktifitas katalitik enzim
dapat dipengaruhi oleh aktivator (bahan-bahan yang meningkatkan aktivitas
enzim) dan inhibitor (bahan-bahan yang menurunkan aktivitas enzim). Berdasarkan
kinetikanya, inhibitor dapat dibedakan menjadi inhibitor ireversibel dan
reversibel (Palmer, 1995).
Aktivitas enzim juga
dipengaruhi oleh kofaktor, yaitu komponen non protein dari enzim yang
menentukan aktivitas katalitiknya. Kofaktor ini dapat berupa senyawa organik
yang disebut koenzim atau senyawa non organik seperti ion logam Fe2+,
Mn2+, Zn2+ dan Ca2+ (Lehningher, 1995).
Ion-ion logam ini umumnya ditambahkan dalam bentuk garam,
misalnya ion Ca2+ dalam bentuk garam klorida. Kation-kation lain
yang telah diketahui dapat mengaktifkan enzim adalah Na+, K+,
Rb+, Cs+, Mg2+, Zn2+, Cu2+,
Fe2+, Co2+, Ni2+, dan Al3+ (Palmer,
1995).
2.2 Enzim Bromelain
Enzim bromelain adalah suatu protease
sulfihidril (-SH) yang sudah menjadi tidak aktif, disebabkan karena
terbentuknya ikatan disulfida antara enzim-enzim. Secara relatif hal ini dapat
diatasi dengan penambahan senyawa pereduksi seperti sistein, markaptoetanol,
glukation, dan vitamin C. Selain dengan cara penambahan senyawa pereduksi juga
dapat distabilkan dengan cara amobilisasi enzim.
Aktivitas enzim bromelain dipengaruhi oleh
beberapa inhibitornya seperti diisopropilfosfofluoridat(DIPF), yang dilaporkan
oleh Murachi T dan Yasui.M pada tahun 1965 dapat menghambat aktivitas katalitik
dari enzim bromelain. Disamping itu Husain S dan Lowe G juga meneliti bagian
aktif dari enzim bromelain, secara sederhana digambarkannya deretan asam amino
pada pusat aktif dari enzim bromelain sebagai berikut:
Cys – Gly – Ala – Cys* - Trp
Dalam hal ini Cys* merupakan bagian aktif dari
bromelain.
Enzim bromelain bekerja mengkatalisis reaksi hidrolisis, yaitu
reaksi yang melibatkan air pada ikatan spesifik dengan substrat, sehingga juga
dapat digolongkan sebagai enzim hidrolase. Protease dinamakan juga peptidase, karena memecah ikatan peptida pada rantai polipeptida (Fuadi, 2007).
Ada dua macam peptidase,
yaitu endopeptidase dan eksopeptidase. Endopeptidase adalah enzim yang mengkatalisis pemecahan ikatan peptida
pada bagian dalam rantai polipeptida. Eksopeptidase adalah enzim yang mengkatalisis
pemecahan ikatan peptida pada ujung rantai polipeptida (Wirahadikusumah, 1989).
BAB III
PEMBAHASAN DAN DISKUSI
3.1
Isolasi dan Pemurnia Enzim Bromelin
50
gram daging buah nenas dipotong kecil, diblender,bersama buffer fosfat (
mengandung 5 mM EDTA) dingin pH 7 selama
30 menit diperas, disaring sehingga
diperoleh cairan jernih. Filtrat disentrifuga selama 10 menit dengan kecepatan
13.000 rpm . pada temperature 4 C
sehingga dihasilkan supernatant (ekstrak kasar Bromelin )
Untuk
pemurnian dilakukan menurut Sebayang
(2006) : Ke dalam cairan ini ditambahkan alcohol 80% dengan perbandingan
1:4, Biarkan selama satu malam pada suhu
6 C agar enzim mengendap.
Selanjutnya dilakukan sentrifugasi pada kecepatan 13.000 rpm selama 10 menit
pada suhu 10 C. Endapan yang diperoleh dikeringkan dengan cara pengeringan beku. Diperoleh
serbuk yang merupakan enzim bromelain kasar kemudian dilarutkan dalam buffer
fosfat pH 7,0 disimpan pada 4 C. larutan enzim diuji aktivitas dan kadar
proteinnya.
3.2
Pengujian Aktivitas Proteolitik Enzim Bromelin
Aktivitas enzim bromelin ditentukan berdasarkan
metode Murachi dengan menggunakan substrat kasein. Sebanyak 0,5 ml kasein
(10mg/ml) direaksikan dengan 0,5 ml enzim dan 8 ml larutan buffer fosfat. Untuk
mendapatkan kondisi optimum aktivitas enzim, maka dibuat variasi suhu, pH, serta lama inkubasi terhadap aktivitas
enzim. Setelah diinkubasi, ke dalam campuran
reaksi
ditambahkan 1 ml larutan asam trikloroasetat
30%. Panaskan lagi pada suhu yang sama selama 30 menit. Protein yang
terkoagulasi dipisahkan dengan kertas saring. Filtrat yang diperoleh diukur
absorbansinya pada panjang gelombang 280 nm. Sebagai kontrol digunakan enzim
yang telah dimatikan aktivitasnya melalui pemanasan. Unit aktivitas dinyatakan dalam
1 mikro mol tirosin yang dihasilkan per ml enzim dalam15 menit pada kondisi
percobaan. Untuk
mengetahui
jumlah tirosin yang dihasilkan digunakan kurva standar tirosin
Aktivitas
enzim sering digunakan dalam satuan unit (U) yaitu jumlah enzim yang
mengkatalisis 1 mikromol substrat
permenit pada kondisi tertentu.
Isolasi enzim dilakukan dengan metode
ekstraksi. Tujuan ekstraksi adalah untuk mengeluarkan enzim dari dalam sel dan
jaringan buah nanas. Perlu diperhatikan bahwa untuk memperoleh enzim yang berkemampuan/aktivitas
bagus bahan /sumber harus dipilih yang memenuhi persyaratan yang baik. Selama
proses berlangsung diusahakan suhu dijaga agar tidak melebihi 10 C dan perlu
ditambah larutan penyangga dengan pH 7,5, pada saat pemblenderan yang merupakan
ekstraksi secara fisik. Kemudian dilakukan sentrifugasi untuk memisahkan enzim
kasar dari sisa-sisa jaringan nanas. Hasil sentrifugasi akan didapat endapan
yaitu sisa-sisa jaringan nanas dan supernatant yang merupakan enzim kasar
bromelain.
BAB
IV
KESIMPULAN
1. Aktivitas
enzim bergantung pada kondisi suhu, pH dan konsentrasi dll
Menurut
Sebayang (2006) temperatur optimal enzim bromelin adalah 55 C, sedangkan untuk pH optimum pada pH 7,5
dan waktu inkubasi 15 menit.
2.
Enzim yang diekstraksi dengan cara pemblenderan buah nanas adalah
enzim bromelain yang masih kasar dan bebas.
3.
Enzim
bromelain merupakan enzim yang penting karena aplikasinya luas dan bernilai
komersil yang tinggi.
DAFTAR PUSTAKA
Bala,
M et all. 2012. Bromelain Production :
Current Trends and Perspective. J. Achives des sciences vol. 65. No. 11 (369-386)
Oktavia,
R. , Suharti, Susanti, E. 2012. Karakterisasi Enzim Bromelin yang Diamobilisasi
dalam Agar Komersial. Jurusan Kimia FMIPA
Universitas Negri Malang
Sebayang, F.,
2006. Pengujian Stabilitas Enzim
Bromelin yang Diisolasi dari Bonggol Buah Nanas serta imobilisasi menggunakan
Kappa Karagenan . J.Sains Kimia Vol. 10 no.1
Wuryanti, 2004. Isolasi dan Penentuan Aktivitas Spesifik Enzim Bromelin
dari Buah Nanas (Ananas comosus .L.)
Artikel Jurusan Kimia FMIPA UNDIP. JKSA Vol 7
No 3
Pustaka yulinah bukunya apa ya?
BalasHapusPustaka yulinah bukunya apa ya?
BalasHapus